Rumah Kreatif Boek Khaman, Dari Desa Lubuk Raman Lahir Model Ekonomi Sirkular Berbasis Budaya dan Lingkungan
Muara Enim, bidiksumsel.com – Di sudut Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, sebuah rumah sederhana telah menjelma menjadi ruang lahirnya berbagai inovasi yang menghubungkan budaya, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Namanya Rumah Kreatif Boek Khaman.
Apa yang dimulai sebagai tempat berkumpul para pemuda desa untuk mengembangkan batik lokal, kini berkembang menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat yang memanfaatkan hampir seluruh potensi desa tanpa menyisakan limbah yang mencemari lingkungan.
Di tempat inilah batik tidak hanya menjadi karya seni, bambu tidak lagi dianggap limbah, dan pertanian tidak sekadar menghasilkan panen. Seluruhnya saling terhubung dalam sebuah ekosistem yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Berawal dari Gagasan Pemuda Desa
Rumah Kreatif Boek Khaman berdiri pada tahun 2021 atas inisiatif Karang Taruna Desa Lubuk Raman.
Awalnya, para pemuda hanya ingin menciptakan ruang kreatif untuk mengembangkan batik khas daerah sebagai identitas budaya desa.
Namun seiring waktu, gagasan tersebut berkembang jauh melampaui ekspektasi.
Rumah Kreatif Boek Khaman kini menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang melibatkan berbagai kelompok, mulai dari ibu rumah tangga, petani, pelaku UMKM, hingga generasi muda, dengan dukungan berkelanjutan dari PT Pertamina EP Prabumulih Field.
Batik Ramah Lingkungan yang Tetap Menjaga Tradisi
Salah satu aktivitas utama Rumah Kreatif Boek Khaman adalah produksi Batik Khaman.
Sebanyak 11 perempuan, terdiri atas ibu rumah tangga dan generasi muda desa, menjadi motor penggerak usaha tersebut.
Mereka tidak hanya melestarikan tradisi membatik, tetapi juga menerapkan konsep produksi yang lebih ramah lingkungan.
Pewarna kain berasal dari bahan-bahan alami, sementara limbah cair hasil produksi tidak langsung dibuang ke lingkungan.
Melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), seluruh limbah diproses terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan kembali sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar.
Pendekatan tersebut membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian alam.
Limbah Bambu Menjadi Produk Bernilai Tinggi
Inovasi lain lahir dari Kelompok Khuas Buluh.
Kelompok yang beranggotakan 12 perempuan ini memanfaatkan bambu yang selama ini tumbuh melimpah di desa.
Selain menghasilkan berbagai produk anyaman seperti keranjang dan kemasan produk UMKM, mereka kini mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengubah limbah bambu menjadi biochar atau arang hayati.
Biochar tersebut memiliki manfaat besar.
Selain meningkatkan kesuburan tanah, material ini juga dimanfaatkan sebagai media penyaring dalam sistem pengolahan limbah batik menggunakan teknologi constructed wetland.
Dengan demikian, limbah bambu yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi kini menjadi bagian penting dalam siklus produksi masyarakat.
Pertanian Menjadi Penghubung Ekosistem
Ekonomi sirkular di Desa Lubuk Raman semakin lengkap melalui keterlibatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Khaman Jaya.
Sebanyak tujuh anggota kelompok membudidayakan tanaman pangan, tanaman herbal, hingga tanaman penghasil pewarna alami seperti kunyit, kopi, dan dedu.
Seluruh tanaman dibudidayakan menggunakan biochar hasil olahan limbah bambu.
Hasil panennya kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pewarna alami Batik Khaman.
Dengan pola tersebut, setiap kelompok saling mendukung.
Limbah bambu mendukung pertanian, pertanian memasok kebutuhan batik, sementara limbah batik kembali diolah agar tetap aman bagi lingkungan.
Tidak ada yang terbuang sia-sia.
Perempuan Menjadi Penggerak Utama
Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari, S.P, mengatakan rumah kreatif tersebut menjadi wadah pemberdayaan masyarakat yang menaungi berbagai kelompok usaha binaan Pertamina.
“Rumah Kreatif Boek Khaman menaungi Kelompok Batik Khaman, Kelompok Khuas Buluh yang mengelola kawasan bambu, serta Kelompok Wanita Tani yang mengembangkan tanaman pewarna alami sekaligus mengolah hasil pertanian menjadi produk pangan,” ujarnya.
Menurut Etika, inovasi menjadi kunci agar produk lokal tetap mampu bersaing di tengah perkembangan industri kreatif.
Selain batik cap, kelompoknya kini juga mengembangkan batik ekspresionis atau batik lukis yang dipadukan dengan teknik jumputan.
Meski terus berinovasi, penggunaan malam tetap dipertahankan sebagai ciri utama batik agar nilai budaya tidak hilang.
“Kami tetap mempertahankan penggunaan malam sebagai ciri utama batik sehingga nilai budaya dan keasliannya tetap terjaga,” katanya.
Omzet Puluhan Juta Rupiah Setiap Bulan
Pemasaran Batik Khaman kini tidak hanya mengandalkan penjualan langsung.
Produk mereka rutin mengikuti berbagai pameran yang difasilitasi pemerintah daerah, baik tingkat kabupaten maupun nasional.
Di sisi lain, pemasaran digital melalui media sosial juga terus dikembangkan.
Pada periode tertentu, penjualan mampu mencapai sekitar 200 lembar batik setiap bulan dengan omzet berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta.
Setiap motif yang dihasilkan juga memiliki filosofi tersendiri.
Mulai dari motif kopi, karet, sawit, bambu, hingga gandaria yang menggambarkan sejarah serta kekayaan alam Desa Lubuk Raman.
“Melalui batik, kami ingin memperkenalkan identitas daerah sekaligus melestarikan warisan budaya kepada masyarakat luas,” tutur Etika.
Pendampingan Pertamina Perkuat Kemandirian Desa
Manager Relations PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4, Frans Alexander Hukom, menjelaskan pendampingan terhadap Rumah Kreatif Boek Khaman merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Menurutnya, tujuan utama program bukan sekadar meningkatkan pendapatan kelompok binaan, tetapi juga membangun hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat melalui konsep social license to operate.
“Sebagai perusahaan hulu migas, kami berharap kehadiran program ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi Pertamina EP Prabumulih Field sehingga hubungan yang baik antara perusahaan dan masyarakat dapat terus terjaga,” ujarnya.
Frans menjelaskan setiap program diawali dengan proses social mapping untuk mengidentifikasi potensi lokal yang dimiliki masyarakat.
Pendampingan kemudian disusun berdasarkan kebutuhan setiap wilayah sehingga tidak menggunakan pendekatan yang sama di seluruh daerah.
Diversifikasi Produk Terus Dikembangkan
Pendampingan Pertamina dimulai sejak 2022 dan semakin diperkuat pada 2023.
Pada 2025, perusahaan membangun IPAL untuk mendukung proses produksi batik yang lebih ramah lingkungan.
Sementara pada 2026, program kembali diperluas melalui diversifikasi produk.
Kini kain batik tidak hanya dijual dalam bentuk lembaran, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti kipas, aksesori, hingga perlengkapan rumah tangga.
Penguatan pemasaran juga terus dilakukan agar produk masyarakat mampu menembus pasar yang lebih luas.
“Harapannya, program ini tidak hanya menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” kata Frans.
Dari Desa Lahir Inspirasi Pembangunan Berkelanjutan
Rumah Kreatif Boek Khaman menjadi bukti bahwa pembangunan desa tidak selalu bergantung pada sumber daya besar.
Melalui kreativitas masyarakat, dukungan berbagai pihak, dan pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan, sebuah desa mampu menghadirkan model pembangunan yang menghubungkan budaya, ekonomi, dan lingkungan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Dari batik, bambu, hingga pertanian, seluruh potensi lokal dirangkai menjadi gerakan bersama yang tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga menjaga warisan budaya dan kelestarian alam.
Rumah Kreatif Boek Khaman menghadirkan pesan sederhana namun bermakna: masa depan pembangunan Indonesia dapat tumbuh dari desa, ketika masyarakat diberi ruang untuk berinovasi, berkarya, dan berkembang bersama. (tinus)












