FORTASI & Diksar Digabung! Siswa Baru SMK Muhammadiyah 3 Ditempa Jadi Generasi Tangguh

fhoto : 110 siswa dari lima jurusan SMK Muhammadiyah 3 Palembang saat melakukan orientasi dan pendidikan dasar di kompleks Universitas Muhammadiyah Plaju, Jumat, 18 Juli 2025/(bidiksumsel.com/dkd)

Palembang, bidiksumsel.com – Di balik bangunan sederhana SMK Muhammadiyah 3 Palembang, sedang tumbuh generasi muda yang tidak hanya kuat dalam keterampilan teknis, tetapi juga tangguh secara mental dan spiritual. Mulai 14 hingga 19 Juli 2025, sekolah yang berlokasi di kompleks Universitas Muhammadiyah Plaju itu menjadi saksi lahirnya harapan-harapan baru bangsa melalui agenda orientasi dan pendidikan dasar yang luar biasa.

Sebanyak 110 siswa dari lima jurusan berkumpul dalam satu semangat : menjadi pelajar siap kerja dan siap hidup. Dari jurusan Perhotelan, Kuliner, hingga Busana, semuanya bergabung dalam Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (FORTASI). Namun, sorotan utama tahun ini jatuh kepada dua jurusan baru : Teknik Geologi Pertambangan dan Teknik Alat Berat.

Dua jurusan ini bukan sekadar pelengkap daftar. Mereka adalah jawaban atas kebutuhan industri yang tengah berkembang pesat di Indonesia, terutama sektor pertambangan dan alat berat. SMK Muhammadiyah 3 Palembang menangkap peluang ini, dan langsung bertindak cepat.

Ditempa ala TNI, Diksar Jadi Bekal Hidup

Bagi 40 siswa dari dua jurusan tersebut, minggu itu bukan hanya tentang mengenal sekolah. Mereka ditempa dalam program Pendidikan Dasar (Diksar) yang digelar selama tiga hari dua malam, in camp di lingkungan sekolah. Di bawah bimbingan langsung anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), siswa-siswa ini dilatih secara disiplin, ketat, dan sistematis layaknya pasukan militer yang bersiap menghadapi medan berat.

“Tujuan kami bukan sekadar menggembleng fisik, tapi juga membentuk karakter,” ujar Yodie Permana, Wakil Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 3. “Mereka harus kuat secara mental, karena dunia kerja terutama di tambang tidak selalu ramah.”

Para siswa bangun sejak subuh, menjalani kegiatan salat tahajud, dilanjutkan olahraga fisik, makan bersama tanpa boleh menyisakan satu butir nasi pun. Bahkan untuk makan saja, mereka diwajibkan membuat laporan. Semua dirancang untuk membentuk sikap tanggung jawab dan rasa hormat terhadap kebersamaan.

Di tengah ketegasan ala militer, sisi spiritual tidak dilupakan. Kegiatan salat berjamaah, pembacaan Al-Qur’an, hingga kajian keagamaan menjadi bagian integral dari agenda. “Kami ingin membentuk siswa yang kuat bukan hanya di badan, tapi juga di iman,” kata Yodie. Balance antara fisik dan batin inilah yang diharapkan menjadi pembeda lulusan SMK Muhammadiyah 3 dengan sekolah lain.

Tradisi Baru, Harapan Baru

Program Diksar ini adalah yang pertama kali dilaksanakan, namun pihak sekolah berkomitmen menjadikannya tradisi tahunan bagi jurusan-jurusan yang menuntut kesiapan lapangan tinggi. Marti Ayu Lestari, Ketua Panitia kegiatan, menambahkan bahwa program ini sudah menunjukkan dampak positif terhadap solidaritas dan mental siswa.

“Mereka sekarang lebih rapi, lebih kompak, dan tahu arti kerja sama. Itu modal penting untuk dunia kerja,” katanya.

Yang paling membanggakan, SMK Muhammadiyah 3 tidak hanya memberikan pelatihan internal. Mereka juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan besar, seperti PT Semen Baturaja dan United Tractors, untuk membuka peluang magang hingga kerja nyata bagi para lulusan.

“Banyak orang tua berharap anak-anak mereka bisa kerja di perusahaan besar. Kami hadir menjembatani itu,” ujar Yodie dengan penuh semangat.

Tak heran jika banyak orang tua mulai melirik SMK Muhammadiyah 3 sebagai tempat pendidikan vokasi yang menjanjikan masa depan cerah. Jurusan-jurusan yang ditawarkan dirancang berdasarkan riset kebutuhan industri, bukan hanya tren sesaat.

Dalam sistem pendidikan Indonesia, sekolah kejuruan atau vokasi seringkali dianggap sebagai pilihan kedua. Namun, SMK Muhammadiyah 3 Palembang membalik paradigma itu. Dengan pelatihan disiplin, pembentukan karakter, pembinaan spiritual, dan jejaring dunia kerja yang konkret, sekolah ini layak menjadi model pendidikan vokasi modern yang mampu menjawab tantangan zaman.

“Anak-anak kami tidak hanya akan lulus dengan ijazah, tapi juga dengan pengalaman, karakter, dan peluang nyata di depan mata,” tutup Yodie. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *