Palembang, bidiksumsel.com – Selama ini, jika berbicara soal populasi kambing terbesar di Indonesia, publik otomatis menunjuk Pulau Jawa. Dua provinsi yang selalu disebut adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jawa Tengah bahkan tercatat memiliki lebih dari 3,5 juta ekor kambing, menjadikannya salah satu lumbung ternak nasional.
Namun, sebuah kalkulasi teknis membuka perspektif baru : Sumatera Selatan berpotensi melampaui dominasi tersebut bukan melalui perluasan lahan baru, melainkan dari optimalisasi kebun karet yang telah lama ada.
Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumsel, Dr. drh. Jafrizal, MM, menjelaskan bahwa potensi ini bukan sekadar retorika. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumsel tahun 2024, luas kebun karet di provinsi ini mencapai 1.219.110 hektar salah satu yang terbesar di Indonesia.
Sebaran kebun karet terluas berada di Kabupaten Musi Banyuasin, disusul Musi Rawas Utara, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, serta Banyuasin. Selama ini, hamparan tersebut hampir sepenuhnya dimanfaatkan untuk produksi lateks. Padahal, di bawah tegakan pohon karet terdapat ruang produktif yang belum digarap maksimal.
“Jika potensi lahan dimaksimalkan melalui sistem integrasi perkebunan dan peternakan, Sumsel bisa melampaui populasi kambing di Jawa,” ujar Dr. Jafrizal.
Secara teknis, satu hektar kebun karet mampu menampung 7 hingga 21 ekor kambing, tergantung manajemen pakan dan pemeliharaan. Dalam skenario paling konservatif 7 ekor per hektar perhitungannya sederhana :
1.219.110 hektar x 7 ekor = 8.533.770 ekor kambing.
Angka 8,5 juta ekor itu lebih dari dua kali lipat populasi kambing Jawa Tengah saat ini. Bahkan secara matematis, Sumsel dapat menyalip Jawa Timur.
Meski demikian, Dr. Jafrizal menekankan bahwa tujuan utamanya bukan sekadar kompetisi angka.
“Potensi 8,5 juta ekor bukan hanya soal melampaui provinsi lain. Ini tentang transformasi ekonomi pedesaan,” tegasnya.
Selama ini, ekonomi desa-desa di Sumsel sangat bergantung pada harga karet global. Ketika harga turun, daya beli masyarakat ikut tergerus. Ketergantungan tunggal pada satu komoditas membuat petani berada dalam posisi rentan.
Integrasi karet–kambing menawarkan solusi diversifikasi yang realistis. Dalam usaha peternakan kambing, sekitar 70 persen biaya produksi terserap untuk pakan. Di bawah tegakan karet, hijauan alami yang selama ini dianggap gulma justru dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan murah melalui sistem penggembalaan terkendali atau metode potong-angkut (cut and carry).
Dampaknya tidak kecil :
- Biaya pakan ditekan signifikan.
- Biaya penyiangan kebun berkurang.
- Kotoran ternak menyuburkan tanah.
- Petani memperoleh tambahan pendapatan.
Satu hektar kebun tak lagi hanya menghasilkan lateks, tetapi dua komoditas sekaligus.
Kebutuhan kambing di Sumsel, terutama menjelang Idul Adha dan hajatan sosial, masih banyak dipasok dari luar daerah. Artinya, perputaran uang justru mengalir keluar provinsi.
Jika 10–20 persen saja dari potensi 8,5 juta ekor bisa direalisasikan dalam lima tahun, Sumsel sudah mampu menutup kebutuhan internal dan mengurangi ketergantungan pasokan luar. Efek domino akan terasa pada sektor kesehatan hewan, pembibitan, hingga perdagangan lokal.
Namun, peluang besar itu tidak bebas hambatan. Integrasi karet–kambing memerlukan kebijakan terstruktur dan pendampingan teknis berkelanjutan.
Beberapa aspek krusial meliputi :
- Perlindungan tanaman karet muda dari kerusakan ternak.
- Sistem kandang kolektif atau pagar blok.
- Manajemen reproduksi dan kesehatan hewan profesional.
- Skema pembiayaan ramah petani kecil.
- Pengembangan model klaster berbasis desa.
Pendekatan berbasis hamparan dinilai lebih efektif dibanding bantuan individu yang sporadis. Dengan sistem klaster, efisiensi produksi serta pengawasan kesehatan hewan lebih terjamin.
Secara teoritis, Sumatera Selatan dapat melampaui Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam populasi kambing nasional. Namun, yang lebih penting adalah dampak jangka panjangnya.
Integrasi karet–kambing merupakan model pembangunan berbasis optimalisasi lahan eksisting tanpa membuka lahan baru. Strategi ini selaras dengan penguatan ketahanan pangan, efisiensi produksi, dan peningkatan kesejahteraan petani.
“Jika hari ini Jawa identik dengan sentra kambing nasional, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan Sumatera Selatan tampil sebagai pusat populasi kambing terbesar di Indonesia lahir dari bawah rindang kebun karet,” pungkas Dr. Jafrizal.
Potensinya sudah tersedia. Kini, pertanyaannya bukan lagi soal bisa atau tidak melainkan seberapa cepat kebijakan, pendampingan, dan komitmen bersama mampu mengubah potensi 8,5 juta ekor itu menjadi kenyataan ekonomi baru bagi Sumatera Selatan. (dkd)













