OKI  

Warisan Budaya Kayuagung : Arak-Arakan Pengantin di Sungai Komering

fhoto : ist

OKI, bidiksumsel.com – Perayaan tradisi budaya Midang Bebuke dan wisata air cakat stempel yang berlangsung pada lebaran hari ketiga dan keempat, yaitu tanggal 12-13 April 2024, sukses diselenggarakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Ribuan warga lokal dan pemudik yang kembali ke kampung halaman turut memeriahkan tradisi tahunan ini, memberikan apresiasi yang tinggi atas penyelenggaraan yang semakin baik dari tahun ke tahun. Bagi para pemudik, acara tahun ini menjadi momen yang sangat membahagiakan dan akan selalu dikenang sepanjang masa.

Putri, seorang pemudik dari Jakarta, mengungkapkan kebahagiaannya atas tertibnya acara tahun ini. “Penyelenggaraannya lebih tertib, petugas siap siaga di setiap pos, dan menonton midang juga tidak terganggu oleh pengendara mobil maupun motor yang lalu lalang,” ujarnya.

Keberhasilan ini tidak lepas dari rekayasa lalu lintas yang diterapkan oleh Polres OKI. Tidak ada kendaraan yang diperbolehkan masuk ke lintasan peserta midang di pinggiran Sungai Komering, sehingga peserta dan penonton bisa menikmati acara dengan lebih leluasa. “Untuk parkir kendaraan roda empat maupun roda dua dipusatkan di Gedung Kesenian dan lapangan Hatta agar tidak mengganggu peserta midang dan pengunjung wisata air,” jelas Kapolres OKI, AKBP Hendrawan Susanto, S.H., S.I.K.

Anggun, seorang peserta midang dari Kelurahan Kedaton, menyampaikan kebanggaannya bisa ikut serta dalam tradisi midang untuk pertama kalinya. Pelajar kelas 10 di salah satu SMA di Kayuagung ini merasa bangga menjadi bagian dari pelestarian warisan leluhur. “Senang bisa ikut midang, bangga juga sebagai generasi penerus bisa ikut melestarikan adat istiadat seperti ini,” katanya.

Pj. Bupati OKI, Asmar Wijaya, mengapresiasi dukungan masyarakat yang memungkinkan terlaksananya tradisi midang tahun ini dengan sukses. “Tentu tradisi ini tetap terjaga berkat dukungan masyarakat. Antusiasme dan kesadaran masyarakat yang tinggi untuk menjaga warisan leluhur,” ungkapnya.

Asmar juga berterima kasih atas kesigapan petugas dari berbagai unsur, termasuk TNI/Polri, Dinas Perhubungan, Satpol PP, dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan midang dan wisata air 2024. “Terima kasih atas kesigapan petugas dari Polres OKI, Kodim 0402 OKI, Dinas Perhubungan, Satpol PP, petugas kebersihan, serta semua pihak yang mendukung pelaksanaan midang dan wisata air 2024,” tambahnya.

Rangkaian acara dimulai dengan arak-arakan Midang Bebuke, yang merupakan tradisi turun-temurun di masyarakat Kayuagung. Pada tahun ini, acara tersebut diikuti oleh puluhan pasangan pengantin yang mengenakan pakaian adat, berjalan mengelilingi sungai Komering diiringi musik jidur. Sejarah tradisi ini dimulai pada abad ke-17, awalnya sebagai syarat pernikahan yang melibatkan arak-arakan kereta hias menyerupai naga.

Sesepuh dan tokoh masyarakat Kayuagung, Saiful Ardan, menjelaskan bahwa Midang Bebuke memiliki makna mendalam sebagai simbol kekayaan budaya dan tradisi. “Midang dalam istilah masyarakat Kayuagung adalah sebuah kegiatan berjalan kaki dengan menggunakan pakaian adat perkawinan masyarakat Kayuagung, sedangkan bebuke artinya lebaran,” jelas Saiful.

Seiring waktu, Midang Bebuke telah berkembang menjadi bagian dari agenda pariwisata tahunan di OKI, terutama saat perayaan Idul Fitri. Tradisi ini juga telah diakui sebagai kekayaan budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melalui sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Selain arak-arakan midang, acara tahun ini juga dirangkai dengan perlombaan cang-incang, sebuah jenis sastra lisan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat Kayuagung. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten OKI, Ahmadin Ilyas, menekankan pentingnya mengenalkan budaya kepada generasi muda. “Harapan kami dengan adanya perlombaan Cang Incang, maka akan ada generasi penerus yang terus melestarikan tradisi turun-temurun asli Kayuagung,” katanya.

Rute midang sendiri dilaksanakan sepanjang aliran sungai Komering. Di hari pertama, acara diikuti oleh enam kelurahan di Kecamatan Kota Kayuagung: Kedaton, Perigee, Kayuagung Asli, Cinta Raja, Sida Kersa, dan Tanjung Dancing. Di hari keempat Idul Fitri, kegiatan ini diikuti oleh kelurahan Kuta Raya, Sukadana, Paku, Mangun Jaya, dan Jua-Jua.

“Rute perjalanan dimulai dari Kelurahan Kayuagung Asli menuju Kedaton, kemudian menyebrang menggunakan perahu ketek menuju Jua-jua dan berkumpul di pendopoan rumah dinas Bupati OKI. Setelah itu, peserta mengikuti perlombaan cang-incang sebelum kembali ke kelurahan masing-masing,” jelas Ahmadin.

Dengan dukungan masyarakat dan kesigapan petugas, Midang Bebuke dan wisata air cakat stempel 2024 berlangsung sukses, menciptakan kenangan indah bagi semua yang terlibat. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antarmasyarakat, tetapi juga meneguhkan identitas budaya Kayuagung di mata dunia. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *