Ketika Ambulance Apung Jadi Penyelamat : Kisah Haru Polisi Air Selamatkan Ibu Hamil di Tengah Malam
Palembang, bidiksumsel.com – Di saat malam mulai larut dan suasana perairan Upang sunyi senyap diterangi hanya cahaya lampu dermaga, sekelompok anggota Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polda Sumatera Selatan bergerak cepat. Bukan untuk mengejar pelaku kejahatan, bukan pula dalam operasi rutin pengamanan, tapi untuk misi yang lebih mulia : menyelamatkan nyawa dua manusia sekaligus, seorang ibu muda dan bayi yang belum lahir.
Depan Paramita, warga Desa Upang, berada dalam kondisi darurat pada Selasa malam (27/5/2025). Ia tengah mengandung anak pertamanya, namun posisinya tidak normal : sang bayi melintang di dalam kandungan. Desa Upang yang terpencil di kawasan perairan Kabupaten Banyuasin tidak memiliki fasilitas persalinan memadai. Dalam kondisi genting seperti itu, hanya satu harapan : rumah sakit di Palembang.
Untungnya, harapan itu datang dalam wujud Ambulance Apung milik Polairud yang bersandar di Pos Pangkalan Sandar Upang. Kendaraan air ini bukan sekadar kapal biasa, melainkan penyambung hidup bagi masyarakat perairan yang terisolasi dari akses layanan kesehatan darat.
Bergerak Cepat di Tengah Kegelapan
Kepala Pos Pangkalan Sandar Upang, Bripka Ardianto, mengisahkan detik-detik ketika mereka menerima kabar dari seorang bidan desa mengenai kondisi Depan Paramita. Tanpa pikir panjang, para anggota segera menyiapkan Ambulance Apung dan meluncur ke kediaman Depan yang terletak tidak jauh dari pos.
“Mendapat kabar bahwa posisi bayi melintang dan ibu dalam kondisi darurat, kami langsung bergerak. Waktu itu malam sudah cukup larut,” ujar Bripka Ardianto, Rabu (28/5/2025).
Perjalanan bukan tanpa tantangan. Meski jarak ke Palembang relatif dekat melalui jalur sungai, namun malam hari di perairan bisa sangat berisiko. Arus deras, minim pencahayaan, dan potensi cuaca buruk menjadi ancaman tersendiri. Namun niat tulus dan profesionalisme para anggota Polairud mengalahkan semua kekhawatiran itu.
Ambulance Apung memang dirancang untuk kebutuhan seperti ini. Dilengkapi dengan peralatan dasar medis dan cukup ruang untuk membawa pasien dalam keadaan darurat, kendaraan ini telah menjadi ikon pelayanan kemanusiaan Polairud di wilayah pesisir dan sungai.
“Ibu Depan dan keluarga sangat terbantu. Begitu kami tiba, langsung dibantu keluarga dan tenaga medis untuk naik ke Ambulance Apung. Syukurnya, proses evakuasi berjalan lancar,” jelas Bripka Ardianto.
Depan Paramita akhirnya berhasil dibawa ke Rumah Sakit Pelabuhan Boom Baru Palembang untuk mendapatkan penanganan medis. Belum ada keterangan resmi mengenai kondisi akhir persalinannya, namun hingga berita ini disusun, pihak keluarga menyatakan sang ibu dan bayi dalam kondisi stabil.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kiprah Polairud Polda Sumsel dalam membantu masyarakat pesisir yang sering kali terpinggirkan oleh akses layanan dasar. Bripka Ardianto menegaskan bahwa Ambulance Apung akan terus bersiaga untuk setiap panggilan darurat dari masyarakat.
“Kami di Pos Pangkalan Sandar Upang siap kapan pun masyarakat membutuhkan. Jangan ragu, baik untuk melahirkan, berobat, atau kondisi darurat lainnya,” katanya.
Lebih dari sekadar tugas, bagi para personel Polairud, pelayanan ini adalah wujud nyata dari semboyan Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Mereka hadir di tengah komunitas, menjadi bagian dari denyut kehidupan warga perairan yang kerap luput dari perhatian.
Kisah Depan Paramita bukan hanya soal penyelamatan. Ia menjadi simbol dari harapan bahwa negara hadir, bahkan di sudut-sudut paling terpencil sekali pun. Melalui dedikasi para anggota Polairud dan keberadaan Ambulance Apung, masyarakat pesisir seperti di Upang kini memiliki jaring pengaman kehidupan yang nyata.
Mungkin, kelahiran bayi pertama Depan Paramita ini akan selalu dikenang bukan hanya oleh keluarganya, tetapi juga oleh seluruh masyarakat yang menyaksikan sendiri, bagaimana nyawa bisa diselamatkan dari atas gelombang air, di tengah malam yang sepi, oleh tangan-tangan polisi yang mengabdi tanpa batas. (dkd)












