Eksploitasi Tambang di Muba Kian Mengkhawatirkan, Ketua PJS : Alam Sudah Beri Tanda Bahaya
Muba, bidiksumsel.com – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kabupaten Musi Banyuasin, Riyansyah Putra, SH, C.MSP, mengeluarkan pernyataan keras mengenai ancaman kerusakan lingkungan akibat aktivitas eksploitasi terhadap sumber daya alam di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Menurutnya, sejumlah kawasan di Sumatera, termasuk Muba, kini berada dalam fase kritis sebagai dampak dari penambangan yang dilakukan secara masif, baik oleh perusahaan resmi maupun para mafia tambang ilegal.
Riyan menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan fakta yang sudah terlihat jelas di lapangan. Ia menyatakan, jika pemerintah tidak segera mengambil langkah tegas, bencana ekologis dalam skala besar akan semakin sulit dihindari.
“Eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan tanpa kontrol telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang luar biasa. Beberapa wilayah di Sumatera sudah merasakan dampaknya. Jika hal ini tidak mendapat penanganan serius, alam akan terus menunjukkan kekuasaannya,” ujar Riyan tegas saat dikonfirmasi, Rabu (10/12/2025).
Riyan menyebut ada beberapa kecamatan di Kabupaten Musi Banyuasin yang menunjukkan indikasi kuat kerusakan hutan dan lingkungan akibat aktivitas tambang yang tidak bertanggung jawab. Daerah yang ia soroti antara lain :
- Bayung Lencir
- Tungkal Jaya
- Batang Hari Leko
- Sanga Desa
- Serta beberapa wilayah kabupaten lainnya yang kini mengalami perubahan drastis pada bentang hutan.
Menurutnya, aktivitas eksploitasi yang terjadi sebagian besar dilakukan tanpa izin, bahkan ada yang melibatkan pihak-pihak tertentu yang disebutnya sebagai mafia tambang, yang selama bertahun-tahun beroperasi bebas.
“Kami meyakini beberapa wilayah ini mengalami kerusakan hutan yang sudah lama dilakukan oleh perusahaan maupun pihak-pihak mafia tambang. Semuanya berlangsung tanpa izin dan dilakukan secara serampangan,” ujarnya.
Riyan menyampaikan kekhawatiran mengenai bencana ekologis yang akan semakin sering terjadi jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan. Ia menegaskan, bencana alam bukan terjadi tiba-tiba, melainkan akumulasi dari rusaknya ekosistem akibat ulah manusia.
Ia mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa tanda-tanda bahaya kini sudah jelas terlihat. Muba menjadi salah satu wilayah dengan tingkat alih fungsi hutan yang cukup tinggi.
“Jika lingkungan dirusak dan keindahannya dirampas, ia akan murka. Banjir dan tanah longsor itu bukan kebetulan. Salah satu penyebab terbesar adalah kerusakan alam akibat manusia,” tegasnya.
Dalam analisisnya, Riyan mengungkapkan bahwa kondisi ekologis Muba berada pada level sangat mengkhawatirkan. Ia menyebut bahwa lebih dari setengah kawasan hutan di Muba telah mengalami alih fungsi.
“Dan jika ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin Kabupaten Muba akan mengalami kerusakan alam dalam skala lebih besar. Jika dipersentasekan, hampir 50 persen lebih hutan kita telah beralih fungsi,” ungkapnya.
Konversi hutan menjadi lahan tambang, perkebunan sawit, atau aktivitas industri lainnya menjadi faktor dominan berkurangnya penyangga lingkungan di wilayah tersebut. (ari)












