OKI  

Dibalik Layar Konservasi : Perjalanan Dokter Hewan dalam Merawat Gajah-Gajah di Padang Sugihan

fhoto : ist

OKI, bidiksumsel.com – Dokter hewan Drh. Wahyu Tri Utomo telah berperan penting dalam merawat puluhan gajah di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, Sumatera Selatan, atas permintaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel selama dua tahun terakhir. Tugasnya meliputi pemeriksaan kesehatan, pemberian suplemen, vitamin, dan pengobatan untuk menjaga kesejahteraan gajah-gajah tersebut.

Merawat gajah membutuhkan pendekatan yang serupa dengan merawat manusia. Wahyu menjalankan tindakan medis, mulai dari perawatan hingga pencegahan penyakit, untuk memastikan kesehatan dan kesejahteraan gajah-gajah tersebut. Dia juga bersama tim BKSDA turut membantu mengobati gajah liar yang sakit.

Namun, merawat gajah bukanlah tugas yang mudah. Mendiagnosis penyakit pada gajah memerlukan keahlian khusus karena gejalanya baru muncul saat kondisi sudah parah. Wahyu menjelaskan bahwa tubuh gajah yang sakit akan menunjukkan tanda-tanda seperti kelemahan, mata sayu, penurunan nafsu makan, dan perubahan pada jumlah kotoran. Pemeriksaan kesehatan yang rutin dan komprehensif, termasuk pemeriksaan laboratorium, sangat penting untuk menjaga kesehatan gajah.

Kerjasama dengan mahout atau pawang gajah juga sangat penting dalam merawat gajah. Mereka memberikan informasi tentang riwayat kesehatan gajah serta membantu dalam proses perawatan sehari-hari. Selain itu, kondisi lingkungan juga memengaruhi kesehatan gajah. Semakin berkurangnya habitat alami gajah menyebabkan ketersediaan nutrisi yang terbatas, sehingga gajah perlu disuplai dengan suplemen buatan manusia.

Selama merawat gajah, Wahyu telah mengalami banyak pengalaman unik. Dia menyaksikan bagaimana gajah menunjukkan sifat-sifat yang mirip dengan manusia, seperti rasa manja dan kecerdasan yang tinggi. Bahkan, merawat gajah tidak hanya memerlukan pengetahuan medis, tetapi juga membutuhkan naluri dan kesungguhan untuk memahami perasaan dan kebutuhan gajah.

Tantangan lain yang dihadapi Wahyu adalah saat merawat gajah remaja yang cenderung memiliki emosi yang tidak stabil, mirip dengan anak remaja manusia. Dia harus bisa membaca dan mengelola kondisi emosional gajah tersebut dengan bijaksana agar proses perawatan berjalan lancar.

Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 di Suaka Margasatwa Padang Sugihan merupakan tempat yang penting bagi konservasi gajah Sumatera. Selain berfungsi sebagai fasilitas pelatihan gajah, PKG Jalur 21 juga menyediakan lingkungan yang memadai untuk pengembalaan dan pergerakan gajah semi liar. Saat ini, PKG Jalur 21 menjadi rumah bagi 28 gajah Sumatera.

Salah satu momen penting dalam konservasi gajah di PKG Jalur 21 adalah kelahiran seorang anak gajah jantan pada Februari 2023. Anak gajah tersebut lahir dari induk gajah Een dan pejantan Gapula. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, memberi nama anak gajah tersebut Espen Barth Eide, atau lebih dikenal sebagai Espen.

Keberhasilan kelahiran anak gajah ini menunjukkan kondisi ekosistem SM Padang Sugihan yang kondusif untuk perkembangbiakan gajah. Namun, upaya konservasi gajah tidak hanya berkaitan dengan perawatan medis, tetapi juga perlindungan terhadap habitat alami mereka. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *