Proyek Paving Block Rp199 Juta di PALI Sarat Kejanggalan, Warga Duga Ada Manipulasi Spesifikasi
PALI, bidiksumsel.com – Proyek pembangunan pemasangan paving block di SD Negeri 5 Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), kini menjadi sorotan tajam publik. Di balik anggaran yang mencapai hampir Rp200 juta, sejumlah kejanggalan terungkap, mulai dari lokasi proyek yang tidak sesuai administrasi, hingga dugaan manipulasi spesifikasi material.
Proyek ini merupakan program Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) PALI dengan nilai kontrak Rp199.520.000, tercatat dalam SPK bernomor 028/64/SPK/PR/DPKP/V/2025 tertanggal 16 Mei 2025. Namun alih-alih berlokasi di Desa Tanah Abang sebagaimana tertera di papan proyek, faktanya pekerjaan justru dilakukan di SDN 5 yang terletak di Desa Raja Barat wilayah administrasi yang berbeda.
Paving Tipis dan Mudah Pecah, Diduga Tak Sesuai Spek
Tim media yang meninjau lokasi pada Rabu (2/7/2025) menemukan fakta-fakta mencengangkan. Ketebalan paving block yang digunakan hanya sekitar 6 cm, padahal standar umum untuk lalu lintas pejalan kaki di lingkungan sekolah adalah 8 cm.
Tak hanya itu, kondisi paving pun sangat memprihatinkan. Banyak paving block yang mudah pecah, bahkan sudah retak sebelum dipasang. Beberapa di antaranya tetap digunakan meski dalam kondisi rusak, seakan kualitas bukan menjadi prioritas.
Permukaan lahan tempat pemasangan paving juga tidak diratakan dengan baik. Kontur tanah yang bergelombang membuat hasil akhir pemasangan tampak kasar dan membahayakan siswa yang beraktivitas di sekolah tersebut.
Pengawasan Lemah, PPTK Justru Rencanakan Addendum Tambahan Volume
Saat dikonfirmasi, dua orang pengawas dari Dinas Perkim yang ada di lapangan mengakui bahwa paving yang bergelombang seharusnya dibongkar dan diperbaiki. Namun, hingga kunjungan dilakukan, aktivitas proyek tetap berjalan tanpa ada tanda-tanda perbaikan.
Sementara itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Resti, saat dikonfirmasi via WhatsApp, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari pengawas tentang ketidaksesuaian spesifikasi. Ia berdalih akan mengatasi kekurangan spesifikasi ketebalan dengan “menambah volume pekerjaan melalui mekanisme addendum”.
“Yang pecah sudah kami suruh buang dan ganti. Pihak ketiga menyanggupi. Paving tebal memang kami hitung lagi untuk tambah volume,” ujar Resti.
Pernyataan tersebut justru semakin menimbulkan kecurigaan publik. Addendum seharusnya menjadi solusi terhadap kebutuhan pekerjaan tambahan, bukan sebagai perbaikan atas pelanggaran teknis awal yang dilakukan kontraktor.
Warga Curiga Ada Unsur Kesengajaan untuk Cari Untung
Seorang warga Desa Raja Barat menyebut bahwa proyek ini tampak seperti upaya terorganisir untuk meraup keuntungan dari spesifikasi palsu.
“Kalau dari awal mereka pakai paving tipis, lalu setelah ketahuan baru mau tambah volume, itu akal-akalan saja. Kalau tak ketahuan? Pasti dibiarkan,” kata pria paruh baya yang anaknya bersekolah di SDN 5 Tanah Abang.
Ia mengaku kecewa karena uang negara digunakan tanpa pertimbangan mutu, apalagi proyek ini menyasar lingkungan pendidikan yang seharusnya aman dan berkualitas.
Papan proyek yang terpampang di lokasi juga menuai kritik. Tak ada keterangan jelas mengenai waktu pelaksanaan maupun target penyelesaian. Ini dinilai bertentangan dengan prinsip transparansi publik.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor pelaksana, CV. Chandra Buana Perkasa, belum memberikan tanggapan atau klarifikasi atas temuan lapangan.
Desakan Audit dan Tindakan APH Menguat
Warga mendesak aparat penegak hukum (APH) baik dari kepolisian maupun kejaksaan untuk segera turun tangan mengaudit proyek ini secara menyeluruh. Mereka khawatir praktik manipulatif seperti ini akan menjadi pola sistemik jika dibiarkan.
“Ini harus diusut. Jangan sampai tiap proyek pemerintah jadi ajang untung-untungan kontraktor nakal. Masyarakat yang menanggung akibatnya,” tegas seorang ibu rumah tangga yang turut memantau pengerjaan proyek di sekolah tersebut.
Paving block yang mudah pecah dan bergelombang bukan hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga membahayakan keselamatan para siswa. Terpeleset, jatuh, atau cedera adalah potensi yang nyata terjadi bila proyek ini tidak segera diperbaiki dengan benar. (es)










