Ditjenpas Sumsel Gelar Legal Clinic di Mal Palembang, Ribuan Warga Padati Atrium!

bidiksumsel.com/dkd

Palembang, bidiksumsel.com – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sumatera Selatan kembali memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan pemasyarakatan melalui pendekatan yang lebih terbuka, kolaboratif, dan edukatif. Hal itu diwujudkan dengan penyelenggaraan Talk Show Program Pelayanan Hukum dalam skema Legal Clinic Collaboration (LCC), yang dikemas bersamaan dengan pameran produk hasil karya warga binaan dari seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Sumatera Selatan.

Acara yang mengangkat tema “Wujudkan Keadilan Hukum Bersama LCC dalam Penegakan Supremasi Hukum di Lapas, Rutan, dan LPKA” tersebut digelar di Atrium OPI Mall Palembang pada Jumat (14/11/2025). Ribuan pengunjung yang memadati pusat perbelanjaan tersebut tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari.

Kepala Kanwil Ditjenpas Sumsel, Erwedi Supriyatno, yang sekaligus menjadi inisiator kegiatan, tampil sebagai narasumber utama dalam talk show. Ia menggandeng sejumlah ahli yang berkompeten di bidang layanan hukum pemasyarakatan, di antaranya Asnedi, Penyuluh Hukum Ahli Madya Kanwil Kemenkumham Sumsel, serta Derriansyah Putra Jaya, Ketua Pusat Kajian Politik, Kebijakan dan Pembangunan Strategis Habibie Learning Center (HLC).

Dalam pemaparannya, Erwedi menegaskan bahwa program Legal Clinic Collaboration menjadi salah satu langkah strategis Ditjenpas dalam menjawab kebutuhan layanan hukum terpadu bagi warga binaan, baik narapidana, tahanan, maupun anak binaan.

“Program LCC adalah langkah kami untuk terus berbenah dan memberikan pelayanan hukum yang lebih baik. Mulai dari penyuluhan hukum, konsultasi, pendampingan, hingga mediasi, semuanya kami siapkan agar hak-hak mereka benar-benar terpenuhi,” tegas Erwedi di hadapan peserta talk show.

Ia menjelaskan bahwa pemenuhan hak-hak hukum warga binaan merupakan amanat undang-undang, sekaligus bagian dari upaya membangun sistem pemasyarakatan yang lebih humanis dan berkeadilan.

Pameran Karya Warga Binaan, dari Kain Serat Nanas hingga Atraksi Seni

Selain talk show, acara ini diramaikan oleh pameran produk hasil karya UPT Pemasyarakatan se-Sumatera Selatan. Berbagai produk unggulan warga binaan dipamerkan, mulai dari kain jumputan khas Palembang, kain berbahan serat nanas, hingga kerajinan tangan dan produk kreatif lainnya.

Pengunjung juga dibuat kagum dengan penampilan band dan pertunjukan tari modern (dance) yang dibawakan oleh warga binaan, menampilkan sisi lain dari proses pembinaan yang selama ini jarang terlihat oleh publik.

Erwedi menyebut bahwa pameran ini bukan sekadar ajang unjuk kreativitas, tetapi bukti nyata keberhasilan pembinaan kemandirian yang dijalankan oleh lapas dan rutan di Sumsel.

“Pembinaan kami tidak berhenti. Ini bukti bahwa mereka berproses dan terus berkembang. Ketika bebas nanti, kami ingin mereka mandiri, bisa membuka usaha, dan memiliki keterampilan yang bermanfaat,” ucapnya.

Membuka Mata Publik : Warga Binaan Bukan Untuk Distigma

Salah satu tujuan besar kegiatan ini adalah membuka perspektif masyarakat bahwa pembinaan warga binaan bukan hanya tanggung jawab lapas dan rutan, tetapi membutuhkan dukungan luas dari pemerintah daerah, swasta, komunitas, hingga masyarakat umum.

Erwedi menekankan pentingnya empati dan penerimaan sosial bagi warga binaan yang kelak kembali ke masyarakat.

“Mereka bukan orang jahat. Mereka hanya tersesat dan membutuhkan dukungan moral untuk memperbaiki diri,” ujarnya penuh penekanan. “Kami berharap masyarakat dapat menerima mereka ketika bebas nanti, bukan malah memberi label buruk.”

Ia menambahkan bahwa tanpa dukungan masyarakat, proses reintegrasi sosial tidak akan berjalan optimal. Hilangnya stigma dan terbukanya kesempatan kedua adalah kunci agar warga binaan dapat kembali menjadi pribadi yang bermanfaat. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *