Indonesia di Peringkat Kedua Dunia dalam Kasus TB : Pemerintah Prabumulih Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Penanggulangan
Prabumulih, bidiksumsel.com – Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan global yang serius dan menjadi penyebab kematian yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bahkan, Indonesia berada di urutan kedua dunia dalam jumlah kasus TB setelah India. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi pemerintah dan masyarakat, mengingat dampak yang ditimbulkan oleh penyakit ini sangat luas.

Penjabat (Pj.) Walikota Prabumulih, H Elman STMM, menyatakan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memerangi TB. “Perlu peningkatan peran serta semua pihak yakni pemerintah, organisasi profesi, para mitra, juga masyarakat untuk berpartisipasi dalam mendukung penanggulangan TBC baik dalam pencegahan, penemuan kasus, dan pengobatan sampai sembuh,” ujarnya. Rabu, (07/08/2024).
Menurut Elman, kolaborasi ini akan sangat efektif jika dilakukan secara menyeluruh dan terkoordinasi.
Orang nomor satu di jajaran Pemkot Prabumulih ini mengajak semua elemen untuk aktif mencegah TB dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta segera memeriksakan diri jika mengalami atau menemukan gejala-gejala TB.
“Penting juga agar kita menghilangkan stigma pada pasien TB. Mari kita dukung mereka agar dapat melakukan pengobatan hingga tuntas,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Prabumulih, dr Hj Hesti Widyaningsih MM, menekankan pentingnya kesadaran dan kepedulian tentang penemuan terduga TB, pencegahan penularan, pemeriksaan, dan pengobatan yang berkualitas. Dinkes Prabumulih, lanjut Hesti, berupaya meningkatkan keterlibatan semua fasilitas layanan kesehatan dalam memberikan layanan TB dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS).
Selain itu, Hesti menjelaskan bahwa pihaknya juga melibatkan mantan pasien TB dalam program pencegahan dan pengendalian TB. “Keterlibatan mereka sangat penting karena mereka bisa memberikan motivasi dan edukasi yang lebih efektif kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan,” jelasnya.
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menular dari satu orang ke orang lain melalui udara, biasanya ketika seseorang dengan TB aktif batuk atau bersin. Meski begitu, TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan teratur selama enam bulan.
Menurut estimasi World Health Organization (WHO), terdapat sekitar 9 juta kasus TB di dunia setiap tahun. Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada sekitar 845.000 kasus per tahun, sementara di Sumatera Selatan sekitar 33.733 kasus per tahun. Di Kota Prabumulih, kasus TB diperkirakan mencapai 1.169 per tahun.
Indonesia memiliki target ambisius untuk mencapai eliminasi TB pada tahun 2030. Target ini meliputi penurunan insidensi TB menjadi 65 per 100.000 penduduk. Beberapa indikator keberhasilan yang ditargetkan adalah angka penemuan kasus di atas 90%, keberhasilan pengobatan di atas 90%, dan terapi pencegahan TB (TPT) untuk kontak serumah di atas 68%.

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam penanggulangan TB. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain menetapkan kebijakan dan strategi program penanggulangan TB, membentuk Satuan Tugas AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM), serta melakukan koordinasi lintas program dan sektor.
Selain itu, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan, pemantauan mutu laboratorium, serta monitoring dan evaluasi (monev) dan bimbingan teknis (bimtek) kegiatan penanggulangan TB juga menjadi fokus utama.
Selama tiga tahun terakhir, penemuan kasus TB di Prabumulih menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2022, tercatat ada 579 kasus, kemudian meningkat menjadi 676 kasus pada tahun 2023, dan hingga 5 Agustus 2024, sudah tercatat 488 kasus.
Peningkatan ini berkat kegiatan pemeriksaan kontak serumah penderita oleh Dinas Kesehatan, Puskesmas se-Kota Prabumulih, dan Komunitas Peduli TBC MSS (Masyarakat Sehat Sriwijaya).
Berdasarkan data hasil umpan balik dari Kementerian Kesehatan RI untuk semester pertama tahun 2023, Kota Prabumulih mencatatkan angka keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) sebesar 92%, yang merupakan peringkat pertama di Provinsi Sumatera Selatan.

Selain TB Sensitif Obat (TB SO), saat ini juga terdapat tantangan besar dengan adanya kasus TB Resisten Obat (TB RO). Penanganan TB RO memerlukan waktu pengobatan yang lebih panjang, yakni antara 9 hingga 11 bulan. Angka penemuan TB RO dipengaruhi oleh utilitas alat Tes Cepat Molekuler (TCM), yang semakin banyak sampel diperiksa, semakin banyak pula kasus TB RO yang ditemukan.
Upaya penanggulangan TB di Prabumulih meliputi :
1. Pelayanan TBC gratis di semua Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Prabumulih.
2. Tersedianya 3 alat TCM, dua di RSUD dan satu di Puskesmas Prabumulih Timur.
3. Rumah Sakit Rujukan TB RO di RSUD Kota Prabumulih.
4. Peran Koalisi Organisasi Profesi TB (KOPI TB) dalam mendukung eliminasi TB tahun 2030.
5. Pembentukan SK Satuan Tugas ATM yang ditandatangani oleh Pj. Walikota.
6. Kegiatan investigasi kontak oleh Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan Komunitas Peduli TBC MSS.
7. Pemeriksaan Scin Test dengan menggunakan Tuberkulin.
8. Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi yang terdiagnosis Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB).

Salah satu kendala utama adalah rendahnya penerimaan terapi pencegahan TB (TPT). Banyak keluarga penderita TB yang menolak terapi tersebut, meskipun terindikasi kontak erat dengan penderita.
Menurut Yuli Susanti, SKM, Kepala UPTD Puskesmas Pasar di Kelurahan Mangga Besar, Kecamatan Prabumulih Utara, dari Januari hingga Juli 2024, tercatat 588 orang suspek TB, dengan 34 kasus positif TB (20 laki-laki dan 14 perempuan).
Dengan upaya bersama dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan angka penularan TB dapat ditekan dan target eliminasi TB pada tahun 2030 dapat tercapai. Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan ini. (Adv)












