Palembang, bidiksumsel.com – Inflasi di Provinsi Sumatera Selatan pada Februari 2026 mengalami peningkatan. Berdasarkan data terbaru, inflasi tercatat sebesar 0,58 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya mencapai 0,05 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi Sumatera Selatan juga meningkat menjadi 4,36 persen (year on year/yoy) dari sebelumnya 2,91 persen (yoy). Kenaikan ini sejalan dengan tren nasional yang juga menunjukkan peningkatan inflasi menjadi 4,76 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah normalisasi diskon tarif listrik yang sebelumnya berlaku pada tahun 2025.
Menurutnya, kebijakan tersebut menimbulkan lower base effect, sehingga secara statistik inflasi tahun ini tampak meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara bulanan, inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas utama. Beberapa komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi antara lain emas perhiasan (0,25 persen), cabai merah (0,08 persen), daging ayam ras (0,03 persen), tomat (0,03 persen), serta telur ayam ras (0,02 persen).
Kenaikan harga emas terjadi seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang dianggap aman atau safe-haven di tengah dinamika ekonomi global yang belum stabil.
Sementara itu, kenaikan harga komoditas pangan seperti daging ayam dan telur ras dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Tahun Baru Imlek dan Ramadan.
Adapun kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat juga dipicu oleh terbatasnya pasokan akibat gangguan cuaca di sejumlah daerah sentra produksi.
Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
“Ke depan, tekanan inflasi diprakirakan masih berlanjut seiring meningkatnya konsumsi masyarakat pada Ramadan dan Idulfitri. Risiko kenaikan harga pangan, khususnya hortikultura, tetap perlu diantisipasi mengingat curah hujan diprediksi berada pada level menengah hingga tinggi sampai Maret 2026,” ujar Bambang dalam keterangan resminya yang diterima Kamis (5/3/2026).
Selain itu, harga emas perhiasan diperkirakan masih bertahan pada level tinggi sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi inti.
Namun demikian, potensi kenaikan harga tersebut diprediksi dapat tertahan oleh puncak panen raya padi pada Februari hingga Maret 2026 yang diperkirakan akan memperkuat pasokan pangan dan membantu menjaga stabilitas harga.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.
Hingga akhir Februari 2026, tercatat sudah dilakukan 47 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai wilayah Sumatera Selatan.
Selain itu, pemerintah daerah bersama TPID juga melakukan 16 kali inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan harga tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) serta memastikan ketersediaan stok pangan.
Menjelang Idulfitri, Bank Indonesia Sumsel bersama TPID Kota Palembang juga melakukan sidak langsung ke Pasar Lemabang dan Lotte Grosir Palembang guna memastikan distribusi pangan berjalan lancar dan harga tetap stabil.
Upaya stabilisasi juga dilakukan melalui pemberian subsidi harga dan subsidi ongkos angkut untuk sejumlah komoditas utama. Salah satunya melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di Desa Gasing, Kabupaten Banyuasin dengan dukungan subsidi transportasi untuk sembilan komoditas utama dengan total berat sekitar empat ton.
Selain itu, koordinasi lintas lembaga juga terus diperkuat melalui berbagai forum strategis, seperti Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan TPID wilayah Sumatera, High Level Meeting, serta peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang dihadiri Deputi Gubernur Bank Indonesia bersama kementerian terkait.
Di tingkat daerah, penguatan ketahanan pangan juga didorong melalui program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang pada tahun ini mengusung tema Goes to Pesantren.
Program tersebut dirangkaikan dengan kegiatan business matching antara Kelompok Dukungan Ketahanan dan Diversifikasi Pangan Masyarakat Pesantren (KDKMP) dan koperasi pesantren dengan SPPG sebagai offtaker.
Melalui berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah optimistis inflasi di Sumatera Selatan tetap dapat dikendalikan dalam kisaran sasaran nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (dkd)












