PALI  

Jalan Santai Berujung Luka Robek, Warga PALI Diserang Anjing Liar!

fhoto : ist

PALI, bidiksumsel.com – Insiden serangan anjing liar kembali menimbulkan kepanikan warga Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Seorang perempuan bernama Tika, warga Desa Raja Barat, menjadi korban terbaru setelah digigit anjing liar saat sedang berjalan santai sekitar pukul 06.00 WIB, Kamis (10/7/2025).

Akibat gigitan tersebut, Tika mengalami luka serius di bagian kaki dan harus segera dilarikan ke Puskesmas Tanah Abang. Namun, setibanya di sana, keluarga korban harus menelan kenyataan pahit : stok vaksin rabies di Puskesmas sedang kosong. Demi keselamatan korban, Tika kemudian dirujuk ke Rumah Sakit di Kota Prabumulih untuk mendapat penanganan lanjutan.

Yang lebih memprihatinkan, di hari yang sama, dua warga lainnya masing-masing dari Desa Muara Sungai dan Desa Raja juga mengalami serangan serupa dari anjing liar yang berkeliaran bebas.

Hasil penelusuran lapangan mengungkapkan bahwa kasus gigitan anjing liar bukanlah hal baru di Tanah Abang. Bahkan menurut Herman, salah satu warga setempat, jumlah korban gigitan sudah mencapai puluhan orang dalam beberapa minggu terakhir. Ia menyebut, banyak warga enggan melapor secara resmi.

“Banyak yang hanya berobat sendiri atau diam saja karena takut ribet. Anjingnya juga berbeda-beda, ada yang hitam-putih, ada juga yang cokelat kemerahan,” ungkap Herman.

Kepala Desa Raja, Aswin Markusuma, membenarkan bahwa warganya telah melaporkan serangkaian insiden gigitan. Pihak desa, kata dia, telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengambil tindakan.

“Kami terus menghimbau warga agar waspada. Anak-anak jangan dibiarkan bermain jauh dari pengawasan. Kami tidak ingin ada korban lagi,” tegas Aswin.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Tanah Abang, dr. Ario Fachri Amrusi, menyebut saat ini sudah tiga warga yang tercatat mendapatkan penanganan medis akibat gigitan anjing liar. Salah satunya sudah divaksin rabies, sedangkan lainnya harus dirujuk karena keterbatasan fasilitas dan stok vaksin.

“Kami tetap siap menangani korban, meski untuk vaksin rabies kami harus menunggu pasokan dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Sebagian pasien kami rujuk ke RS Pratama atau rumah sakit lain terdekat,” jelasnya.

Langkah Eliminasi dan Pencegahan

Tindakan pengendalian pun mulai dilakukan oleh UPTD Puskeswan Wilayah II Tanah Abang – Dinas Pertanian Kabupaten PALI. Kepala UPTD, Yudi, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan langkah eliminasi terhadap anjing liar.

“Sejak menerima laporan dua minggu lalu, kami sudah turun dan melakukan eliminasi beberapa ekor anjing liar. Ini akan kami lanjutkan secara terukur dan berkelanjutan,” ungkap Yudi.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membiarkan hewan peliharaan seperti anjing, kucing, atau kera berkeliaran tanpa pengawasan. Pemilik juga diminta segera memvaksin hewan peliharaan mereka di Puskeswan terdekat.

“Vaksinasi rabies ini penting untuk memutus mata rantai penularan. Hewan peliharaan yang tidak divaksin bisa jadi sumber penularan bagi manusia,” katanya.

Sebagai informasi, Kabupaten PALI memiliki dua UPTD Puskeswan: Wilayah I di Kecamatan Talang Ubi dan Wilayah II di Kecamatan Tanah Abang. Keduanya melayani vaksinasi rabies dan tindakan penanganan terhadap hewan penular rabies (HPR).

Tokoh Masyarakat Desak Tindakan Cepat

Melihat eskalasi serangan yang mulai masif, tokoh masyarakat PALI, Muktar Jayadi, SH, mendesak pihak pemerintah desa dan instansi terkait untuk bergerak cepat dan tegas.

“Jangan tunggu korban terus bertambah. Ini sudah darurat. Pemerintah desa harus segera membuat laporan resmi dan meminta intervensi Dinas Kesehatan serta Dinas Pertanian secara aktif,” tegas Muktar.

Ia juga mendorong agar Pemkab PALI menyediakan posko darurat vaksin rabies di wilayah-wilayah rawan dan memastikan distribusi vaksin tepat sasaran dan merata.

Hingga berita ini diturunkan, suasana di Desa Raja Barat dan beberapa desa tetangga masih diliputi kekhawatiran. Warga diimbau tetap waspada, menghindari jalan sepi saat pagi atau sore hari, dan segera melapor jika melihat anjing liar agresif berkeliaran.

Kolaborasi aktif antara warga, pemerintah desa, dinas teknis, dan tenaga medis kini menjadi kunci untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

“Ini bukan hanya soal hewan, tapi soal nyawa,” pungkas Muktar. (es)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *