Inflasi Sumsel September 2025 Capai 3,44% : Cabai Merah, Emas, dan Ayam Ras Jadi Pendorong
Palembang, bidiksumsel.com – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,27% (mtm) pada September 2025, usai sebelumnya mengalami deflasi tipis 0,04% (mtm) pada Agustus. Secara tahunan, inflasi Sumsel kini berada di level 3,44% (yoy), naik dari 3,04% (yoy) bulan sebelumnya. Meski demikian, capaian ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah, yaitu 2,5% ± 1%.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumsel, Bambang Pramono, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan barang strategis menjadi penyumbang utama inflasi periode ini.
“Kontributor terbesar terhadap inflasi September berasal dari cabai merah (0,22%), diikuti emas perhiasan (0,15%), daging ayam ras (0,14%), rokok SKM (0,02%), serta ayam hidup (0,01%),” jelas Bambang, Kamis (2/10/2025).
Harga cabai merah melonjak akibat terbatasnya pasokan dari sentra produksi, dipicu cuaca ekstrem yang mengganggu hasil panen. Sementara itu, kenaikan harga emas perhiasan dipicu ketidakpastian geopolitik global. “Logam mulia masih jadi instrumen lindung nilai di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian,” terang Bambang.
Selain itu, lonjakan harga daging ayam ras dipengaruhi permintaan tinggi akibat musim hajatan masyarakat dan kebutuhan tambahan dari dapur MBG (Meal, Beverage, and Gathering). Untuk rokok SKM, kenaikan dipengaruhi penyesuaian Harga Jual Eceran (HJE) sejak awal 2025, yang baru terasa penuh pada triwulan ini setelah stok lama habis.
Harga ayam hidup pun ikut naik seiring penyesuaian Harga Pokok Produksi (HPP) dari Rp17.500/kg menjadi Rp18.000/kg sejak Juni 2025.
Inflasi Tersebar di Seluruh Daerah IHK Sumsel
Inflasi September tercatat di seluruh daerah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumsel.
- OKI: inflasi terendah 0,03% (mtm)
- Lubuk Linggau: 0,27% (mtm)
- Palembang: 0,30% (mtm)
- Muara Enim: inflasi tertinggi 0,35% (mtm)
Menurut BI, tekanan inflasi ke depan masih berpotensi berlanjut. Risiko utamanya berasal dari berkurangnya produksi padi akibat peralihan musim tanam, terbatasnya pasokan hortikultura (cabai dan bawang), serta masuknya musim pancaroba yang meningkatkan permintaan obat-obatan dan layanan kesehatan.
“Selain faktor pangan, harga emas perhiasan juga diperkirakan tetap tinggi akibat pelemahan rupiah dan ketidakpastian global,” kata Bambang.
Mengantisipasi tekanan inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel memperkuat koordinasi dengan strategi 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, Komunikasi efektif).
Sejumlah langkah konkret ditempuh :
- Operasi pasar murah dan gerakan pangan murah
- Distribusi beras SPHP bersama Bulog
- Penjualan bahan pokok di Toko KePo, RPK, dan Toko Penyeimbang milik Perumda Pasar Palembang Jaya
- Kerja sama antar daerah (KAD) dengan Jawa Timur untuk bawang merah dan ayam, serta penjajakan KAD dengan Sumbar untuk bawang merah
- Sidak rutin ke pasar, distributor, dan produsen
Selain itu, program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) 2025 menjadi pilar penguatan ketahanan pangan. Program ini terdiri dari :
- GSMP Menyala – mendukung rumah tangga dan Kelompok Wanita Tani (KWT).
- GSMP Goes to Panti Sosial – untuk panti asuhan dan panti sosial.
- GSMP Goes to Office – melibatkan OPD di Sumsel.
Bank Indonesia bersama TPID telah menyalurkan bibit, benih, dan sarana budidaya cabai serta bawang merah.
Sumsel juga menjadi tuan rumah Gebyar Perbenihan Tanaman Pangan Nasional X 2025 di Jakabaring Sport City, Palembang. Dalam acara tersebut diluncurkan dua inovasi penting : teknologi padi apung dan Gerakan Sumsel Mandiri Benih Padi 2029.
Menurut Bambang, seluruh upaya ini tidak hanya menjaga inflasi agar tetap dalam sasaran, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi Sumsel.
“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan ekonomi Sumsel tumbuh inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (dkd)












