Bukan Sekadar Maju, dr Jafrizal Datang Membawa “Arah Baru” untuk Agribisnis Sumsel

Dr. drh. Jafrizal, MM, Dokter Hewan, Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumatera Selatan/ist

Dari Kandang ke Meja Regulasi : Ketika dr Jafrizal Menawarkan Arah Baru Agribisnis Sumsel

Palembang, bidiksumsel.com – Ada momentum langka dalam dinamika organisasi : ketika seseorang tidak hanya maju sebagai calon, tetapi datang membawa gagasan yang mengguncang kesadaran kolektif. Momentum semacam itu kini muncul di Sumatera Selatan, melalui langkah Dr. drh. Jafrizal, MM Dokter Hewan sekaligus Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumatera Selatan yang secara resmi menyatakan kesiapan maju sebagai Calon Ketua Umum DPD Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) Sumsel. Selasa, 13 Januari 2026.

Ini bukan pencalonan biasa.
Ini adalah pernyataan arah.

Selama ini, agribisnis sering dipersempit maknanya menjadi sekadar urusan produksi: berapa ton panen, berapa populasi ternak, berapa angka pertumbuhan. Statistik menjadi panglima. Volume menjadi ukuran sukses.

Namun Jafrizal datang dengan sudut pandang berbeda, bahkan berani.

“Agribisnis bukan soal banyaknya produksi, tetapi seberapa sehat ekosistemnya.”

Kalimat itu bukan lahir dari ruang seminar atau meja diskusi elite. Ia tumbuh dari pengalaman lapangan: kandang yang terkena wabah, pelaku usaha kecil yang terhimpit regulasi tanpa pendampingan, konflik sosial akibat usaha yang berkembang tanpa tata kelola, hingga persoalan keamanan pangan yang dampaknya langsung menyentuh masyarakat.

Sebagai Pejabat Otoritas Veteriner, Jafrizal berada di garis depan persoalan tersebut. Ia menghadapi penyakit hewan menular, mengawal standar keamanan pangan, menjembatani pelaku usaha dengan regulasi, sekaligus menyaksikan bagaimana usaha yang “tumbuh cepat” bisa menjadi bom waktu jika tidak ditopang sistem yang sehat.

Dari sanalah visinya lahir.

Dalam pencalonannya, Jafrizal mengusung visi :

“Menjadikan MAI Sumsel sebagai pelopor agribisnis dan agroindustri yang sehat, aman, bernilai tambah, dan berdaya saing.”

Bagi sebagian orang, kalimat ini mungkin terdengar normatif. Namun dalam penjelasannya, visi tersebut diterjemahkan secara konkret.

Baginya, usaha yang sehat hanya mungkin lahir dari :

  • ternak dan tanaman yang sehat,
  • pangan yang aman dikonsumsi,
  • sistem produksi yang tertib,
  • serta kepatuhan terhadap standar.

Ia secara terbuka menyebut standar seperti Nomor Kontrol Veteriner (NKV), biosekuriti, sertifikasi, dan traceability bukan sebagai beban, tetapi sebagai tameng.

“Standar itu bukan untuk menakut-nakuti pelaku usaha, tapi untuk melindungi mereka agar usahanya bertahan, berkembang, dan dipercaya pasar,” tegasnya dalam salah satu pernyataan.

Pendekatan ini sekaligus menempatkan MAI bukan hanya sebagai forum pengusaha, tetapi sebagai pusat pembinaan ekosistem usaha yang berkelanjutan.

Berani Bicara Hilirisasi Saat yang Lain Sibuk di Produksi

Di tengah perdebatan panjang soal kuota, populasi, dan angka produksi, Jafrizal melangkah lebih jauh.

“Kita tidak boleh berhenti menjadi pemasok bahan mentah. Nilai tambah harus tinggal di daerah, bukan pergi bersama bahan baku.”

Pernyataan ini menyentuh persoalan klasik Sumatera Selatan: kaya sumber daya, miskin nilai tambah.

Dalam peta jalan yang ia tawarkan, MAI Sumsel harus menjadi penggerak :

  • industri pengolahan,
  • pengemasan modern,
  • standardisasi produk,
  • akses pembiayaan,
  • hingga koneksi pasar nasional dan ekspor.

Petani dan peternak tidak lagi sekadar produsen bahan mentah, tetapi pelaku utama rantai nilai.

Regulasi Bukan Musuh

Salah satu pernyataannya yang paling menggetarkan justru tentang regulasi :

“Usaha tidak tumbuh karena aturan dihapus, tetapi karena aturan dipahami, dibina, dan dijalankan bersama.”

Kalimat ini menampar kebiasaan lama: menyalahkan regulasi setiap kali usaha tersendat. Menurut Jafrizal, masalah utamanya bukan pada banyaknya aturan, tetapi minimnya pendampingan, komunikasi, dan jembatan antara pemerintah dan pelaku usaha.

MAI Sumsel, dalam visinya, harus berdiri di tengah :

  • mengurai konflik,
  • memberi kepastian hukum,
  • membangun kepercayaan,
  • sekaligus menciptakan iklim investasi yang aman.

Rekam jejak Jafrizal bukan cerita instan.

Dua periode memimpin PDHI Sumsel, aktif di KAGAMA, KAHMI, serta jaringan profesi nasional, membentuk karakter kepemimpinan yang dikenal tenang, substansial, dan fokus pada arah jangka panjang.

Kini, ia tidak sekadar ingin memimpin organisasi.

Ia ingin mengubah cara berpikir agribisnis di Sumatera Selatan.

Pertanyaan sesungguhnya kini bukan siapa yang mencalonkan diri.

Tetapi :
apakah MAI Sumsel ingin tetap berjalan biasa-biasa saja,
atau berani melompat menjadi organisasi penentu arah?

Di tengah tekanan global, tuntutan standar internasional, dan krisis pangan yang menghantui, gagasan Jafrizal hadir tepat waktu.

Ini bukan soal kursi ketua.

Ini tentang masa depan.

Ketika seorang Pejabat Otoritas Veteriner melangkah ke panggung organisasi agribisnis dengan gagasan keberlanjutan, kepastian usaha, dan perlindungan konsumen, maka yang bergerak bukan hanya struktur organisasi.

Arah sejarah sedang ditawarkan.

Dan seperti tagline yang ia usung:

“Usaha Sehat, Pangan Aman, Agribisnis Berdaya Saing.”

Bukan sekadar kata-kata.

Melainkan perlawanan terhadap cara lama. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *