Pertamina EP Prabumulih Temukan Potensi 2.068 Barel Minyak per Hari dari Sumur LBK-031

ist

Pertamina EP Prabumulih Tambah Potensi Produksi, Sumur Infill LBK-031 Mengalirkan 2.068 Barel Minyak per Hari

Prabumulih, bidiksumsel.com – PT Pertamina EP Prabumulih Field kembali mencatatkan keberhasilan dalam upaya meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas). Setelah sukses menemukan sumur interfield LKT-01, perusahaan kini berhasil mengembangkan Sumur Infill LBK-031 yang menunjukkan potensi produksi awal mencapai 2.068 barel minyak per hari (BOPD) serta 2,68 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa lapangan migas yang telah lama berproduksi (mature field) masih memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui inovasi teknologi dan strategi eksplorasi yang tepat.

Sumur LBK-031 merupakan sumur infill pengembangan kelima yang dibor oleh Pertamina EP Prabumulih Field, bagian dari Subholding Upstream Regional 1 Zona 4. Sumur ini berada di Struktur Lembak, wilayah timur laut Kota Prabumulih yang masuk dalam Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Pengeboran dilakukan selama 52 hari, mulai 9 Mei hingga 29 Juni 2026. Pada saat uji alir awal (initial flow test) yang dilaksanakan 29 Juni 2026, sumur tersebut berhasil menghasilkan minyak sebesar 2.068 BOPD dan gas 2,68 MMSCFD yang mengalir secara alami (natural flow) pada lapisan TAF-H.

General Manager Pertamina EP Zona 4, Djudjuwanto, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa lapangan migas tua masih memiliki peluang besar untuk memberikan kontribusi terhadap produksi nasional apabila dikelola dengan pendekatan teknologi yang tepat.

“Keberhasilan pengembangan Sumur LBK-031 membuktikan bahwa lapangan mature masih memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui inovasi, teknologi, dan optimalisasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Keberhasilan pengeboran LBK-031 tidak terlepas dari penerapan inovasi di bidang bawah permukaan (subsurface), yakni High Resolution Stratigraphic Mapping.

Teknologi tersebut memungkinkan tim geosains melakukan pemetaan lapisan batuan bawah permukaan secara lebih detail sehingga potensi hidrokarbon yang berada pada endapan syn-rift dapat diidentifikasi dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

Pendekatan ini membantu perusahaan menentukan titik pengeboran yang lebih presisi sehingga peluang keberhasilan pengembangan sumur menjadi semakin besar.

Selain menghasilkan produksi yang menjanjikan, proses pengeboran juga berlangsung tanpa insiden kecelakaan kerja. Pertamina memastikan seluruh aktivitas dilakukan dengan menerapkan standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) serta prinsip Operational Excellence secara konsisten.

LBK-031 merupakan lanjutan dari keberhasilan pengembangan sumur infill setelah penemuan sumur interfield LKT-01 oleh tim Subsurface and Development Planning (SSDP) Zona 4.

Sebelumnya, Pertamina EP Prabumulih Field juga berhasil mengembangkan Sumur LBK-030 yang saat uji alir awal menunjukkan potensi produksi mencapai 3.073 BOPD dan 1,64 MMSCFD.

Ke depan, perusahaan telah menyiapkan pengembangan Sumur LKT-023 yang dijadwalkan mulai dibor pada triwulan ketiga tahun 2026 sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi migas.

Serangkaian keberhasilan pengembangan sumur tersebut diharapkan mampu memperkuat pencapaian target produksi Pertamina EP Prabumulih Field sepanjang 2026 yang dipatok sebesar 9.519 BOPD untuk minyak dan 99 MMSCFD untuk gas.

Senior Manager Pertamina EP Prabumulih Field, Muhammad Luthfi Ferdiansyah, mengatakan perusahaan telah menyiapkan sejumlah strategi guna menjaga kestabilan produksi, termasuk optimalisasi sumur, pelaksanaan well service secara berkala, hingga pemantauan performa produksi secara berkelanjutan.

Langkah tersebut dilakukan untuk menekan laju penurunan produksi alamiah (natural decline) sehingga kinerja lapangan tetap optimal.

“Pertamina EP Prabumulih Field akan terus melakukan optimasi sumur, well service terjadwal, serta pemantauan performa produksi secara berkelanjutan guna menekan laju penurunan produksi alamiah seminimal mungkin. Dengan strategi ini, keberhasilan pengembangan Sumur LBK-031 diharapkan mampu menstabilkan, bahkan meningkatkan, capaian produksi migas,” ujar Luthfi.

Keberhasilan Sumur LBK-031 memperlihatkan bahwa inovasi teknologi dan eksplorasi yang berkelanjutan masih menjadi kunci dalam mengoptimalkan cadangan migas nasional. Di tengah tantangan penurunan produksi pada lapangan-lapangan tua, strategi pengembangan sumur infill menjadi salah satu solusi efektif untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung target produksi migas nasional. (tinus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *