Muba  

170 Delegasi Sumsel “Geruduk” Perpusnas, Bunda Literasi Muba Tegaskan Ini Bukan Seremoni!

ist

Bunda Literasi se-Sumsel Audiensi ke Perpusnas, Fatimah Toha Tegaskan Literasi di Muba Fokus Bangun Kecakapan

Jakarta, bidiksumsel.com – Upaya memperkuat budaya literasi di Sumatera Selatan terus digencarkan melalui kolaborasi lintas daerah dan dukungan pemerintah pusat. Hal itu terlihat dalam kegiatan Audiensi Bunda Literasi se-Provinsi Sumatera Selatan bersama Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) yang digelar di Auditorium Lantai 4 Perpusnas RI, Kamis (05/02/2026).

Audiensi ini menjadi pertemuan berskala besar karena melibatkan sekitar 170 delegasi dari seluruh wilayah Sumatera Selatan atau yang dikenal sebagai Bumi Sriwijaya. Rombongan terdiri dari para Bunda Literasi dari 17 kabupaten/kota, duta literasi, hingga jajaran perangkat daerah terkait. Tujuan utamanya adalah memperkuat kolaborasi strategis guna meningkatkan indeks literasi masyarakat, sekaligus menyelaraskan arah kebijakan literasi nasional dengan implementasi di daerah.

Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, Fitriana, S.Sos., M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa kehadiran lengkap seluruh Bunda Literasi kabupaten/kota menjadi simbol komitmen pemerintah daerah dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Fitriana memaparkan, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Sumatera Selatan menunjukkan tren positif. Pada tahun 2024, IPLM Sumsel tercatat 15,18, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, capaian ini tidak lepas dari kerja bersama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pegiat literasi, serta dukungan Perpusnas.

Selain capaian indeks, Fitriana juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) baik fisik maupun non-fisik, khususnya untuk pembangunan dan perluasan gedung layanan perpustakaan di Sumatera Selatan.

“Audiensi ini kian menguatkan sinergi dan kebersamaan untuk menyelaraskan visi pembangunan nasional di tingkat provinsi dan kabupaten/kota,” ujarnya, yang disampaikan dengan gaya khas melalui pantun pembuka.

Dalam audiensi tersebut, Duta Literasi Sumatera Selatan, Ratu Tenny Leriva, M.M., turut memaparkan sejumlah program inovatif yang dinilai relevan dengan tantangan literasi masa kini. Ia menekankan pentingnya program yang menyasar generasi muda, sekaligus membuka akses literasi bagi kelompok rentan seperti kaum disabilitas.

Beberapa program unggulan yang disampaikan antara lain Gerakan Literasi Bahasa Isyarat, program “Satu Rumah Satu Buku”, hingga pelestarian aksara daerah melalui Literasi Tunas Bahasa Ibu.

“Literasi harus inklusif. Tidak boleh ada warga negara yang tertinggal dalam mengakses informasi,” tegas Ratu.

Ia juga mendorong agar Perpusnas terus memberikan pendampingan teknis, termasuk penguatan literasi berbasis digital yang lebih ramah bagi generasi milenial dan Gen Z, sehingga literasi tidak hanya berhenti pada ruang baca konvensional.

Kepala Perpusnas RI, Prof. Aminuddin Azis, M.A., Ph.D., menyambut hangat rombongan Sumatera Selatan. Dalam sambutannya, ia menyebut Sumsel sebagai provinsi pertama yang datang dengan kekuatan penuh ke Perpusnas.

Ia menegaskan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca teks, melainkan kemampuan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Kerja literasi adalah kerja akal, pikiran, dan raga. Ini bukan sebatas seremoni,” ungkap Prof. Aminuddin.

Ia juga menyoroti tantangan literasi nasional yang masih cukup besar. Salah satu indikatornya adalah rendahnya budaya baca, di mana masyarakat Indonesia rata-rata hanya membaca 5,91 buku per tahun.

Sebagai langkah nyata, Perpusnas menyampaikan arah kebijakan baru, yakni menggeser fokus dari pembangunan fisik gedung perpustakaan ke pembangunan kecakapan masyarakat. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah “Buku Bacaan Bermutu untuk Indonesia”.

Prof. Aminuddin juga menitipkan pesan penting kepada para Bunda dan Bapak Literasi agar memastikan buku-buku yang dikirim ke desa-desa benar-benar sampai ke masyarakat, dimanfaatkan, dan berdampak nyata, termasuk dalam pemberdayaan ekonomi serta kreativitas warga.

Pada kesempatan yang sama, Bunda Literasi Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang juga Ketua TP PKK, Hj. Fatimah Toha, menyampaikan komitmennya untuk mendorong gerakan literasi yang lebih substansial di wilayah Muba.

Ia menegaskan, literasi di Muba tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan harus menjadi gerakan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Kami berkomitmen memastikan program literasi di Muba bukan sekadar seremoni. Sesuai arahan Perpusnas, kami akan fokus pada pembangunan kecakapan masyarakat melalui penyediaan buku bermutu. Kami ingin perpustakaan di Muba menjadi pusat pemberdayaan yang mampu mengubah pengetahuan menjadi peningkatan ekonomi keluarga,” ujar Fatimah.

Audiensi ini kemudian ditutup dengan pertukaran cinderamata sebagai simbol komitmen bersama untuk memperkuat literasi, sekaligus menegaskan tekad menjadikan Sumatera Selatan sebagai salah satu daerah yang mampu menjadi mercusuar literasi di Indonesia.

Turut mendampingi Bunda Literasi Muba dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Muba Azmi Dariusmansyah, Kabid PKK DPMD Zulkurniawan, serta staf dan jajaran OPD terkait. (ari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *