PALI, bidiksumsel.com – Dalam era digital yang serba cepat dan tak jarang menyesatkan, siapa yang bisa jadi tameng sekaligus motor perubahan di ruang siber? Jawabannya bisa jadi datang dari tempat yang tak disangka : Pramuka.
Itulah semangat yang tercermin dalam Kursus Pengelolaan Dewan Kerja yang digelar oleh Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), di Bumi Perkemahan Simpang Raja, Kecamatan Talang Ubi, baru-baru ini. Dengan menghadirkan Adv. Joko Sadewo, SH, MH, seorang advokat sekaligus wartawan senior, kegiatan ini menjadi momen refleksi sekaligus pembekalan penting bagi para anggota Pramuka.
Media sosial kini bukan lagi sekadar hiburan atau alat komunikasi. Ia telah menjadi arena pertarungan narasi dan panggung pencitraan termasuk bagi organisasi seperti Pramuka.
Menurut Joko Sadewo, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PALI, Pramuka punya tanggung jawab besar dalam membentuk citra positif di masyarakat.
“Media sosial bukan tempat untuk gagah-gagahan atau sekadar pamer. Ini ruang strategis untuk memperlihatkan kepedulian, kreativitas, serta nilai-nilai kepemimpinan muda,” jelas Joko di hadapan puluhan peserta.
Tiga Pesan Kunci dari Joko Sadewo untuk Pramuka PALI
- Bangun Citra Positif Organisasi
-
Setiap unggahan mencerminkan identitas organisasi.
-
Pramuka harus menunjukkan peran aktif di masyarakat, bukan sekadar eksis di layar kaca.
-
- Lawan Hoaks, Sebarkan Kebenaran
-
“Verifikasi sebelum membagikan. Jangan jadi bagian dari masalah informasi,” tegasnya.
-
Anggota Pramuka diharapkan menjadi duta literasi digital di lingkungannya masing-masing.
-
- Etika Digital Harus Diutamakan
- Konten edukatif dan positif harus menjadi prioritas.
- Hindari ujaran kebencian, fitnah, atau postingan provokatif yang bisa memecah belah.
Pramuka = Agen Perubahan di Ruang Digital
Bukan hal baru jika gerakan Pramuka dikenal sebagai pencetak kader berkarakter. Namun di era sekarang, karakter saja tak cukup. Perlu kecakapan digital yang cerdas, bijak, dan bertanggung jawab.
Melalui kursus ini, Kwartir Cabang PALI berupaya membekali para anggotanya dengan pemahaman dan praktik langsung untuk mengelola akun media sosial secara profesional. Artinya, setiap anggota Dewan Kerja harus siap menyusun konten yang informatif, menarik, sekaligus bermuatan nilai-nilai kepramukaan.
Dengan menghadirkan narasumber dari kalangan profesional yang juga aktif di dunia advokasi dan media, pelatihan ini menjadi kolaborasi strategis. Tak hanya teori, tapi juga praktik nyata dari lapangan.
Sebagai wartawan senior, Joko Sadewo memahami betul pentingnya kontrol narasi publik. Sebagai advokat, ia paham resiko hukum dari penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Kombinasi ini membuat pesannya sangat relevan untuk generasi muda Pramuka.
Kursus ini bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi muda yang mampu memimpin di dunia nyata dan dunia digital. Joko Sadewo berharap, setelah pelatihan ini, setiap peserta menjadi konten kreator yang mampu menyebar kebaikan, bukan kebencian.
“Jadilah pelopor, bukan pengikut tren negatif. Karena Pramuka sejati adalah mereka yang berani berbeda untuk kebaikan,” pungkas Joko. (es)










