Literasi Tak Boleh Diam, Saat Algoritma Menjadi Ruang Baca Baru
OKI, bidiksumsel.com – Di era ketika informasi beredar lebih cepat daripada kesadaran, dan viral lebih dahulu hadir ketimbang verifikasi, satu hal menjadi sangat penting : bagaimana kita mendefinisikan ulang makna literasi. Di tengah debat soal kualitas konten digital, muncul satu harapan dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Lewat langkah sederhana namun bermakna, Pemerintah Kabupaten OKI, melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, menyelenggarakan Bimbingan Teknis Lomba Video Konten Literasi, sebuah kegiatan yang tampaknya kecil, tapi berdampak besar. Jumat, 1 Agustus 2025.
Mengapa penting? Karena literasi hari ini tidak bisa lagi sekadar bicara tentang kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus bisa menembus layar gawai, menggugah pikiran dalam 60 detik pertama, dan menancap dalam memori meski dalam bentuk reels atau shorts. Literasi hari ini adalah kemampuan untuk menyampaikan gagasan, menggugah kesadaran, dan membangun koneksi makna, lewat medium yang digunakan jutaan orang setiap hari : video.
Apa yang dilakukan Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki, bukan sekadar menyelenggarakan lomba. Itu adalah deklarasi bahwa literasi harus bergerak, beradaptasi, dan masuk dalam algoritma. Dalam pernyataannya, Bupati menyebut bahwa kegiatan ini membangun ruang edukasi, kreativitas, dan pembinaan. Bukan kalimat normatif, tapi sinyal bahwa kepemimpinan daerah harus ikut serta dalam medan kontestasi ide-ide digital.
A. Saepuloh, SP, atau lebih dikenal sebagai Kang Asep sebagai Sekretaris Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten OKI, saya melihat ini sebagai titik balik penting. Dalam video berdurasi 1–3 menit itu, tersembunyi kerja panjang : riset, ide, diskusi, revisi, hingga pengeditan larut malam. Ini bukan sekadar lomba konten. Ini adalah ritus literasi digital.
Di balik setiap transisi halus dan narasi suara, tersimpan upaya menyampaikan pesan. Bahwa kampung halaman punya cerita. Bahwa lokalitas punya daya saing. Bahwa anak muda di pelosok pun bisa bicara pada dunia, asal diberi ruang. Dan OKI baru saja memberi ruang itu.
Literasi visual dan digital memang berbeda. Ia tak cukup hanya paham isi bacaan, ia menuntut kemampuan merangkai makna, memilih diksi visual, menata ritme suara, dan menyentuh perasaan penonton. Dalam hal ini, peserta lomba bukan hanya calon kreator konten, tapi agen perubahan budaya.
Kami percaya, masa depan literasi tidak dimiliki segelintir orang di perpustakaan atau seminar. Literasi milik siapa pun yang berani menyampaikan gagasan. Entah itu santri yang membuat video animasi tentang toleransi, pelajar yang membahas kebiasaan membaca di rumah, petani muda yang bercerita tentang hidup dari sawah, atau ibu rumah tangga yang menyampaikan nilai budaya dalam vlog dapurnya. Mereka semua adalah wajah baru dari gerakan literasi digital.
Tantangannya? Masyarakat, termasuk pemerintah, sekolah, dan komunitas, harus berhenti hanya menjadi penonton. Kita harus mulai mensponsori proses penciptaan konten. Karena satu video yang inspiratif bisa menumbuhkan rasa ingin tahu. Dan dari situ, bisa lahir kebiasaan membaca, belajar, hingga membangun karya mandiri.
Literasi yang di-klik lebih mungkin menyentuh hati generasi muda dibanding buku yang tak tersentuh. Jika itu kenyataan, maka mari kita bangun narasi dari dalam, dari lokalitas, dan dari pengalaman personal. Biarkan dunia mengenal OKI bukan hanya dari peta, tapi dari video yang menceritakan nilainya.
Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten OKI menyatakan komitmennya untuk terus mendorong kreativitas konten berbasis literasi. Kami membuka diri bekerja sama dengan komunitas, sekolah, madrasah, dan siapa pun yang peduli. Karena masa depan bukan tentang siapa yang punya akses ke buku, tapi siapa yang punya keberanian menyampaikan gagasan dengan cara yang bisa menjangkau dunia.
Hari ini, mungkin hanya satu lomba video. Tapi kami yakin, dari sini akan lahir ratusan suara baru yang menyampaikan literasi bukan dengan diam, tapi dengan gerak visual yang menggugah. (as)







