Prabumulih, bidiksumsel.com – Ruang Audio Visual SMKN 1 Prabumulih pagi itu dipenuhi oleh antusiasme yang berbeda dari biasanya. Para siswa duduk rapi, sebagian mencatat, sebagian lainnya fokus menyimak tayangan dan penjelasan di layar proyektor. Bukan guru mereka yang sedang berbicara, melainkan para jurnalis dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Prabumulih yang hadir dalam misi penting : mengenalkan dunia jurnalistik dasar kepada generasi muda.
Inilah gebrakan PWI Goes to School, program literasi media dan jurnalistik yang menyasar pelajar tingkat SMA/SMK se-Kota Prabumulih. SMKN 1 menjadi sekolah pertama yang disambangi dalam rangkaian program ini, bertepatan dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru 2025/2026. Rabu, 16 Juli 2025.
Ketua PWI Prabumulih, Ronald Artas, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral insan pers terhadap dunia pendidikan.
“Kami ingin adik-adik pelajar mengenal dunia jurnalistik sejak dini. Di era digital seperti sekarang, setiap orang bisa menjadi pembuat informasi. Tapi menjadi wartawan sejati perlu pemahaman akan etika, teknik menulis, dan tanggung jawab menyampaikan kebenaran,” ungkap Ronald di hadapan ratusan siswa yang hadir.
Ronald juga menekankan pentingnya literasi digital dalam menghadapi gempuran informasi di media sosial. Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa pelajar adalah kelompok paling aktif mengakses informasi, namun belum tentu memiliki kemampuan memverifikasi kebenaran isi berita yang dikonsumsi.
Selama sesi pelatihan, para siswa diperkenalkan pada dasar-dasar jurnalistik, mulai dari teknik penulisan berita 5W+1H, etika jurnalistik, kode etik wartawan, hingga peran media digital dan media sosial dalam menyebarkan informasi.
Materi dibawakan dengan gaya interaktif dan diselingi dengan diskusi ringan, membuat siswa terlihat aktif bertanya dan menanggapi. Tak sedikit yang mengaku terinspirasi untuk mencoba menulis dan membagikan informasi secara bijak di akun media sosial mereka.
Salah satu siswa kelas 10, Tasya Rahmadina, mengaku baru tahu bahwa menjadi wartawan itu lebih dari sekadar menulis.
“Saya pikir wartawan cuma kerja wawancara dan bikin berita. Tapi ternyata harus tahu etika, tekniknya, dan tanggung jawab moralnya juga. Seru banget bisa tahu ini dari orang yang langsung kerja di lapangan,” ujar Tasya.
Plt Kepala SMKN 1 Prabumulih, Dedi Ardiansyah, ST, Gr, M.Si, menyambut baik kehadiran PWI di sekolahnya. Ia menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan pelajar saat ini, terutama di era banjir informasi dan hoaks.
“Kami sangat berterima kasih kepada PWI Prabumulih yang sudah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu dengan siswa kami. Ini menjadi bagian penting dari proses pendidikan karakter, agar siswa kami melek informasi dan bisa menjadi generasi yang kritis, tapi tetap santun,” jelas Dedi.
Ia juga berharap agar kegiatan serupa dapat dilanjutkan ke lebih banyak sekolah dan bahkan dibuat dalam bentuk pelatihan rutin atau ekskul jurnalistik sekolah.
Program PWI Goes to School tidak hanya menghadirkan wawasan baru, tapi juga membuka peluang kerja sama lebih luas antara komunitas pers dan dunia pendidikan. Menurut Ronald Artas, kegiatan ini akan terus digelar ke sekolah-sekolah lain secara bergilir hingga akhir tahun.
“Kami percaya bahwa mengenalkan jurnalistik sejak dini akan membantu menciptakan masyarakat yang melek informasi, berpikir kritis, dan tidak mudah termakan hoaks. Ini investasi jangka panjang bagi demokrasi dan masa depan bangsa,” tuturnya.
PWI Goes to School mungkin hanya sebuah program sederhana, namun maknanya sangat dalam. Di tengah banyaknya disinformasi yang berseliweran, edukasi jurnalistik kepada pelajar menjadi langkah strategis untuk membentengi generasi muda dari pengaruh negatif informasi palsu.
Dengan semangat kolaborasi, kegiatan ini membuktikan bahwa dunia pers bukan hanya pengawas pemerintah dan penyampai berita, tetapi juga sahabat pendidikan. (tinus)












