OKI  

Tangis Haru Warnai Milad ke-5 Baraya Sunda OKI : Ingat Pejuang yang Telah Tiada!

fhoto : ist

Baraya Sunda OKI : 5 Tahun Menjadi Rumah dalam Perantauan

OKI, bidiksumsel.com – Di halaman rumah sederhana milik Ibu Ai Rohaeti di Kedaton, Kayuagung di bawah langit sore yang menghangatkan jiwa gema doa dan tawa pecah bersama. Tangis pun tak bisa dibendung saat nama-nama yang telah tiada disebut satu per satu. Kamis itu, 3 Juli 2025, menjadi hari yang tidak biasa bagi Ikatan Baraya Sunda (IBS) OKI Sumsel. Di hari ulang tahunnya yang kelima, organisasi ini bukan hanya merayakan angka, tetapi merayakan perjalanan pahit, manis, dan peluh yang menyatukan banyak hati.

Mengusung tema “Lima Tahun Meniti Jalan Berliku dengan Hati yang Satu”, peringatan milad ini lebih dari sekadar acara tahunan. Ia adalah panggilan jiwa. Sebuah momen refleksi atas perjalanan komunitas Sunda yang memilih tetap erat dalam pelukan kebersamaan, meski berada jauh dari kampung halaman.

Saat Air Mata Jadi Simbol Cinta

Dalam suasana syahdu, nama-nama yang telah berpulang disebut dengan penuh khidmat. Alm. Ruslan bin H. Muhammad Hidayat, Alm. Nanang Taruna Jiwa, Alm. Ahmad Arifin, dan Alm. Kasman bin Sumardi (Abah Emon) bukan hanya nama. Mereka adalah fondasi. Pilar-pilar awal yang meletakkan batu bata pertama bagi berdirinya IBS OKI.

“Doa kita panjatkan untuk mereka. Karena apa yang kita nikmati hari ini, adalah buah dari peluh dan ketulusan mereka dahulu,” ucap Agus Susanto, Ketua IBS OKI yang akrab disapa Babeh, dengan suara bergetar.

Perjalanan lima tahun tentu bukan tanpa luka. Dinamika organisasi sempat berguncang oleh perbedaan pandangan, hingga dilaksanakannya Musyawarah Luar Biasa. Tapi dalam sambutannya, Babeh memilih kata-kata pemersatu, bukan penegas perpecahan.

“Perbedaan adalah bagian dari proses pendewasaan. Tapi perpecahan bukanlah solusi. Kita harus kembali ke niat awal: menjaga rasa, menjaga nama Baraya,” tegasnya, disambut tepuk tangan dan senyum haru dari hadirin.

Dukungan dari Keluarga Besar Perantau

Dalam acara tersebut, hadir pula Darmawi, S.IP, Ketua Ikatan Keluarga Minang (IKM) OKI, yang memberikan pesan sarat makna. Ia menekankan bahwa mengurus organisasi perantau adalah jalan sunyi yang penuh ujian.

“Kita bukan bekerja karena gaji, bukan karena jabatan. Tapi karena cinta kepada saudara kita sesama perantau. Seperti IBS, IKM juga lahir dari semangat perjuangan dan solidaritas,” ujarnya.

Pesan ini semakin menegaskan bahwa lintas etnis pun bisa merasakan satu rasa dalam perantauan, dan IBS menjadi bagian dari ekosistem sosial yang saling menopang di Kabupaten OKI.

Penutupan acara semakin terasa mendalam saat Ustadz Anton Sarjawa memimpin doa bersama. Dalam untaian kata-katanya yang lembut, terbit kembali harapan agar Baraya Sunda terus menjadi obor bagi generasi muda Sunda di tanah rantau.

Tak sedikit dari yang hadir menitikkan air mata. Bukan hanya karena kehilangan, tapi karena haru melihat persaudaraan yang sempat koyak, kini perlahan dirajut kembali.

Dalam pesan terakhirnya, Ketua Panitia menyampaikan kalimat yang begitu sederhana, tapi begitu dalam:
“Baraya itu bukan sekadar nama. Ia adalah rasa, suara, dan jiwa yang satu. Mari kita terus jaga dan rawat bersama.”

Di tengah tantangan global, urbanisasi, dan pudarnya nilai-nilai gotong royong, komunitas seperti IBS OKI Sumsel menjadi pengingat bahwa di perantauan pun, kita tetap bisa pulang jika bukan ke rumah, maka ke rasa.

Selamat Milad ke-5, Ikatan Baraya Sunda OKI Sumsel.
Lanjutkan perjuangan, jaga budaya, dan terus nyalakan bara semangat dalam kebersamaan. Karena dalam setiap peluh perantau, selalu ada cerita tentang Baraya. (ac)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *