Prabumulih, bidiksumsel.com – Suasana duka menyelimuti Jalan A. Roni, Kelurahan Pasar II, Kota Prabumulih, Sabtu (28/02/2026). Pemerintah Kota Prabumulih secara resmi melepas salah satu aparatur terbaiknya, almarhumah Junaidah, S.E., M.M., binti H. Abdul Wafah, melalui prosesi pemakaman kedinasan yang berlangsung khidmat dan penuh penghormatan.
Wali Kota Prabumulih, Arlan, bertindak langsung sebagai Inspektur Upacara dalam prosesi tersebut. Kehadiran orang nomor satu di Kota Nanas itu menjadi simbol penghargaan tinggi atas dedikasi dan pengabdian almarhumah selama mengemban tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Prabumulih.
Upacara pemakaman kedinasan dilaksanakan di rumah duka dengan tata upacara resmi pemerintahan. Barisan ASN berdiri tegak memberi penghormatan terakhir. Hening cipta yang dipimpin inspektur upacara menambah suasana haru, seolah menjadi jeda refleksi atas perjalanan pengabdian yang telah ditunaikan almarhumah semasa hidupnya.
Turut hadir dalam prosesi tersebut Wakil Wali Kota Prabumulih, Franky Nasril, Sekretaris Daerah Kota Prabumulih, para Asisten, serta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Prabumulih. Kehadiran jajaran pejabat daerah menunjukkan solidaritas dan rasa kehilangan yang dirasakan bersama.
Dalam amanatnya, Arlan menyampaikan belasungkawa yang mendalam, tidak hanya sebagai kepala daerah tetapi juga atas nama pribadi dan keluarga. Ia menegaskan bahwa kepergian almarhumah merupakan kehilangan besar bagi Pemerintah Kota Prabumulih.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kota Prabumulih, kami menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah husnul khatimah dan segala pengabdian beliau menjadi amal ibadah di sisi Allah SWT,” ujar Arlan dengan suara penuh empati.
Menurutnya, almarhumah dikenal sebagai sosok ASN yang berdedikasi, disiplin, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Pengabdian yang telah diberikan menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung roda pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat.
Upacara kedinasan bukan sekadar seremoni formal. Lebih dari itu, prosesi tersebut merupakan bentuk penghormatan negara atas jasa dan pengabdian seorang abdi negara. Di tengah suasana haru, penghormatan terakhir diberikan dengan penuh ketertiban dan kesakralan.
Prosesi berjalan lancar dan tertib, mulai dari pembacaan riwayat hidup singkat, penghormatan pasukan, hingga doa bersama yang dipanjatkan untuk almarhumah. Keluarga yang ditinggalkan tampak tegar menerima kehadiran para pejabat dan rekan kerja yang datang memberikan dukungan moral.
Kepergian almarhumah Junaidah menjadi pengingat bahwa setiap pengabdian memiliki nilai dan makna yang tak terhingga. Bagi Pemerintah Kota Prabumulih, jasa yang telah ditorehkan akan selalu menjadi bagian dari sejarah perjalanan birokrasi dan pelayanan publik di kota ini.
Di akhir prosesi, doa dipanjatkan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan. Sementara itu, semangat pengabdian yang telah dicontohkan almarhumah diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh ASN untuk terus bekerja dengan integritas dan dedikasi tinggi demi kemajuan Kota Prabumulih. (tinus)













