Peringatan Isra Mi’raj 2026, Ketua DPRD Ogan Ilir Ajak Umat Perkuat Spiritualitas dan Etika Sosial

ist

Ogan Ilir, bidiksumsel.com – Dalam rangka memperingati peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 2026, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ogan Ilir H. Edwin Cahya Putra, S.IP, mewakili pimpinan dan seluruh anggota DPRD Ogan Ilir, menyampaikan pesan keagamaan sekaligus refleksi makna Isra Mi’raj bagi kehidupan umat Islam di era modern.

Menurut Edwin, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa historis dalam perjalanan kenabian Rasulullah SAW, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual dan sosial yang sangat relevan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

“Isra Mi’raj adalah momentum untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT sekaligus memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia. Di tahun 2026 ini, tantangannya semakin kompleks, sehingga nilai-nilai spiritual dan akhlak harus terus diperkuat,” ujar Edwin dalam keterangannya. Jumat, 16 januari 2026.

Ia menegaskan, makna paling utama dari peristiwa Isra Mi’raj adalah perintah salat lima waktu yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha tanpa perantara.

Menurutnya, salat tidak hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi merupakan kebutuhan spiritual yang menjaga kedekatan antara hamba dengan Sang Pencipta.

“Salat adalah tiang agama. Dari sanalah kekuatan iman seseorang dibangun. Jika salat terjaga, insya Allah perilaku dan cara hidup juga akan lebih terarah,” katanya.

Edwin juga mengingatkan bahwa disiplin dalam salat akan melahirkan pribadi yang lebih sabar, jujur, dan bertanggung jawab, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan amanah sosial.

Lebih lanjut, Ketua DPRD Ogan Ilir menekankan bahwa Isra Mi’raj mengajarkan umat Islam untuk memiliki keimanan yang kokoh serta ketaatan penuh kepada Allah SWT.

Ia menyebut bahwa perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga naik ke Sidratul Muntaha, merupakan ujian keimanan yang luar biasa, bahkan sulit diterima oleh akal manusia biasa.

“Dari peristiwa itu kita belajar bahwa iman tidak boleh hanya berada pada tataran ilmu (ilmul yaqin), tetapi harus meningkat menjadi keyakinan yang benar-benar tertanam kuat dalam hati (ainul yaqin),” jelasnya.

Menurut Edwin, iman yang kuat akan menjadi fondasi dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, baik persoalan ekonomi, sosial, maupun tantangan moral yang kini banyak dihadapi generasi muda.

Ia juga mengingatkan bahwa Isra Mi’raj terjadi setelah Rasulullah SAW melewati masa paling berat dalam hidupnya, yang dikenal sebagai Amul Huzni atau tahun kesedihan.

Dari peristiwa itu, Edwin mengajak umat Islam untuk tidak mudah putus asa ketika menghadapi cobaan hidup.

“Isra Mi’raj adalah bukti bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Allah selalu memberikan jalan keluar dan pertolongan bagi hamba-Nya yang sabar dan tetap teguh di jalan kebenaran,” ujarnya.

Pesan ini, lanjutnya, sangat relevan bagi masyarakat yang tengah berjuang dalam berbagai kondisi, baik secara ekonomi maupun sosial.

Selain aspek spiritual, Edwin juga menyoroti pentingnya perbaikan akhlak dan perilaku sosial sebagai implementasi nyata dari nilai Isra Mi’raj.

Ia menekankan bahwa umat Islam harus menjunjung tinggi kejujuran, kerendahan hati, sikap saling menghormati, serta tutur kata yang santun dalam kehidupan bermasyarakat.

Di era digital saat ini, ia mengingatkan agar nilai tersebut juga diterapkan dalam penggunaan media sosial.

“Kita harus bijak bermedia sosial, tidak menyebar fitnah, tidak memprovokasi, apalagi menyebarkan ujaran kebencian. Akhlak mulia harus tercermin, baik di dunia nyata maupun di dunia maya,” tegasnya.

Menutup pesannya, Edwin mengajak umat Islam untuk menjadikan Isra Mi’raj sebagai motivasi dalam meningkatkan kualitas diri, baik melalui pendidikan, penguasaan keterampilan, maupun memperbanyak amal kebajikan.

Menurutnya, umat Islam yang kuat secara spiritual, cerdas secara intelektual, dan baik secara moral akan menjadi pondasi penting dalam membangun peradaban yang maju dan bermartabat.

“Pembangunan tidak hanya soal fisik dan infrastruktur, tetapi juga pembangunan manusia. Jika akhlaknya baik dan ilmunya kuat, maka masyarakat akan lebih sejahtera dan daerah akan lebih maju,” pungkasnya.

Peringatan Isra Mi’raj tahun 2026 ini pun diharapkan menjadi momentum bersama bagi masyarakat Ogan Ilir untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis, damai, dan berkeadaban. (rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *