Naik Jadi 1,53%! Ini Penjelasan Lengkap Inflasi Sumsel Maret 2025 dan Komoditas Penyumbangnya
Palembang, bidiksumsel.com — Setelah mengalami deflasi pada bulan Februari, Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan inflasi yang cukup signifikan pada Maret 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Sumsel tercatat sebesar 1,53% secara bulanan (month to month/mtm), berbalik dari deflasi -0,41% pada bulan sebelumnya.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Sumsel pun mengalami kenaikan menjadi 1,77% dari sebelumnya hanya 0,49%, namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, yakni 2,5% ± 1%.
Menurut Ricky P Gozali, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, lonjakan inflasi ini sejalan dengan tren nasional. Inflasi nasional juga mengalami peningkatan menjadi 1,03% (yoy) dari sebelumnya deflasi 0,09% (yoy).
Apa Penyebab Kenaikan Inflasi di Sumsel?
Inflasi Maret 2025 ini dipicu oleh naiknya harga beberapa komoditas utama, yaitu:
- Tarif listrik (+0,96% mtm)
- Bawang merah (+0,22% mtm)
- Emas perhiasan (+0,14% mtm)
- Bawang putih (+0,06% mtm)
- Telur ayam ras (+0,03% mtm)
Tarif Listrik: Akhir Diskon, Awal Kenaikan
Kenaikan tarif listrik menjadi penyumbang inflasi tertinggi. Hal ini terjadi akibat berakhirnya program diskon 50% untuk pelanggan rumah tangga berdaya ≤2.200 VA, yang sebelumnya diberikan selama Januari–Februari 2025. Mulai Maret, tarif kembali normal dan otomatis menaikkan pengeluaran rumah tangga.
Bawang & Telur: Kebutuhan Ramadan Naik
Permintaan terhadap bawang merah, bawang putih, dan telur ayam juga melonjak menjelang Ramadan 1446 H. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan puasa memang cenderung mendorong konsumsi masyarakat meningkat, sehingga harga pun ikut terdorong naik.
Emas Perhiasan: Ketidakpastian Global & Tradisi Lebaran
Kenaikan harga emas perhiasan mencerminkan tren global akibat ketidakpastian ekonomi dunia. Selain itu, permintaan lokal juga meningkat menjelang Idulfitri, karena masyarakat kerap membeli emas sebagai hadiah atau aksesori saat lebaran.
Apakah Ini Berarti Kondisi Ekonomi Sumsel Memburuk?
Tidak juga. Justru, menurut Bank Indonesia, kenaikan permintaan jelang Ramadan dan Idulfitri ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat.
“Meningkatnya permintaan masyarakat terhadap berbagai komoditas menjelang Idulfitri mencerminkan ketahanan ekonomi rumah tangga,” jelas Ricky.
Apa yang Dilakukan Pemerintah?
Inflasi yang masih terkendali di Sumsel ini tidak terlepas dari peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang aktif mengimplementasikan strategi 4K:
- Ketersediaan Pasokan
- Keterjangkauan Harga
- Kelancaran Distribusi
- Komunikasi Efektif
Sejumlah langkah nyata yang dilakukan TPID antara lain:
- Operasi pasar murah menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN)
- Inspeksi pasar dan pemantauan stok pangan strategis
- Subsidi biaya angkut dari BI, BUMN, BUMD, dan swasta
- Koordinasi antarinstansi, seperti High Level Meeting (HLM) TPID se-Sumsel
Semua langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga dan distribusi barang kebutuhan pokok hingga ke pelosok daerah.
Sinergi Lebih Kuat ke Depan
Ke depan, BI Provinsi Sumsel akan terus memperkuat sinergi dengan pemda dan instansi terkait melalui program seperti:
- Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP)
- Gerakan Pengendalian Inflasi Serentak se-Sumsel (GPISS)
“Sinergi antar lembaga tersebut ditujukan untuk mencapai sasaran inflasi tahun 2025 serta menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Ricky.
Inflasi memang meningkat, namun tetap dalam kendali. Masyarakat diimbau tetap bijak dalam berbelanja, terutama selama Ramadan dan menjelang Lebaran. Dengan kolaborasi semua pihak, Sumsel optimis dapat menjaga stabilitas harga demi kesejahteraan bersama. (dkd)












