Karantina Sumsel Kumpulkan Pelaku Ekspedisi : ‘Media Pembawa Berbahaya Mengintai di Setiap Paket!’

ist

Palembang, bidiksumsel.com – Di tengah meningkatnya arus logistik dan aktivitas e-commerce, Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Selatan (Karantina Sumsel) mengambil langkah strategis untuk memperkuat kepatuhan pelaku usaha jasa pengiriman. Melalui kegiatan sosialisasi bertajuk “Membangun Kepatuhan Bersama Mitra Ekspedisi” yang digelar di Fave Hotel Palembang, Senin (24/11/2025), Karantina Sumsel mengajak para penyelenggara jasa ekspedisi berdiskusi mengenai risiko peredaran media pembawa hama penyakit dan organisme pengganggu.

Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber kunci, di antaranya Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Karantina Indonesia Hudiansyah Is Nursal, Kepala Karantina Sumsel Sri Endah Ekandari, Ketua Asperindo DPW Sumsel Haris Jumadi, serta Cargo & Logistic Deputy Branch Head PT Integrasi Aviasi Solusi Ricky Rachmatsya. Para peserta yang hadir berasal dari perusahaan ekspedisi, asosiasi logistik, serta mitra penyelenggara jasa pengiriman yang menjadi bagian penting dalam rantai distribusi komoditas.

Kepala Karantina Sumsel, Sri Endah Ekandari, menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini digelar untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha terkait aturan, dokumen, dan prosedur karantina. Terutama menyangkut media pembawa berisiko, seperti tanaman, hasil pertanian, hewan, ikan, serta produk olahannya komoditas yang berpotensi membawa HPHK (Hama Penyakit Hewan Karantina), HPIK (Hama Penyakit Ikan Karantina), dan OPTK (Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina).

“Budaya kepatuhan harus tumbuh kuat. Risiko pengiriman di jalur e-commerce semakin tinggi, sehingga setiap pihak harus memahami standar keamanan hayati,” ujar Sri Endah.

Ia menambahkan bahwa pelaku ekspedisi sejatinya merupakan garda terdepan dalam proses distribusi barang. Mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat dan menjadi filter awal terhadap potensi pelanggaran dokumen karantina dalam paket kiriman. Kehadiran para penyelenggara jasa pengiriman pada kegiatan ini, menurutnya, menunjukkan komitmen nyata dalam memastikan bahwa lalu lintas komoditas berlangsung aman, sehat, dan sesuai regulasi.

Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Karantina Indonesia, Hudiansyah Is Nursal, menyoroti aspek kepatuhan karantina di tengah lonjakan mobilitas pengiriman barang. Menurutnya, kelalaian dalam prosedur karantina dapat membuka peluang masuknya media pembawa berbahaya yang dapat mengancam keamanan hayati nasional.

“Sosialisasi ini adalah ruang untuk menyamakan pemahaman dan memperkuat koordinasi. Kita ingin proses pengiriman semakin tertib, cepat, dan sesuai aturan,” ungkap Hudiansyah.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara Karantina dan pelaku ekspedisi menjadi fondasi penting dalam mendukung upaya pemerintah mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit melalui jalur logistik.

“Kerja sama yang solid adalah fondasi ekosistem logistik yang sehat, aman, dan berdaya saing,” lanjutnya.

Selain pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi teknis dan sesi tanya jawab mengenai berbagai isu operasional. Mulai dari alur pemeriksaan karantina di bandara dan pelabuhan, penanganan komoditas berisiko, hingga langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan ekspedisi dalam mencegah pelanggaran dokumen karantina.

Para peserta aktif bertanya terkait proses pemeriksaan, standar keamanan, mekanisme pelaporan, dan tantangan teknis yang sering muncul di lapangan menandakan tingginya kebutuhan dan komitmen terhadap kepatuhan karantina.

Kegiatan ditutup dengan Penandatanganan Komitmen Bersama antara Karantina Sumsel dan para mitra ekspedisi. Dokumen komitmen tersebut menjadi deklarasi kesungguhan seluruh pihak untuk :

  • membangun budaya kepatuhan,
  • memperkuat kolaborasi dalam pencegahan hama penyakit,
  • mewujudkan lalu lintas logistik yang aman dan tertib,
  • mendukung traceability dan ketertiban dokumen karantina.

“Dengan komitmen ini, kami berharap sinergi Karantina dan mitra ekspedisi semakin solid dan menjadi contoh kolaborasi yang baik dalam menjaga keamanan hayati dan pangan Indonesia,” tutup Sri Endah.

Melalui kegiatan ini, Karantina Sumsel menunjukkan langkah progresif dalam menjaga keamanan hayati nasional. Di tengah meningkatnya tantangan logistik modern, kerja sama dengan mitra ekspedisi menjadi pondasi penting untuk memastikan seluruh komoditas yang bergerak di jalur distribusi tetap aman, sehat, dan sesuai ketentuan. Langkah preventif ini sekaligus memperkuat ekosistem logistik nasional dalam menghadapi ancaman media pembawa berbahaya di era digital saat ini. (bd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *