Palembang, bidiksumsel.com – Suasana pagi di kawasan Pasar 16 Ilir, Palembang, tampak lebih semarak dari biasanya pada Jumat (24/4/2026). Di tengah hiruk pikuk aktivitas pedagang dan pembeli, sosok Agung Firman Sampurna terlihat membaur tanpa sekat dengan masyarakat.
Ia berdiri di antara lapak-lapak pempek, menyapa pedagang, sekaligus menikmati sajian khas yang dikenal masyarakat setempat sebagai pempek tumpah. Kehadirannya di pusat ekonomi rakyat tersebut menciptakan suasana hangat dan penuh keakraban.
Istilah pempek tumpah merujuk pada cara penyajian pempek dalam jumlah besar yang dihamparkan di atas meja atau wadah lebar. Pembeli dapat langsung memilih berbagai jenis pempek sesuai selera.
Tradisi kuliner ini menjadi daya tarik tersendiri di sentra pempek Pasar 16 Ilir, yang telah lama dikenal sebagai ruang hidup ekonomi rakyat. Meski modernisasi terus berkembang, aktivitas perdagangan tradisional di kawasan ini tetap bertahan dan menjadi bagian penting dari identitas kota.
Bagi banyak warga, pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga pusat interaksi sosial dan budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat Palembang.
Bagi Agung Firman Sampurna, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda santai, melainkan bentuk kedekatan emosional dengan kota yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Sebagai mantan Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Sriwijaya periode 2017–2021, ia memiliki hubungan kuat dengan dunia pendidikan dan masyarakat di Sumatera Selatan.
“Sudah lama saya tinggal di Jakarta, tetapi cita rasa asli Palembang, terutama pempek, tidak pernah bisa saya tinggalkan. Saya dibesarkan di sini,” ujarnya.
Kehadiran Agung di tengah pasar tradisional tersebut menjadi simbol kerinduan terhadap akar budaya yang tetap ia jaga meskipun telah lama berkarier di tingkat nasional.
Kunjungan Agung ke Palembang juga bertepatan dengan agenda besar bertajuk Halal Bihalal Masyarakat Perantau Sumbagsel 2026, yang menjadi ajang silaturahmi penting bagi tokoh nasional dan daerah.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, serta Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin.
Forum ini juga dihadiri para gubernur dari wilayah Sumatera bagian selatan, termasuk Herman Deru, serta sejumlah bupati dan wali kota dari berbagai daerah di kawasan tersebut.
Kegiatan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat jejaring pembangunan kawasan regional sekaligus mempererat hubungan antarperantau asal Sumatera Selatan dan wilayah sekitarnya.
Agung Firman Sampurna dikenal luas sebagai tokoh nasional yang memiliki rekam jejak panjang dalam tata kelola keuangan negara dan korporasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia periode 2019–2022, serta Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia periode 2020–2024.
Saat ini, ia juga dipercaya mengemban jabatan strategis sebagai Komisaris Utama di PT MNC Asia Holding Tbk, salah satu perusahaan besar di Indonesia.
Selain kiprahnya di dunia pemerintahan dan korporasi, Agung juga dikenal sebagai akademisi yang aktif mengajar di Universitas Indonesia.
Di sela kunjungannya, Agung menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, sentra ekonomi rakyat seperti pedagang pempek di Pasar 16 Ilir merupakan fondasi penting yang harus terus diperkuat.
“UMKM harus kita dukung, salah satunya dengan membeli produk mereka. Ini bukan hanya soal transaksi ekonomi, tetapi juga upaya menjaga keberlangsungan hidup keluarga-keluarga yang menggantungkan penghasilan dari usaha kecil,” katanya.
Ia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh dilepaskan dari sektor akar rumput. Kebijakan pembangunan, menurutnya, harus berpihak pada penguatan ekonomi kerakyatan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Kehadiran Agung Firman Sampurna di tengah pasar tradisional mencerminkan sosok tokoh asal Sumatera Selatan yang tetap membumi dan dekat dengan masyarakat. Ia tidak hanya hadir sebagai figur nasional dengan jabatan strategis, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat Palembang yang tetap menjaga identitas budaya.
Bagi Agung, Palembang bukan sekadar tempat dibesarkan, melainkan bagian dari jati diri yang terus melekat dalam perjalanan hidupnya.
Di antara aroma cuko dan deretan pempek tumpah yang tersaji di meja pasar, kerinduan itu menemukan bentuknya hangat, sederhana, dan penuh makna. (rd)












