Ratu Dewa Hadiri Dharma Santi Nyepi 2026, Bantuan Dana untuk Pura Tuai Apresiasi Umat Hindu

ist

Palembang, bidiksumsel.com – Suasana penuh kebersamaan dan toleransi antarumat beragama terasa hangat dalam perayaan Dharma Santi Hari Suci Nyepi Tilem Kesanga Tahun 2026 yang digelar di Pura Agung Sriwijaya, Kamis (2/4/2026) malam. Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh penting daerah, termasuk Herman Deru, Sandi Nugroho, Ketut Sumedana, serta Wali Kota Ratu Dewa.

Kehadiran para pimpinan daerah tersebut menjadi simbol kuat komitmen pemerintah dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Palembang dan wilayah Sumatera Selatan secara umum. Tidak sekadar menghadiri acara, Wali Kota Palembang juga menyerahkan bantuan dana operasional untuk kebutuhan pura kepada pengurus Perkumpulan Adat Bali Sumatera Selatan (PABSS).

Penyerahan bantuan tersebut disambut dengan rasa syukur dan apresiasi dari pihak panitia. Bantuan itu diharapkan dapat menunjang berbagai kegiatan keagamaan serta operasional pura dalam melayani kebutuhan umat Hindu di wilayah Sumatera Selatan.

Selaku Penasehat Panitia sekaligus Pengawas Perkumpulan Adat Bali Sumatera Selatan, I Gusti Bagus Surya Negera, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah daerah terhadap kegiatan keagamaan umat Hindu.

Ia menjelaskan bahwa Dharma Santi memiliki makna penting bagi umat Hindu, terutama sebagai momen mempererat hubungan persaudaraan dan saling memaafkan secara batiniah.

“Dharma Santi itu berkaitan dengan perayaan Hari Suci Nyepi dan dapat disamakan dengan kegiatan halal bihalal bagi umat Muslim,” ujar I Gusti Bagus Surya Negera dalam keterangannya.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat rasa kebersamaan antarumat Hindu di berbagai daerah.

Ia juga menyebutkan bahwa jumlah umat yang hadir pada kegiatan tersebut cukup besar. Jika dihitung secara digital, jumlah peserta yang hadir diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 orang.

Perayaan Dharma Santi tahun ini tidak hanya dihadiri umat Hindu dari Sumatera Selatan, tetapi juga dari sejumlah provinsi lain di wilayah Sumatera bagian selatan.

Beberapa di antaranya berasal dari Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, serta Lampung. Kehadiran umat dari berbagai daerah tersebut menunjukkan besarnya semangat kebersamaan dan solidaritas dalam merayakan Hari Suci Nyepi.

Partisipasi lintas daerah ini juga menjadi bukti bahwa kegiatan Dharma Santi di Palembang memiliki daya tarik tersendiri bagi umat Hindu di wilayah Sumatera.

Selain menjadi ajang silaturahmi keagamaan, kegiatan Dharma Santi juga dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus Perkumpulan Adat Bali Sumatera Selatan se-Sumatera Selatan oleh Gubernur Herman Deru.

Pengukuhan tersebut diharapkan mampu memperkuat struktur organisasi PABSS dalam menjalankan program-program sosial, budaya, serta keagamaan di wilayah Sumatera Selatan.

Momentum ini dinilai penting untuk mempererat hubungan antara organisasi adat dengan pemerintah daerah, sehingga berbagai kegiatan keagamaan dapat berjalan dengan baik dan terkoordinasi.

Perayaan Dharma Santi semakin semarak dengan penampilan berbagai kesenian tari tradisional Bali yang memikat perhatian para hadirin. Beberapa tarian yang ditampilkan antara lain Tari Panji Semirang, Tari Sekar Jagat, serta Tari Puspa Puja.

Penampilan tarian tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya Bali yang tetap dijaga oleh masyarakat Hindu di perantauan.

Suasana sakral dan penuh kekhidmatan berpadu dengan nuansa seni budaya yang memukau, menciptakan pengalaman spiritual dan budaya yang mendalam bagi para peserta yang hadir.

Kehadiran para pimpinan daerah dalam perayaan Dharma Santi ini menunjukkan pentingnya menjaga harmoni dan toleransi antarumat beragama di tengah masyarakat yang beragam.

Perayaan yang berlangsung di Pura Agung Sriwijaya menjadi simbol nyata bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun persatuan dan kebersamaan.

Dengan dukungan pemerintah serta partisipasi aktif masyarakat, kegiatan seperti Dharma Santi diharapkan terus menjadi agenda rutin yang tidak hanya memperkuat nilai keagamaan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

Melalui momentum Hari Suci Nyepi Tilem Kesanga Tahun 2026 ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya nilai toleransi, saling menghormati, dan menjaga kerukunan, demi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang damai dan harmonis di Kota Palembang dan sekitarnya. (rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *