Palembang, bidiksumsel.com – Berawal dari ide sederhana dan kreativitas pribadi, usaha persewaan busana anak yang dirintis Sarah Pebfalina, atau yang akrab disapa Mimie Sarah, kini berkembang pesat dan menjadi salah satu pilihan utama masyarakat di Palembang. Melalui usahanya yang dikenal dengan Gallery Mimie Sewa Baju Anak, ia menghadirkan solusi praktis bagi orang tua yang ingin anak tampil menarik tanpa harus membeli busana mahal.
Usaha ini berdiri di Jalan Margoyoso, tepat di depan PT Pusri Palembang, sebuah lokasi strategis yang memudahkan pelanggan untuk menemukan galeri tersebut. Dari tempat inilah berbagai ide kreatif Mimie Sarah diwujudkan dalam bentuk kostum anak yang unik dan beragam.
Beragam pilihan kostum tersedia untuk memenuhi kebutuhan berbagai acara, mulai dari fashion show, pertunjukan seni, lomba puisi, hingga pementasan drama sekolah. Tak heran jika galeri ini semakin dikenal luas di kalangan orang tua yang ingin memberikan penampilan terbaik bagi anak-anak mereka.
Salah satu keunikan utama dari Gallery Mimie Sewa Baju Anak terletak pada desain busana yang sepenuhnya merupakan hasil karya Mimie Sarah sendiri. Kreativitasnya menjadi nilai tambah yang membedakan galeri ini dari usaha sejenis lainnya.
Dalam proses produksi, Mimie Sarah bekerja sama dengan lima orang penjahit yang membantu merealisasikan setiap ide desain. Usaha ini mulai dirintis sejak pertengahan 2021 dan hingga kini terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Menurut Mimie Sarah, koleksi kostum yang tersedia sangat beragam, mulai dari baju adat berbagai daerah di Indonesia, kostum profesi seperti dokter, polisi, hingga busana pesta dan kasual yang sedang tren.
“Pilihan kostum kami cukup lengkap, mulai dari baju adat, profesi, hingga busana pesta dan kasual yang sedang tren. Yang paling diminati pelanggan adalah baju adat dan profesi, dengan mayoritas penyewa anak usia 3 hingga 13 tahun,” ujar Sarah Pebfalina saat ditemui di International Plaza Mall, Jumat (3/4/2026).
Meski fokus utama adalah busana anak-anak, galeri ini juga menyediakan layanan penyewaan untuk remaja hingga orang dewasa. Bahkan, tersedia pula busana khusus untuk orang tua dalam momen tertentu, seperti perayaan Imlek yang setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah penyewa.
Pelanggan dari kalangan Tionghoa menjadi salah satu segmen yang cukup aktif, terutama menjelang perayaan besar. Hal ini menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan Mimie Sarah mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Dari sisi harga, galeri ini menawarkan tarif yang relatif terjangkau. Untuk penyewaan harian, tarif berkisar antara Rp85 ribu hingga Rp125 ribu. Paket lengkap yang dilengkapi aksesoris seperti sepatu, anting, dan hiasan rambut dibanderol sekitar Rp195 ribu.
Sementara itu, untuk baju adat yang memiliki detail dan aksesoris lebih lengkap, tarif sewanya berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per hari. Adapun busana berbahan daur ulang yang memiliki konsep unik ditawarkan dengan tarif sekitar Rp300 ribu per hari.
Namun demikian, Mimie Sarah menegaskan bahwa layanan persewaan lebih difokuskan pada kebutuhan perorangan, seperti untuk fashion show, bukan untuk penggunaan dalam jumlah besar atau kelompok.
Dalam menjaga kualitas layanan, kebersihan busana menjadi perhatian utama. Setiap pakaian yang telah digunakan pelanggan akan melalui proses pencucian terlebih dahulu sebelum disimpan kembali.
Busana yang telah dibersihkan kemudian ditempatkan di lemari khusus untuk memastikan kondisinya tetap bersih, harum, dan siap digunakan kembali oleh pelanggan berikutnya.
Selain kebersihan, proses fitting juga menjadi prosedur wajib sebelum pelanggan menyewa kostum. Hal ini bertujuan untuk memastikan ukuran busana sesuai dengan tubuh anak serta menghindari kesalahan saat digunakan pada hari acara.
“Biasanya pelanggan memberikan informasi detail seperti tinggi dan berat badan anak, serta tema acara. Ini membantu kami menyesuaikan kostum agar lebih pas,” jelas Sarah Pebfalina.
Dalam perjalanan bisnisnya, Mimie Sarah mengakui bahwa tantangan terbesar datang dari beragam karakter pelanggan. Ia mengungkapkan bahwa tidak jarang aksesoris hilang setelah disewa, yang tentu menimbulkan kerugian.
Namun di balik tantangan tersebut, banyak pelanggan yang jujur dan bertanggung jawab. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjadi pelanggan setia dan terus menggunakan jasa galeri tersebut.
“Memang butuh kesabaran menghadapi berbagai karakter. Tapi ada juga pelanggan yang sangat baik, sampai akhirnya menjadi langganan bahkan seperti sahabat,” tuturnya.
Perkembangan usaha ini juga tidak terlepas dari peran media sosial yang dinilai sangat efektif dalam memperluas jangkauan pasar. Informasi mengenai koleksi kostum dan promo disebarluaskan melalui platform digital, sehingga mampu menarik pelanggan baru dari berbagai wilayah.
Pada momen tertentu seperti perayaan Imlek, jumlah penyewa bahkan bisa mencapai sekitar 80 persen dari total pelanggan dalam periode Januari hingga Februari, menandakan tingginya permintaan terhadap layanan tersebut.
Ke depan, Mimie Sarah berharap Gallery Mimie Sewa Baju Anak semakin dikenal luas dan mampu menjangkau lebih banyak pelanggan di berbagai wilayah.
Saat ini, sebagian besar pelanggan masih datang langsung ke galeri untuk memilih kostum yang diinginkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman melihat dan mencoba langsung busana tetap menjadi pilihan utama bagi banyak orang tua.
Sejumlah pelanggan setia seperti Mama Nadhira, ibu Vera, ibu Fania, dan Mama Zahra mengaku telah lebih dari satu tahun menggunakan jasa Mimie Sarah. Mereka pertama kali mengetahui galeri tersebut melalui media sosial dan terus kembali karena kepuasan terhadap layanan yang diberikan.
“Owner-nya ramah dan sangat memahami kebutuhan pelanggan. Pilihan bajunya banyak, nyaman dipakai, dan selalu sesuai dengan keinginan. Kami sangat puas, jadi tidak ingin berpindah ke tempat lain,” ujar Mama Nadhira.
Kisah perjalanan Mimie Sarah menjadi bukti bahwa kreativitas, ketekunan, dan pelayanan yang konsisten dapat membawa sebuah usaha kecil berkembang menjadi bisnis yang dipercaya masyarakat. Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, inovasi dan kedekatan dengan pelanggan menjadi kunci utama untuk terus bertahan dan berkembang. (dkd)













