OKI  

Hanya 313 dari 9.622 Masjid di Sumsel yang Tersertifikasi ASUH, Bagaimana Nasib Daging Kurban Kita?

fhoto : ist

OKI, bidiksumsel.com – Di tengah semarak persiapan menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, suasana Masjid Jamik Agung Sholihin, Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), tampak berbeda pada Kamis pagi, 29 Mei 2025. Ratusan peserta, utusan dari berbagai masjid di OKI, tampak antusias mengikuti pelatihan yang tak biasa: menjadi Juru Sembelih Halal (Juleha).

Sebanyak 250 orang hadir bukan hanya untuk memperdalam pengetahuan agama, tetapi untuk menjawab kebutuhan mendesak: memastikan bahwa penyembelihan hewan kurban di Sumsel dilakukan sesuai standar syariat dan kesehatan.

Pelatihan ini digelar atas kolaborasi strategis antara Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Sumsel dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Sumsel, serta didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi Sumsel, Pemerintah Kabupaten OKI, Majelis Ulama Indonesia (MUI) OKI, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Juleha Sumsel, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) OKI.

“Setiap masjid harus punya minimal satu Juleha. Itu tujuan besar kami,” tegas Dr. drh. Jafrizal, MM, Ketua Harian KAGAMA Sumsel yang juga mantan Ketua PDHI Sumsel. Ia berbicara lantang di depan para peserta yang duduk menyimak dengan penuh perhatian.

Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya soal keterampilan menyembelih, tetapi juga tentang tanggung jawab spiritual dan sosial. Para peserta tidak hanya diajarkan teknik penyembelihan sesuai syariat, tapi juga edukasi tentang prinsip ASUH Aman, Sehat, Utuh, dan Halal yang kini menjadi standar emas dalam proses pemotongan hewan kurban.

“Bukan cuma halal, tapi juga sehat dan aman,” terang Jafrizal. Ia menjelaskan, banyak masyarakat belum menyadari bahwa daging kurban bisa menjadi sumber penyakit jika hewan yang disembelih tidak diperiksa kesehatannya, atau jika penyembelihan dilakukan secara sembarangan.

Daging yang layak konsumsi harus bebas dari kontaminasi bahan kimia dan bakteri, berasal dari hewan sehat, dan ditangani secara higienis. Bahkan, penggunaan kantong plastik daur ulang yang masih jamak ditemukan di lapangan dianggap sebagai ancaman kesehatan masyarakat.

“Bayangkan kalau anak-anak makan daging kurban yang sudah tercemar bakteri karena wadahnya tidak steril. Ini bukan soal agama saja, tapi juga kesehatan generasi kita,” katanya penuh semangat.

Data yang Mengejutkan : Ribuan Masjid Belum Tersentuh Pemeriksaan

Masalah terbesar saat ini adalah keterbatasan pengawasan. Dari total 9.622 masjid di seluruh Sumatera Selatan, hanya sekitar 313 yang dapat dijangkau petugas saat pelaksanaan kurban. Di OKI, dari 978 masjid, hanya 40 lokasi yang berhasil diperiksa tahun lalu.

“Berarti, 938 masjid belum tersentuh sama sekali,” ungkap Jafrizal prihatin.

Ini berarti jutaan umat Islam di Sumsel berpotensi menerima daging kurban yang belum terjamin kualitas dan kehalalannya. Maka, pelatihan Juleha adalah langkah strategis untuk menutup celah besar ini.

Pelatihan ini membekali peserta bukan hanya sebagai eksekutor penyembelihan, tapi juga sebagai agen edukasi dan pengawasan di lapangan. Para Juleha didorong untuk memastikan tempat penyembelihan memenuhi syarat Permentan No. 114 Tahun 2014 dan prinsip ASUH.

“Jika satu masjid punya satu Juleha yang paham standar, maka kita bisa ubah wajah pelaksanaan kurban di Sumsel,” ucap Jafrizal penuh harap.

Para peserta juga diajarkan mengenali gejala penyakit hewan seperti antraks, PMK, atau cacing hati. Hal ini penting agar Juleha bisa mencegah daging dari hewan sakit masuk ke rantai konsumsi masyarakat.

Ketua panitia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini. Ia berharap pelatihan semacam ini bisa terus digelar secara berkelanjutan, menjangkau daerah-daerah lain di Sumsel.

“Tidak bisa hanya satu kali pelatihan menjelang Idul Adha. Ini harus jadi gerakan berkelanjutan. Kita harus jamin umat mendapatkan daging kurban yang sah, sehat, dan berkualitas,” katanya.

Dengan semangat kolaborasi dan tekad memperbaiki sistem penyembelihan kurban, Sumsel sedang menapaki jalur baru: kurban bukan hanya ibadah, tapi juga bentuk tanggung jawab sosial dan kesehatan masyarakat.

Maka dari itu, langkah melatih Juleha bukan hanya solusi teknis, tapi juga bentuk cinta kepada umat. Karena sesungguhnya, di balik tetesan darah hewan kurban, tersimpan amanah besar untuk menjaga keberkahan dan keselamatan bersama. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *