Pertamina Dorong Pertumbuhan Sektor Hilir Lewat Pengembangan Kilang dan Inovasi Teknologi Digital
Palembang, bidiksumsel.com – PT Pertamina (Persero) menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga pertumbuhan sektor hilir industri energi Indonesia melalui langkah-langkah strategis pada berbagai kilang minyak yang tersebar di seluruh Nusantara. Salah satunya adalah Kilang Refinery Unit III Plaju di Palembang, Sumatera Selatan, yang sudah beroperasi sejak tahun 1904 dan menjadi bagian penting dalam sejarah energi tanah air.
Kilang ini tak hanya menjadi saksi perkembangan industri energi Indonesia, tetapi juga terus berinovasi untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing di pasar global.
Pada Senin, 28 Oktober 2024, Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR RU III PT Kilang Pertamina Internasional, Perliansyah, menegaskan bahwa Pertamina akan tetap menjaga keberlangsungan usaha kilang-kilangnya guna memastikan pasokan energi di sektor hilir tetap kuat dan stabil. Kilang Plaju menjadi salah satu bukti komitmen tersebut dengan berbagai inovasi yang terus diluncurkan.
Pertamina terus berupaya meningkatkan kapasitas kilang minyak di seluruh Indonesia sebagai bagian dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan berbagai proyek revamping. RDMP bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus efisiensi kilang Pertamina yang tersebar di berbagai daerah.
“Salah satu proyek yang menonjol adalah RDMP Balikpapan, di mana kilang di sana ditingkatkan kapasitasnya dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Proyek ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi domestik dan mendukung ketahanan energi nasional,” kata Perliansyah.
Di Kilang Plaju sendiri, upaya peningkatan kapasitas terus dilakukan dengan meningkatkan volume produksi produk-produk petrokimia, seperti biji plastik Polypropylene dengan merk dagang Polytam. Produk ini kini mencapai rata-rata produksi sebesar 42.000 ton per tahun dan dipasarkan melalui PT Pertamina Petrochemical Trading. Dalam langkah ramah lingkungan, kilang ini juga mulai memproduksi Breezon, refrigeran alami yang ramah lingkungan dan menjadi produk unggulan Kilang Plaju.
Perliansyah menyampaikan bahwa bisnis petrokimia kini menjadi salah satu fokus utama Pertamina. Hal ini karena bisnis petrokimia dinilai memiliki prospek cerah di masa depan, dengan kebutuhan produk turunannya yang terus meningkat. Sejak 2023, Kilang Pertamina Plaju telah memanfaatkan teknologi digital dalam pengoperasiannya dengan meluncurkan Aplikasi E-Workshop 2.0. Aplikasi ini memungkinkan proses pemeliharaan kilang menjadi lebih efisien, memudahkan pekerja di bidang perawatan untuk melacak dan memonitor berbagai alat di workshop. E-Workshop ini disebut sebagai salah satu mata rantai penting dalam pengelolaan keandalan kilang.
Sebagai wujud dari semangat kemandirian teknologi, Kilang Plaju kini menggunakan katalis buatan dalam negeri yang dikenal sebagai Katalis Merah Putih atau PK-HGMAX. Katalis ini memiliki peran krusial dalam mempercepat laju reaksi kimia hidrokarbon pada suhu tertentu dalam proses pengolahan minyak.
‘Dengan inovasi ini, Kilang Plaju kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada impor katalis, yang sebelumnya didatangkan dari produsen seperti Sinopec dan BASF dari Jerman. Inovasi ini juga merupakan langkah Pertamina untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta memperbaiki neraca ekspor-impor Indonesia,” ujar Perliansyah.

Dalam upayanya menuju posisi sebagai global energy champion, Pertamina meluncurkan Pertamina Integrated Command Center (PICC), pusat komando berbasis teknologi big data. PICC memiliki empat fungsi utama. Pertama, sebagai integrator dan koordinator dalam memantau seluruh proses operasional, baik proses inti maupun proses pendukung. Kedua, PICC menjadi “single source of truth” yang menyediakan data terintegrasi untuk seluruh kelompok bisnis Pertamina. Ketiga, PICC melakukan analisis data, mendeteksi anomali, serta memberikan rekomendasi eksekutif untuk pengambilan keputusan. Keempat, PICC memiliki otoritas untuk menindaklanjuti anomali yang ditemukan dan memberikan rekomendasi bagi manajemen puncak Pertamina Group.
Untuk meningkatkan efisiensi operasionalnya, PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) yang menjadi Subholding Refining & Petrochemical Pertamina menerapkan dua fokus inisiatif strategis. Pertama, optimasi proses, di mana Pertamina melakukan uji coba pengolahan Low Sulphur V1250 dari Kilang RU V Balikpapan, serta mencoba mengolah jenis crude yang lebih ekonomis. Fokus kedua adalah optimasi produk, di mana Kilang Plaju berhasil memproduksi Marine Fuel Oil (MFO) Low Sulphur untuk tahap pertama dengan volume 290 ribu barel per bulan, yang kemudian meningkat pada tahap kedua menjadi 530 ribu barel per bulan.
Dalam operasionalnya, Kilang Plaju juga berhasil memanfaatkan gas alam dari sektor hulu sebagai bahan bakar di Unit Proses. Gas alam ini memungkinkan Kilang Refinery Unit III untuk beroperasi maksimal dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi. Kilang Plaju juga memanfaatkan fasilitas jetty (pelabuhan) bersama dengan mitra bisnis di sekitarnya, yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi produk.
Untuk memastikan efektivitas dari program efisiensi, Pertamina terus memantau pencapaian value creation yang tercipta dari setiap inisiatif strategis. Dari sisi pengelolaan sumber daya manusia (SDM), Pertamina juga terus meningkatkan kapasitas dan keterampilan karyawan melalui berbagai program pelatihan dan sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan industri energi.

Pertamina mendorong karyawan untuk berkembang melalui program Internal Job Posting (IJP) yang memungkinkan mereka mengisi posisi di luar fungsi atau departemen tempat mereka bekerja. Dengan demikian, Pertamina berharap terciptanya sirkulasi karir yang dinamis tanpa hambatan birokrasi, sekaligus mempertahankan talenta terbaik di tengah persaingan industri energi yang semakin ketat.
Selain itu, Pertamina juga berkomitmen untuk menjaga kesejahteraan dan keselamatan karyawan di seluruh level bisnis. Aspek Health, Safety, Security & Environment (HSSE) menjadi prioritas utama dengan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin serta penerapan prosedur keselamatan kerja yang ketat. Pertamina juga mendorong karyawan untuk patuh pada “Golden Rules” yang meliputi penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur kerja aman, pelaporan insiden atau kondisi tidak aman, serta menghindari bekerja dalam kondisi berbahaya.
Kilang Pertamina Plaju memproduksi Marine Fuel Oil (MFO) Low Sulphur sebagai salah satu produk unggulan yang ramah lingkungan. Bahan bakar ini digunakan oleh industri perkapalan yang beroperasi dengan mesin diesel serta memenuhi standar internasional dengan kandungan sulfur yang dibatasi maksimal 0.5% sesuai dengan kebijakan IMO 2020 dan Annex VI Regulation 14 dari MARPOL Convention. Kehadiran MFO Low Sulphur ini diharapkan dapat mendukung industri perkapalan di Indonesia dalam mencapai target sebagai poros maritim dunia sekaligus mengurangi dampak pemanasan global.
Dengan berbagai upaya dan inovasi yang dilakukan oleh PT Kilang Pertamina Internasional, Kilang Plaju diharapkan terus dapat memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan energi nasional dan menjawab tantangan perubahan di industri energi global. Pertamina berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan regulasi internasional guna memantapkan posisi sebagai pemimpin industri energi di tingkat global. (dkd)












