Itik Pegagan : Senjata Rahasia Sumsel Lawan Kemiskinan dan Stunting

Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumsel, Dr. drh. Jafrizal, MM

Opini : Itik Pegagan, Aset Lokal Sumsel untuk Ekonomi dan Gizi Bangsa

Oleh : Dr. drh. Jafrizal, MM
Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumsel

Palembang, bidiksumsel.com – Di tengah derasnya modernisasi dan gempuran produk unggas dari luar daerah, Sumatera Selatan masih menyimpan satu kekayaan lokal yang sering terlupakan : Itik Pegagan. Unggas khas rawa dan sawah ini bukan hanya penghasil telur, tetapi juga sumber nilai genetik, ekonomi, dan gizi yang sangat berharga.

Sayangnya, eksistensi Itik Pegagan semakin meredup. Banyak peternak lebih memilih itik lain yang dianggap lebih populer di pasaran. Padahal, unggas asli Sumsel ini memiliki keunggulan adaptasi, gizi, dan efisiensi pemeliharaan yang tidak kalah, bahkan bisa menjadi tumpuan ekonomi rakyat.

Keunggulan Itik Pegagan

Ada tiga alasan utama mengapa Itik Pegagan seharusnya kembali dijadikan primadona peternakan rakyat :

  1. Adaptif pada lahan rawa dan sawah – cocok dengan kondisi geografis Sumsel yang luasnya didominasi lahan basah.
  2. Sumber gizi tinggi – telur kaya protein, sangat penting untuk mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang anak.
  3. Mudah dipelihara – bisa dibesarkan di pekarangan rumah, bahkan dilepasliarkan di area sawah tanpa memerlukan lahan luas.

Dengan keunggulan itu, Itik Pegagan bukan hanya sekadar unggas lokal, melainkan aset strategis untuk menopang kedaulatan pangan daerah.

Beternak Itik Pegagan bisa menjadi usaha rakyat yang modalnya relatif kecil, namun berdaya hasil tinggi. Mulai dari menjual telur segar hingga produk olahan bernilai tambah, keberadaan Itik Pegagan bisa membuka lapangan kerja baru, menekan pengangguran, hingga membantu keluarga keluar dari jerat kemiskinan.

“Peternakan rakyat dengan Itik Pegagan ini bisa menjadi salah satu senjata ampuh pengentasan kemiskinan di Sumsel,” tegas Dr. Jafrizal.

Investasi Kesehatan Bangsa

Selain aspek ekonomi, Itik Pegagan juga memiliki peran penting di sektor kesehatan. Kandungan protein dalam telurnya dapat menjadi solusi nyata untuk program peningkatan gizi masyarakat.

Jika telur Itik Pegagan masuk dalam program pemerintah, misalnya untuk distribusi makanan bergizi bagi balita, ibu hamil, maupun pelajar. manfaatnya akan berlipat ganda :

  • Melestarikan plasma nutfah asli Sumsel,
  • Mendukung kesehatan generasi muda,
  • Menekan angka stunting yang masih menjadi masalah nasional.

Dengan demikian, melestarikan Itik Pegagan bukan sekadar menjaga unggas lokal, tetapi juga investasi kesehatan bangsa.

Ironisnya, kebutuhan telur itik di Sumsel masih banyak dipasok dari luar, seperti Jawa, Lampung, dan Sumatera Barat. Kondisi ini menunjukkan adanya ketergantungan pasokan yang sesungguhnya bisa diatasi.

Jika pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat bersinergi, Sumsel bahkan bisa melangkah lebih jauh : mewujudkan swasembada telur itik, bahkan menjadi pemasok nasional.

Langkah strategis yang bisa ditempuh antara lain :

  • Memperkuat basis peternakan rakyat,
  • Dukungan penuh pemerintah daerah dalam regulasi dan fasilitasi,
  • Kemitraan dengan pihak swasta untuk akses pasar dan permodalan.

Itik Pegagan bukan sekadar hewan ternak, melainkan warisan Nusantara yang harus dijaga bersama. Melestarikannya berarti menjaga ekonomi rakyat, memperbaiki gizi masyarakat, dan memperkuat kedaulatan pangan lokal.

“Sudah saatnya kita menjadikan Itik Pegagan sebagai ikon kebanggaan Sumatera Selatan. Bukan hanya cerita lokal, tapi juga komoditas unggulan nasional,” tutup Dr. Jafrizal. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *