Gubernur Herman Deru Tinjau Revitalisasi RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau, Pastikan Layanan Kesehatan Tanpa Kasta!

ist

Lubuklinggau, bidiksumsel.com – Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru (HD) menegaskan kembali komitmennya dalam pemerataan layanan kesehatan di seluruh wilayah Sumsel. Usai melaksanakan Salat Jumat, Gubernur Deru bersama sejumlah kepala daerah meninjau langsung proyek revitalisasi Gedung Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Siti Aisyah di Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Jumat (17/10/2025).

Dalam peninjauan tersebut, Herman Deru didampingi Wali Kota Lubuklinggau H. Rachmat Hidayat, Anggota DPR RI Fauzi H. Amro, serta Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Muchendi Mahzareki. Turut hadir Forkopimda Kota Lubuklinggau, para kepala OPD Provinsi Sumsel, jajaran OPD Pemkot Lubuklinggau, serta Direktur RSUD Siti Aisyah dr. Charlie Esa Kenedy, MARS.

Rombongan Gubernur HD meninjau setiap ruangan yang tengah direvitalisasi, mulai dari kamar rawat inap, ruang perawatan intensif, hingga fasilitas penunjang medis. Progres pembangunan disebut sudah mencapai tahap akhir dengan sejumlah ruangan siap difungsikan dalam waktu dekat.

Dalam kesempatan itu, Herman Deru menegaskan pentingnya empat pilar utama kesehatan dalam sistem pelayanan di rumah sakit, yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

“Kesehatan merupakan layanan dasar yang harus dapat diakses oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Pastikan bahwa setiap warga, tanpa ada kasta, dapat memperoleh layanan kesehatan yang memadai dan berkualitas,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan sektor kesehatan tidak hanya berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi juga harus diiringi dengan peningkatan kesadaran masyarakat dan profesionalisme tenaga medis.

“Promotif berarti kita mendorong masyarakat untuk hidup sehat. Preventif mencegah penyakit sebelum datang. Kuratif menyembuhkan, dan rehabilitatif membantu masyarakat pulih dan kembali produktif. Semua pilar ini harus berjalan seimbang,” tambah HD.

Sementara itu, Wali Kota Lubuklinggau H. Rachmat Hidayat menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terhadap pengembangan fasilitas kesehatan di daerahnya.

Ia menjelaskan bahwa revitalisasi Gedung Rawat Inap RSUD Siti Aisyah dibiayai melalui Bantuan Gubernur Sumsel bersifat khusus (Bangubsus) sebesar Rp12 miliar.

“Bantuan sebesar Rp12 miliar ini kami manfaatkan untuk membangun ruang rawat inap yang lebih modern dan memenuhi standar BPJS. Dengan begitu, masyarakat Lubuklinggau dan sekitarnya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik,” ungkap Rachmat.

Menurutnya, RSUD Siti Aisyah saat ini memiliki 22 dokter spesialis dan 4 dokter umum, yang siap melayani kebutuhan masyarakat secara optimal.

“RSUD ini berusaha untuk mengembangkan diri sebagai rumah sakit rujukan regional bagi masyarakat Kota Lubuklinggau dan daerah sekitarnya, sesuai dengan visi rumah sakit yaitu menjadi rumah sakit unggulan yang bermutu dan berkualitas,” ujarnya.

Direktur RSUD Siti Aisyah dr. Charlie Esa Kenedy, MARS menambahkan bahwa proyek revitalisasi ini mencakup perbaikan infrastruktur fisik, penambahan ruang perawatan, dan peningkatan fasilitas pendukung pasien.

“Kami sedang menyiapkan sejumlah ruang rawat inap baru yang lebih representatif dan nyaman. Ke depan, RSUD Siti Aisyah akan menjadi rumah sakit dengan standar pelayanan kelas regional yang diakui di wilayah barat Sumatera Selatan,” jelasnya.

Selain infrastruktur, pihak rumah sakit juga tengah menyiapkan peningkatan mutu layanan berbasis digitalisasi rekam medis dan sistem antrean online, sejalan dengan kebijakan transformasi kesehatan nasional yang digalakkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Gubernur Herman Deru dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa pemerataan fasilitas kesehatan di seluruh kabupaten/kota Sumatera Selatan menjadi prioritas pemerintah provinsi.

“Saya ingin setiap warga, baik yang di kota maupun di pedesaan, bisa mendapatkan layanan kesehatan berkualitas. Karena kesehatan adalah hak dasar, bukan fasilitas mewah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pelayanan publik di bidang kesehatan harus dilandasi empati dan keikhlasan. “Tidak boleh ada diskriminasi dalam pelayanan. Rumah sakit harus jadi tempat pengharapan, bukan ketakutan,” pungkasnya. (rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *