Palembang, bidiksumsel.com – Aula Universitas Sriwijaya (Unsri) hari ini tidak hanya dipenuhi toga dan senyum haru, tetapi juga semangat baru yang membara dari 1.286 lulusan yang mengikuti wisuda periode ke-178. Dari program sarjana (S1), magister (S2), hingga doktor (S3), satu per satu nama dipanggil untuk menerima gelar akademiknya sebuah simbol dari perjuangan panjang di dunia pendidikan tinggi.
Namun yang paling mencolok bukan sekadar jumlah lulusan, melainkan fakta bahwa lebih dari separuh dari mereka berhasil menyabet gelar cumlaude, atau lulus dengan pujian. Pencapaian ini bukan hanya mencerminkan kecemerlangan akademik para mahasiswa, tetapi juga keberhasilan Unsri dalam menghadirkan ekosistem pendidikan yang mendorong keunggulan, daya saing, dan integritas. Rabu, 18 Juni 2025.
Dalam pidatonya yang penuh semangat dan refleksi, Rektor Unsri Dr. Taufiq Marwa menyampaikan bahwa keberhasilan akademik harus dilandasi oleh kesiapan menghadapi tantangan dunia nyata.
“Kami tidak ingin lulusan Unsri hanya menjadi pencari kerja. Kami ingin mereka menjadi pencipta lapangan kerja,” tegas Taufiq.
Bagi Taufiq, zaman telah berubah. Dunia kerja saat ini tidak lagi hanya membutuhkan ijazah atau nilai tinggi. Yang dibutuhkan adalah inovasi, keberanian melangkah, dan kemampuan melihat peluang dari kesulitan.
Rektor juga menyinggung pentingnya keterampilan praktis dalam pendidikan tinggi. Ia menjelaskan bahwa kurikulum Unsri terus diperbarui untuk memastikan lulusan tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga tangguh dalam praktik.
“Banyak dari lulusan kita yang sudah menciptakan produk inovatif. Ini bukan hanya pencapaian pribadi, tapi potensi ekonomi yang bisa dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan,” ujarnya penuh optimisme.
Tak hanya itu, Taufiq mendorong lulusan untuk berani keluar dari zona nyaman dan mengeksplorasi kemungkinan yang ada, termasuk dalam dunia kewirausahaan. Ia menyebutkan bahwa kemandirian adalah kualitas penting di era digital dan pasca-pandemi.
“Kalau mereka bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri, mengapa harus terus bergantung pada orang lain?” tuturnya, mengundang tepuk tangan dari para hadirin.
Fakta bahwa lebih dari separuh wisudawan menyandang gelar cumlaude bukanlah hal sepele. Ini adalah hasil dari dedikasi mahasiswa, bimbingan dosen, dan iklim akademik yang kondusif. Capaian ini mencerminkan keseriusan Unsri dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam IPK, tapi juga tangguh dalam etika dan karakter.
Banyak dari mereka yang selama ini juga aktif di kegiatan organisasi mahasiswa, riset, maupun pengabdian masyarakat menjadikan gelar cumlaude ini sebagai representasi dari keseimbangan antara akademik dan pengembangan diri.
Meski suasana penuh suka cita, Taufiq mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru sebagai agen perubahan di masyarakat.
“Unsri ingin memastikan bahwa setiap individu yang diluluskan bukan hanya siap kerja, tapi juga siap berkontribusi secara nyata dalam membangun bangsa,” pungkasnya.
Di tengah arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan tantangan ekonomi, lulusan Universitas Sriwijaya diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari angkatan kerja, tetapi juga penentu arah masa depan Indonesia. Dengan ilmu, semangat, dan karakter yang terbentuk selama berkuliah, mereka kini dihadapkan pada panggilan yang lebih besar : berkontribusi nyata untuk negeri.
Selamat kepada seluruh wisudawan Unsri ke-178. Perjalanan kalian baru saja dimulai. Dan dunia menunggu inovasi dari tangan-tangan cerdas kalian. (dkd)












