BI Sumsel dan BPS Gelar Forum BERSUA, Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Ekonomi Daerah

ist

Palembang, bidiksumsel.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan menggelar kegiatan BERSUA (Berjejaring dan Bersinergi untuk Akselerasi) sebagai wadah diseminasi informasi sekaligus penguatan sinergi antar pemangku kepentingan dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor BI Sumsel pada Rabu (10/6/2026) malam tersebut dihadiri berbagai unsur strategis, mulai dari perwakilan Forkopimda, instansi vertikal, perbankan, hingga media massa regional. Kehadiran berbagai pihak tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi dinamika ekonomi yang semakin kompleks.

Kepala Perwakilan BI Sumsel, Bambang Pramono, dalam sambutannya memaparkan perkembangan ekonomi terkini di tingkat global, nasional, maupun regional. Ia menegaskan optimisme Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter.

“Kami optimis dan akan all out memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Bambang Pramono.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga menjelaskan alasan di balik keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik investasi asing ke Indonesia.

Bank Indonesia juga menyiapkan sejumlah langkah strategis guna mendukung kebijakan tersebut, di antaranya menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk meningkatkan imbal hasil investasi portofolio asing.

Selain itu, BI memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing guna meningkatkan daya saing investasi di Indonesia. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong masuknya aliran modal asing ke dalam negeri.

Tidak hanya itu, BI juga membuka kembali lelang instrumen repurchase agreement (repo) dengan tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan guna menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Langkah tersebut menjadi salah satu instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter.

Upaya lainnya dilakukan melalui peningkatan intensitas operasi moneter baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Penguatan operasi moneter rupiah dilakukan dengan pelaksanaan lelang SRBI sebanyak dua kali dalam sepekan, sementara intervensi valuta asing diperkuat melalui transaksi spot, DNDF, dan NDF di pasar internasional.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Bambang menyebut perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Hal serupa juga tercermin pada kinerja ekonomi Sumatera Selatan yang terus menunjukkan tren positif.

Pada triwulan I tahun 2026, ekonomi Sumatera Selatan tercatat tumbuh sebesar 5,34 persen secara tahunan (year on year). Selain itu, inflasi daerah masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.

Kinerja sektor keuangan juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan II tahun 2026 tercatat sebesar 7,03 persen (yoy), sedangkan pertumbuhan kredit mencapai 10,54 persen (yoy). Sementara itu, digitalisasi sistem pembayaran di Sumatera Selatan terus mengalami peningkatan yang positif.

Berdasarkan berbagai indikator tersebut, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada tahun 2026 berada pada kisaran 5,00 hingga 5,80 persen, dengan tingkat inflasi yang tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Sementara itu, Kepala BPS Sumatera Selatan, M. Wahyu Yulianto, memaparkan perkembangan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang saat ini tengah berlangsung.

Menurut Wahyu, sensus ekonomi merupakan instrumen strategis dalam menyediakan data dasar yang komprehensif mengenai aktivitas ekonomi nasional maupun daerah. Data tersebut nantinya akan menjadi landasan penting dalam perencanaan pembangunan dan penyusunan berbagai kebijakan ekonomi.

“Data hasil Sensus Ekonomi 2026 diharapkan dapat menjadi dasar yang kuat dalam penyusunan kebijakan dan perencanaan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah,” jelasnya.

Melalui forum BERSUA, Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat komunikasi kebijakan dan menjalin sinergi dengan seluruh mitra strategis di daerah. Kesamaan pemahaman antar pemangku kepentingan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga optimisme serta mendukung pengambilan keputusan yang tepat.

Selain menjadi sarana diseminasi informasi ekonomi, forum ini juga dirancang sebagai ruang dialog interaktif yang mempertemukan pemerintah, lembaga keuangan, pelaku usaha, akademisi, dan media massa untuk bertukar pandangan mengenai berbagai isu strategis yang memengaruhi perekonomian Sumatera Selatan.

Ke depan, sinergi dan kolaborasi antar lembaga, pemangku kepentingan, serta media diharapkan terus diperkuat guna menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Sumatera Selatan, meskipun di tengah tantangan dan ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *