Palembang, bidiksumsel.com – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan deflasi sebesar 0,35% (mtm) pada Mei 2025. Angka ini menjadi sinyal positif setelah pada bulan sebelumnya inflasi melonjak hingga 1,39% (mtm). Secara tahunan, inflasi Sumsel juga melandai menjadi 2,33% (yoy), dari 2,74% (yoy) pada April. Fakta ini menempatkan inflasi tahunan Sumsel masih dalam sasaran nasional sebesar 2,5%±1%.
Apa penyebab utama penurunan tekanan harga ini? Bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan harga? Mari kita uraikan secara lengkap.
Deflasi adalah kondisi menurunnya harga-harga barang dan jasa secara umum. Bila terjadi dalam skala wajar dan temporer seperti saat ini, deflasi dapat menjadi penanda bahwa harga mulai stabil usai lonjakan selama bulan Ramadhan dan Idulfitri (Hari Besar Keagamaan Nasional/HBKN).
Namun, jika terjadi terus menerus, deflasi bisa menurunkan daya beli dan menekan pertumbuhan ekonomi. Untungnya, deflasi Mei 2025 di Sumsel masih tergolong sehat dan dipengaruhi oleh faktor musiman dan perbaikan distribusi.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah komoditas mencatatkan penurunan harga yang signifikan pada Mei 2025 :
- Cabai Merah: -0,22% (mtm)
- Bawang Merah: -0,14% (mtm)
- Bawang Putih: -0,08% (mtm)
- Emas Perhiasan: -0,08% (mtm)
- Cabai Rawit: -0,06% (mtm)
Penurunan harga ini dipicu oleh beberapa faktor. Musim panen di berbagai sentra produksi nasional menyebabkan pasokan cabai dan bawang melimpah. Di saat yang sama, cuaca yang mendukung dan distribusi yang lancar mempercepat suplai ke pasar konsumen.
Uniknya, emas perhiasan juga mengalami penurunan harga. Selain karena permintaan masyarakat menurun usai HBKN, penurunan ini turut dipengaruhi oleh koreksi harga emas global.
Harga bawang putih menurun berkat meningkatnya realisasi impor dan menguatnya nilai tukar rupiah. Ketika rupiah menguat, biaya impor pun menurun, sehingga harga barang impor seperti bawang putih menjadi lebih murah bagi konsumen domestik.
Stabilitas harga ini tidak lepas dari kerja aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Bank Indonesia (BI) yang mengadopsi strategi 4K :
- Ketersediaan Pasokan
- Keterjangkauan Harga
- Kelancaran Distribusi
- Komunikasi yang Efektif
TPID rutin menggelar operasi pasar murah di berbagai wilayah. Selain itu, BI mendukung distribusi komoditas dengan subsidi biaya angkut yang melibatkan BUMN, BUMD, swasta, dan sektor perbankan.
Dalam rangka mendukung pasokan pangan, TPID dan BI Sumsel juga menjalankan program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) Menyala, yaitu edukasi budidaya cabai rawit dan bawang merah. Program ini telah menjangkau :
- 68 Dasawisma
- 17 Kelompok Wanita Tani (KWT)
- 1.020 rumah tangga di Sumsel
Ke depan, BI Sumsel akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui dua program strategis :
- Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP)
- Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP)
Kedua gerakan ini diharapkan dapat menjaga inflasi dalam kisaran target nasional, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan daya saing ekonomi Sumsel.
Deflasi yang terjadi pada Mei 2025 di Sumsel adalah kabar baik bagi masyarakat. Harga-harga bahan pokok kembali normal pasca-Lebaran, daya beli mulai stabil, dan inflasi tetap dalam batas aman.
Lebih dari itu, sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan masyarakat menunjukkan bahwa inflasi bukan hanya bisa dikendalikan, tapi juga dijadikan peluang untuk meningkatkan ketahanan pangan dan inklusi ekonomi yang berkelanjutan. (dkd)






