Bali, bidiksumsel.com – Langkah pertama memasuki Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, pada Selasa (21/7/2026), menghadirkan kesan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Jalan desa membentang lurus, bersih, dan teduh, udara sejuk terasa begitu menenangkan. Deretan rumah adat berdiri seragam dengan halaman yang tertata rapi. Tak terdengar klakson kendaraan, tak terlihat sampah yang mengotori sudut-sudut desa, yang paling membekas justru bukan kemegahan bangunannya, melainkan senyum tulus warga yang menyapa setiap wisatawan seolah menyambut tamu di rumah sendiri.
Di Desa Penglipuran, wisata bukan sekadar tentang tempat yang indah. Desa ini menunjukkan bahwa destinasi kelas dunia dibangun melalui tata kelola yang baik, budaya yang tetap lestari, lingkungan yang terjaga, dan masyarakat yang menjadi pelaku utama. Pengalaman tersebut memunculkan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi penting: jika Bali mampu melakukannya, mengapa Sumatera Selatan belum?
Sesungguhnya, Sumatera Selatan memiliki modal yang tidak kalah besar. Sungai Musi sebagai urat nadi peradaban Sriwijaya, Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Pulau Kemaro, Kampung Al Munawar, Rumah Kembar, Danau Ranau, hingga Gunung Dempo merupakan kekayaan yang sulit ditemukan di daerah lain. Ditambah lagi dengan rumah limas, kain songket, seni tradisi, dan kuliner khas seperti pempek yang telah dikenal hingga mancanegara.
Namun, potensi tersebut masih berkembang secara terpisah. Wisatawan datang ke satu objek, kemudian pulang tanpa memperoleh pengalaman yang utuh. Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Bali masih menjadi provinsi dengan kunjungan wisatawan tertinggi di Indonesia dan menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi, berkembangnya UMKM, dan terbukanya lapangan kerja.
Artinya, tantangan Sumsel bukanlah kekurangan destinasi wisata, melainkan belum memiliki tata kelola yang mampu menyatukan seluruh potensi tersebut.
Pelajaran terbesar dari Desa Penglipuran adalah keterlibatan masyarakat. Hampir seluruh warga menjaga kebersihan, melestarikan budaya, mengelola homestay, menjual kerajinan, hingga menjadi pemandu wisata. Ketika wisata berkembang, manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat. Inilah konsep pariwisata yang berkelanjutan.
Model tersebut dapat diadaptasi di Sumsel melalui tiga langkah nyata.
Pertama, membangun Koridor Wisata Sriwijaya. Kawasan Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Kampung Al Munawar, Pulau Kemaro, dan sentra songket dihubungkan dalam satu paket wisata terpadu. Wisatawan cukup membeli satu tiket untuk menikmati pelayaran Sungai Musi, pertunjukan budaya Sriwijaya, wisata kuliner, museum, hingga sentra UMKM. Dengan konsep ini, lama tinggal wisatawan akan meningkat, demikian pula perputaran ekonomi masyarakat.
Kedua, menerapkan program Satu Desa Satu Ikon Wisata. Setiap desa wisata di Sumsel didorong memiliki identitas yang kuat. Desa di kawasan Gunung Dempo dapat mengembangkan wisata kopi dan homestay, desa sekitar Danau Ranau fokus pada ekowisata, sedangkan Kampung Al Munawar menjadi pusat wisata sejarah dan budaya. Cara ini akan menciptakan karakter yang berbeda pada setiap destinasi sehingga tidak saling bersaing, tetapi saling melengkapi.
Ketiga, membangun Digital Tourism Sumsel. Setiap destinasi dilengkapi kode QR yang berisi sejarah, peta digital, jadwal pertunjukan budaya, reservasi homestay, hingga produk UMKM yang dapat dibeli secara daring. Wisatawan memperoleh informasi dengan mudah, sementara pelaku usaha lokal mendapat akses pasar yang lebih luas.
Tiga gagasan tersebut perlu didukung dengan standar pelayanan yang sama di seluruh destinasi. Kebersihan kawasan, fasilitas umum yang layak, papan informasi yang jelas, keamanan, serta keramahan masyarakat harus menjadi identitas baru pariwisata Sumsel. Desa Penglipuran telah membuktikan bahwa hal-hal sederhana tersebut justru menjadi alasan wisatawan datang kembali.
Promosi juga harus dilakukan secara konsisten. Jika Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, Sumsel perlu memperkuat citra sebagai “Bumi Sriwijaya: Negeri Sungai, Budaya, dan Ekowisata”. Identitas tersebut harus hadir dalam setiap festival, promosi digital, hingga kolaborasi dengan kreator konten sehingga mudah dikenali wisatawan.
Keberhasilan Desa Penglipuran membuktikan bahwa destinasi kelas dunia tidak selalu dibangun dengan investasi yang besar. Yang lebih penting adalah komitmen menjaga budaya, memberdayakan masyarakat, dan mengelola potensi secara berkelanjutan.
Sumatera Selatan sesungguhnya telah memiliki semua modal untuk mewujudkan hal tersebut. Kini saatnya mengubah paradigma, dari sekadar membangun objek wisata menjadi membangun ekosistem pariwisata. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama, budaya tetap lestari, dan tata kelola berjalan secara konsisten, maka Sumsel tidak hanya akan menjadi tujuan wisata baru Indonesia, tetapi juga menjadi bukti bahwa kejayaan Sriwijaya dapat bangkit kembali melalui pariwisata yang berkelas dunia dan berakar pada kearifan lokal. (dkd)












