Momen Haru di Musi Rawas! Warga Beri Gethuk Buatan Sendiri ke Kapolda Sumsel Usai Terima Rumah Baru

ist

Musi Rawas, bidiksumsel.com – Sebuah momen penuh haru dan kehangatan mewarnai rangkaian kunjungan kerja Kapolda Polda Sumatera Selatan di Kabupaten Musi Rawas pada Rabu (29/4/2026). Di tengah agenda resmi yang padat, sebuah kejadian sederhana justru menjadi sorotan, ketika seorang warga menyerahkan bingkisan tradisional sebagai ungkapan rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya.

Kunjungan kerja yang dipimpin langsung oleh Kapolda Sumsel, Sandi Nugroho, berlangsung dalam rangka menghadiri sejumlah agenda strategis yang berkaitan dengan keamanan dan pelayanan masyarakat. Di antaranya adalah pelaksanaan Apel Sabuk Kamtibmas, peresmian Gedung SPKT, serta pelaksanaan berbagai kegiatan bakti sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

Namun, di sela rangkaian kegiatan formal tersebut, perhatian publik justru tertuju pada momen sederhana yang sarat makna. Saat prosesi penyerahan kunci rumah secara simbolis kepada warga penerima bantuan bedah rumah di Desa Wonosari, Kecamatan Megang Sakti, seorang warga bernama Jumono dengan penuh rasa haru mendekati Kapolda.

Dengan langkah perlahan dan wajah penuh syukur, Jumono menyerahkan sebuah bingkisan sederhana berupa gethuk, makanan tradisional khas Jawa, yang dibuatnya sendiri di rumah. Gethuk tersebut bukan sekadar makanan, melainkan simbol rasa terima kasih atas bantuan bedah rumah yang telah mengubah kondisi hidupnya setelah terdampak musibah kebakaran.

Peristiwa spontan tersebut menciptakan suasana emosional yang terasa hangat di tengah kerumunan masyarakat dan pejabat yang hadir. Banyak pihak yang menyaksikan momen itu mengaku tersentuh oleh ketulusan warga yang memilih menyampaikan rasa syukur dengan cara sederhana namun bermakna mendalam.

Program bedah rumah yang dilaksanakan jajaran Polda Sumatera Selatan merupakan bagian dari implementasi program Polri Presisi, yang tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga memperhatikan aspek kesejahteraan sosial masyarakat. Program tersebut menyasar warga yang terdampak bencana maupun masyarakat kurang mampu agar dapat kembali memiliki hunian layak.

Kapolres Musi Rawas, Agung Adhitya Prananta, mengungkapkan bahwa Kapolda Sumsel menyambut pemberian tersebut dengan penuh kehangatan. Bahkan, menurutnya, bingkisan sederhana itu menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga.

“Beliau sangat terharu dan bahkan membawa gethuk tersebut kembali ke Palembang. Ini bukan sekadar makanan, tetapi simbol hubungan emosional antara Polri dan masyarakat,” ujar Agung.

Menurutnya, momen tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pendekatan humanis yang dilakukan oleh kepolisian mampu menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat. Bukan hanya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai pihak yang hadir memberikan solusi atas kesulitan yang dihadapi warga.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumatera Selatan, Nandang Mu’min Wijaya, menegaskan bahwa kejadian tersebut mencerminkan keberhasilan pendekatan humanis yang selama ini dijalankan oleh institusi kepolisian.

Ia menyebut bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat tidak hanya sebatas menjaga keamanan, tetapi juga memastikan manfaat nyata dapat dirasakan langsung oleh warga.

“Kami ingin memastikan kehadiran Polri benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ketulusan warga seperti ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbuat baik dan meningkatkan kualitas pelayanan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nandang menambahkan bahwa kegiatan bakti sosial seperti program bedah rumah merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mendukung program pemerintah, khususnya dalam menjaga stabilitas sosial serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah.

Program bedah rumah sendiri menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian kepolisian terhadap warga yang terdampak musibah, seperti kebakaran yang sebelumnya dialami oleh Jumono. Kehadiran hunian baru yang layak tidak hanya memberikan rasa aman secara fisik, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi keluarga penerima bantuan.

Di sisi lain, kegiatan seperti Apel Sabuk Kamtibmas dan peresmian Gedung SPKT yang dilakukan dalam kunjungan tersebut menunjukkan bahwa upaya peningkatan pelayanan publik terus dilakukan secara berkelanjutan. Gedung SPKT yang baru diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat, khususnya dalam hal pelaporan dan penanganan kasus.

Momen pemberian gethuk oleh Jumono pada akhirnya menjadi simbol kuat kedekatan antara aparat kepolisian dan masyarakat. Sebuah tindakan sederhana yang justru memiliki makna mendalam, karena mencerminkan hubungan emosional yang terbangun dari rasa empati dan kepedulian.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa tugas kepolisian tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan ketertiban, tetapi juga menyangkut nilai kemanusiaan. Ketika aparat hadir dengan empati dan kepedulian nyata, maka kepercayaan masyarakat pun akan tumbuh dengan sendirinya.

Melalui kegiatan sosial yang berkelanjutan, jajaran kepolisian di Sumatera Selatan diharapkan mampu terus memperkuat hubungan harmonis dengan masyarakat. Tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menghadirkan harapan bagi warga yang membutuhkan, sebagaimana tercermin dalam kisah sederhana antara Jumono dan gethuk yang kini menjadi simbol kehangatan hubungan antara Polri dan rakyat. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *