Tampil Berani dan Berbudaya, Komasa Sumsel Raih Juara “Busana Tervariasi”!

fhoto : bidiksumsel.com/dkd

Kebaya dalam Genggaman Komasa Sumsel : Warna, Pesan, dan Prestasi di Hari Kebaya Nasional

Palembang, bidiksumsel.com – Minggu pagi, 20 Juli 2025. Halaman Kantor Gubernur Sumatera Selatan mendadak berubah menjadi lautan warna dan kain anggun. Deretan perempuan dari berbagai organisasi dan komunitas di Sumsel tampak bersemangat menyemarakkan Hari Kebaya Nasional 2025. Mereka datang dengan semangat yang sama : memperingati warisan budaya perempuan Indonesia, kebaya.

Namun dari semua peserta yang tampil penuh semarak, satu nama mencuri perhatian juri dan masyarakat Dewan Pimpinan Wilayah Komando Macan Asia (Komasa) Sumatera Selatan. Dengan langkah mantap dan kebaya beraneka corak serta gaya, 18 anggotanya tampil kompak dan berkarakter, menghidupkan esensi kebaya sebagai warisan budaya yang penuh kreativitas.

Tak heran, mereka pun pulang membawa gelar “Busana Tervariasi”, penghargaan bergengsi yang diberikan oleh Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumsel.

Menenun Budaya dalam Ragam Warna

Di tengah deru tepuk tangan dan suara musik tradisional, sosok Zulhijrian Tina Sari, atau yang akrab disapa Bunda Riyanti, tampil memimpin pasukan kebaya Komasa. Mengenakan kebaya modifikasi yang kaya detail, ia tampak memancarkan keanggunan sekaligus kekuatan.

“Kami ingin menampilkan bahwa kebaya itu tidak kaku. Bisa modern, bisa klasik, bisa penuh warna, tapi tetap menyampaikan keindahan budaya Indonesia,” ujar Bunda Riyanti saat ditemui sehari setelah acara. Senin, 21 Juli 2025.

Bersama Dewan Pembina Komasa, Rosmarni, B.Sc, Bunda Riyanti mengoordinasikan seluruh penampilan dengan detail. Dari pemilihan kain, konsep penampilan, hingga koreografi kecil di panggung.

Tak hanya dinilai atas busana, semangat kolektif para anggota juga mendapat apresiasi. Beberapa pengurus bahkan mendapatkan doorprize sebagai bentuk pengakuan atas partisipasi mereka.

Kebaya sebagai Narasi Perempuan

Bagi Komasa Sumsel, mengenakan kebaya bukan sekadar mengikuti ajang lomba. Ada narasi perjuangan, estetika, dan identitas perempuan Indonesia di balik setiap jahitan dan motif.

“Kebaya adalah simbol kekuatan perempuan yang lemah lembut namun tangguh. Ia tak pernah kehilangan makna, meski zaman terus berubah,” kata Bunda Riyanti penuh semangat.

Menurutnya, kebaya tidak hanya pantas dikenakan dalam momen-momen formal. Dengan sentuhan kreatif, kebaya bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di ranah anak muda. “Kuncinya adalah pada keberanian berinovasi, tanpa meninggalkan akar budayanya.”

Kolaborasi & Spirit Lintas Generasi

Parade ini tidak hanya menampilkan keindahan busana, tetapi juga menjadi ajang kolaborasi antargenerasi. Banyak anak muda terlihat mengenakan kebaya dengan bangga, berdampingan dengan ibu-ibu komunitas dan tokoh masyarakat. Bagi Komasa, ini adalah bukti bahwa kebaya bisa menjadi jembatan nilai dan warisan antar generasi.

“Anak-anak muda sekarang ingin tampil beda, tapi tetap punya identitas. Nah, kebaya bisa menjawab itu,” ujar Rosmarni yang juga menyampaikan bahwa Komasa akan terus mengembangkan kegiatan kebudayaan lainnya sebagai bagian dari program pemberdayaan perempuan.

Mengukir Langkah Menuju Masa Depan

Penghargaan “Busana Tervariasi” bukanlah titik akhir. Bagi DPW Komasa Sumsel, ini adalah pijakan awal menuju peran yang lebih besar dalam pelestarian budaya nasional. Mereka berencana menjadikan Hari Kebaya Nasional sebagai momen tahunan yang lebih inklusif dan meriah, melibatkan sekolah, komunitas, hingga UMKM kebaya lokal.

“Kami ingin merangkul lebih banyak pihak. Budaya harus dirayakan bersama, tidak eksklusif. Dan perempuan punya peran sentral dalam menjaga itu semua,” tutup Bunda Riyanti dengan senyum hangat. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *