Kreatif dan Ramah Lingkungan, Warga Palembang Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Multifungsi
Palembang, bidiksumsel.com – Minyak jelantah atau minyak goreng bekas selama ini identik sebagai limbah rumah tangga yang dianggap tidak lagi memiliki manfaat. Banyak masyarakat memilih membuangnya begitu saja tanpa menyadari dampak buruk yang dapat ditimbulkan terhadap lingkungan.
Namun di tangan kreatif seorang perempuan asal Palembang, limbah tersebut justru diubah menjadi produk ramah lingkungan bernilai ekonomis tinggi yang bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Adalah Nyimas Eli Agustina, Direktur Bank Sampah Kenanga, yang berhasil mengolah minyak jelantah menjadi sabun cuci multifungsi yang aman digunakan sekaligus membantu menjaga kelestarian lingkungan.
Inovasi tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap persoalan lingkungan di kawasan 19 Ilir, Kota Palembang. Berawal saat program pemasangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dilakukan pada tahun 2022, Nyimas Eli mengikuti pelatihan pengolahan sampah yang kemudian menjadi titik awal lahirnya berbagai produk daur ulang bernilai ekonomi.
Ilmu yang diperoleh dari pelatihan itu tidak disimpan sendiri. Ia kemudian aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai pentingnya pengelolaan sampah secara terorganisir dan berkelanjutan.
“Kami memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang bagaimana cara mengumpulkan, memilah, dan mendaur ulang sampah yang masih memiliki nilai guna, seperti plastik, kertas, hingga minyak jelantah. Dari barang-barang bekas tersebut kemudian diolah menjadi produk bermanfaat seperti ecoenzim, sabun, lilin aromaterapi, tempat air minum, tempat tisu, dan lainnya,” ujar Nyimas Eli saat ditemui di Hotel Swarna Dwipa, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, banyak masyarakat awalnya merasa heran bahkan tidak percaya ketika mengetahui sabun dengan tampilan menarik tersebut dibuat dari minyak bekas pakai.
Padahal melalui proses pengolahan yang tepat dan higienis, minyak jelantah dapat diubah menjadi produk berkualitas yang aman digunakan untuk kebutuhan kebersihan rumah tangga.
Langkah yang dilakukan Bank Sampah Kenanga ini dinilai menjadi salah satu contoh nyata penerapan ekonomi sirkular, yakni konsep pengelolaan limbah dengan memanfaatkan kembali barang bekas menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan nilai jual.
Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah sembarangan, inovasi tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Nyimas Eli menjelaskan, sabun berbahan dasar minyak jelantah tersebut memang diformulasikan khusus sebagai sabun cuci, bukan sabun mandi. Produk ini memiliki kemampuan membersihkan lemak dan noda membandel secara efektif sehingga cocok digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.
Beberapa manfaatnya antara lain untuk mencuci piring dan peralatan dapur agar lebih kesat, membersihkan noda pada pakaian, hingga membersihkan lantai kamar mandi.
Selain efektif digunakan, sabun tersebut juga dinilai lebih ekonomis karena dijual dengan harga terjangkau.
“Sabun minyak jelantah ini kami jual dengan harga terjangkau, hanya Rp5 ribu saja per batang,” katanya.
Dalam proses pembuatannya, minyak jelantah terlebih dahulu disaring berkali-kali guna menghilangkan sisa kotoran makanan dan endapan lainnya.
Setelah proses penyaringan selesai, minyak kemudian dicampur secara perlahan dengan larutan soda api atau NaOH dan air hingga menghasilkan adonan sabun.
Untuk menghilangkan aroma minyak bekas, adonan sabun diberi tambahan pewangi atau minyak esensial agar menghasilkan aroma yang lebih segar dan nyaman digunakan.
Adonan tersebut kemudian dicetak dan didiamkan hingga mengeras. Namun sebelum dapat digunakan, sabun harus melewati proses curing atau pengeringan selama tiga hingga empat minggu agar reaksi kimia di dalamnya selesai sempurna dan aman dipakai.
Tak hanya menjual produk, Bank Sampah Kenanga juga aktif mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan limbah rumah tangga.
Masyarakat yang ingin membeli produk, menyetorkan minyak jelantah, maupun belajar membuat sabun ramah lingkungan tersebut dapat langsung mengunjungi Bank Sampah Kenanga yang berada di Lorong R Fachrudin, 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang.
Selain itu, komunitas tersebut juga rutin mengadakan pelatihan pengolahan limbah rumah tangga menjadi berbagai produk bernilai ekonomis sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Melalui inovasi sederhana namun berdampak besar ini, Nyimas Eli berharap masyarakat semakin sadar bahwa limbah rumah tangga sebenarnya masih memiliki nilai manfaat apabila dikelola dengan kreatif dan bertanggung jawab.
Tidak hanya membantu menjaga lingkungan tetap bersih, pengolahan limbah seperti minyak jelantah juga dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan dan mendukung ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (dkd)













