GSMP Naik Kelas, Sumsel Bangun Ekosistem Pangan Terintegrasi dari Hulu hingga Hilir

Palembang, bidiksumsel.com,

Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan (GSMP) terus diperkuat. Tidak lagi sekadar berorientasi pada peningkatan produksi pangan, GSMP kini diarahkan menjadi sebuah ekosistem pangan yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

Penguatan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan Ngopi Bareng GSMP: Tata Kelola Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan yang Kolaboratif, Efektif, dan Berkelanjutan, yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Senin (14/9/2026).

Kegiatan ini dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan H. Edward Candra, serta jajaran pimpinan instansi vertikal, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perbankan, BUMN, BUMD dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola sekaligus memfinalisasi arah pelaksanaan GSMP 2026. Salah satu fokus yang dibahas adalah pemberdayaan pesantren sebagai bagian dari produsen pangan serta integrasi produksi pangan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang mengatakan, GSMP merupakan gerakan bersama yang diarahkan untuk mendorong masyarakat Sumatera Selatan agar semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan, produktif dalam mengembangkan potensi ekonomi, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan.

Menurutnya, pengembangan GSMP perlu terus dilakukan agar tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang lebih besar dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

“GSMP bukan hanya sebuah program, tetapi merupakan gerakan bersama. Ke depan, kita harus membangun ekosistem yang lebih besar agar masyarakat Sumatera Selatan semakin mandiri dalam pangan, semakin produktif, dan semakin sejahtera,” ujar Cik Ujang.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan H. Edward Candra menekankan bahwa penguatan GSMP tidak cukup hanya dilakukan dengan menambah bantuan kepada masyarakat.

Menurutnya, aspek yang lebih penting adalah membangun sistem dan ekosistem yang mampu memastikan program berjalan secara berkelanjutan.

Setidaknya terdapat empat langkah utama yang menjadi perhatian dalam penguatan GSMP, yakni memperkuat tata kelola, memperkuat pendampingan melalui PANDU-GSMP, memperkuat kemitraan melalui SINERGI GSMP, serta memperkuat data sasaran.

Edward menilai hilirisasi dan kepastian pasar menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.

“Hal yang paling menentukan keberlanjutan GSMP adalah hilirisasi dan pasar. Rantai GSMP harus kita bangun secara utuh, mulai dari data, pendampingan, produksi, hilirisasi hingga pasar,” jelas Edward.

Dengan sistem tersebut, hasil produksi masyarakat diharapkan tidak berhenti pada tahap produksi semata, tetapi memiliki kepastian penyerapan sekaligus memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Dari Produksi Menuju Ekosistem Rantai Pasok
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono menjelaskan, GSMP yang digagas Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru pada awalnya lahir dari semangat mengubah pola pikir masyarakat, dari yang sebelumnya lebih banyak berperan sebagai konsumen menjadi produsen.

Dalam perkembangannya, GSMP kemudian mengalami transformasi menjadi inovasi pengembangan ekosistem rantai pasok pangan yang lebih menyeluruh, terintegrasi dan sistematis.

Penguatan tersebut tidak hanya menyasar peningkatan produksi serta kemandirian pangan masyarakat. GSMP juga diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap pengendalian inflasi, mendukung implementasi PSN-MBG, memperluas digitalisasi sistem pembayaran dan akses keuangan, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mendukung upaya pengentasan kemiskinan.

“GSMP saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai bagaimana meningkatkan produksi. Kita perlu memastikan seluruh rantai ekosistemnya berjalan, mulai dari pembiayaan, pendampingan, produksi, digitalisasi, hilirisasi hingga akses pasar,” kata Bambang Pramono.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan menghasilkan pangan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari produk yang dihasilkan.

Pesantren Didorong Jadi Bagian dari Produsen Pangan
Salah satu strategi dalam GSMP 2026 adalah penguatan program GSMP Goes to Pesantren.

Pesantren didorong untuk menjadi bagian dari ekosistem produsen pangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya manusia dan lahan yang dimiliki.

Melalui dukungan pembiayaan, sarana dan prasarana, pelatihan serta pendampingan, pesantren diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya secara mandiri sekaligus menghasilkan komoditas yang dapat dipasok kepada SPPG maupun offtaker lainnya sesuai dengan potensi produksi masing-masing.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap implementasi Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (PSN-MBG), khususnya melalui penguatan rantai pasok pangan di sekitar SPPG.

Peningkatan kapasitas produksi pesantren diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pasokan pangan, membantu pengendalian inflasi dari sisi pasokan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Digitalisasi sistem pembayaran dan perluasan akses keuangan juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem tersebut. Langkah ini diharapkan dapat membuat transaksi menjadi lebih efisien, mempermudah akses terhadap pembiayaan, serta memperkuat tata kelola usaha di lingkungan pesantren.

Dari sisi hulu, ekosistem GSMP diperkuat melalui dukungan pembiayaan dari berbagai pihak, antara lain perbankan, Danantara, Baznas dan lembaga terkait lainnya.

Para produsen juga mendapatkan pendampingan teknis untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat kapasitas digital serta memperluas akses terhadap layanan keuangan.

Sedangkan dari sisi hilir, penguatan dilakukan melalui business matching dengan SPPG dan berbagai offtaker lainnya.

Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan produk yang dihasilkan masyarakat memiliki pasar dan dapat terserap dengan harga yang wajar.

Dengan terbangunnya rantai pasok dari hulu hingga hilir, GSMP diharapkan mampu menciptakan nilai tambah, menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar SPPG, serta memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Dalam rangka memperkuat tata kelola, turut dikukuhkan Forum Kemitraan SINERGI GSMP dan Tim Pendampingan Terpadu GSMP (PANDU-GSMP).

Forum Kemitraan SINERGI GSMP akan menjadi wadah untuk mempertemukan sumber daya dan potensi berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, pemerintah hingga masyarakat.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung berbagai aspek GSMP, mulai dari pembiayaan, inovasi, produksi hingga pembukaan akses pasar.

Sementara itu, PANDU-GSMP diharapkan mampu memastikan masyarakat yang menjalankan program GSMP mendapatkan pendampingan yang nyata, terarah dan berkelanjutan.

Melalui penguatan tata kelola, pendampingan, pembiayaan, produksi, hilirisasi dan akses pasar tersebut, GSMP 2026 diarahkan untuk membangun rantai pangan yang terintegrasi mulai dari data hingga pasar.

Program ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap implementasi PSN-MBG, pengendalian inflasi, penguatan ketahanan pangan, digitalisasi sistem pembayaran, perluasan akses keuangan, peningkatan pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan.

GSMP 2026 menjadi bentuk sinergi berbagai pihak untuk mendorong masyarakat Sumatera Selatan menjadi produsen pangan yang mandiri dan produktif sekaligus memiliki keterhubungan dengan pasar.

Melalui peningkatan kapasitas pasokan pangan, program tersebut juga diharapkan dapat membantu memperkuat pengendalian inflasi.

Pada akhirnya, penguatan GSMP diharapkan mampu membangun ekosistem pangan lokal yang tangguh, berdaya saing dan berkelanjutan, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Sumatera Selatan.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan TPID Sumatera Selatan dapat diakses melalui kanal media sosial resmi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan di @bank_indonesia_sumsel. (ril/dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *