Palembang, bidiksumsel.com – Polda Sumatera Selatan menghadiri kegiatan Sosialisasi Pengadaan Gabah/Beras oleh Perum BULOG Kantor Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung yang digelar di Ruang Rapat Perum BULOG Kanwil Sumsel-Babel, Jumat (13/2/2026). Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat sinergi lintas sektor guna mendukung ketahanan pangan, khususnya dalam memastikan penyerapan hasil produksi petani berjalan optimal.
Dalam forum tersebut, Polda Sumsel diwakili oleh Kasubbagmutjab Bagbinkar Biro SDM Polda Sumsel, Kompol Tomy Prambana, SIK, MH, MSi. Kehadiran Polri bersama para pemangku kepentingan lainnya menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan bukan hanya urusan sektor pertanian, melainkan agenda bersama yang membutuhkan dukungan stabilitas keamanan, pendampingan lapangan, hingga kepastian pasar bagi petani.
Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh berbagai unsur strategis, di antaranya perwakilan Kodam II/Sriwijaya melalui Waaster Kodam, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumsel, BBRMP Provinsi Sumatera Selatan, Koordinator Penyuluh, DPD Perpadi Provinsi Sumatera Selatan, serta perwakilan perusahaan dan mitra pengadaan pangan di wilayah Sumsel dan Babel.
Dalam paparannya, Perum BULOG menegaskan fokus penguatan pada program Pengadaan Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) Tahun 2026. Untuk wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung, target pengadaan jagung tahun 2026 ditetapkan sebesar 75.000 ton, meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Target tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin memperkuat stok pangan strategis, sekaligus menstabilkan pasar agar petani memiliki kepastian penyerapan hasil panen. Langkah ini juga menjadi antisipasi terhadap tantangan pangan yang semakin kompleks, mulai dari dampak cuaca ekstrem, fluktuasi harga, hingga kebutuhan industri dan konsumsi yang terus meningkat.
Selain target serapan, BULOG juga menekankan pentingnya pemenuhan standar mutu sebagai prasyarat penerimaan. Hal ini terutama menyangkut kualitas jagung pipil kering, yang ditentukan melalui indikator seperti kadar air maksimal serta ambang batas aflatoksin. Standar mutu ini dinilai penting untuk menjaga kualitas cadangan pangan nasional serta menjamin keamanan komoditas yang diserap.
Salah satu poin utama yang menjadi perhatian dalam sosialisasi ini adalah rencana pembentukan Tim Jemput Pangan (TJP). Skema ini melibatkan unsur Bulog, TNI, Polri, dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk memastikan proses penyerapan jagung berjalan lebih cepat dan efektif.
Dalam waktu dekat, Bulog menyampaikan akan melaksanakan launching Tim Jemput Pangan sebagai bentuk penguatan kerja lapangan. Tim ini memiliki fungsi strategis, antara lain :
- Menjemput hasil panen jagung langsung ke petani atau kelompok tani
- Melakukan inspeksi awal mutu di lapangan
- Memastikan serapan berjalan cepat, tepat sasaran, dan sesuai standar kualitas Bulog
- Mengurangi hambatan distribusi dan meminimalkan permainan harga di tingkat bawah
Dengan hadirnya Tim Jemput Pangan, petani diharapkan tidak lagi mengalami kendala klasik seperti keterbatasan akses pasar, sulitnya transportasi, atau ketidakpastian penjualan hasil panen.
Dalam kesempatan tersebut, Kompol Tomy Prambana menegaskan komitmen Polda Sumsel dalam mendukung program ketahanan pangan dan memastikan percepatan penyerapan hasil produksi petani.
“Polri melalui jajaran kewilayahan siap bersinergi dalam penguatan Tim Jemput Pangan, pendampingan di lapangan, serta menjaga kondusivitas agar proses serapan jagung ke BULOG berjalan optimal dan memberi kepastian pasar bagi petani,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat peran Polri bukan hanya sebagai institusi penegak hukum, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam mendukung program nasional yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, koordinasi lintas sektor diharapkan semakin solid dalam mengakselerasi serapan jagung di wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Sinergi antara Bulog, pemerintah daerah, TNI-Polri, penyuluh pertanian, hingga mitra usaha dinilai menjadi kunci agar target pengadaan tahun 2026 dapat tercapai.
Lebih dari sekadar angka, keberhasilan penyerapan jagung ini juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, menjaga stabilitas harga, serta memberikan perlindungan ekonomi bagi petani di tingkat akar rumput. (bd)













