Kerupuk-Kemplang : Makanan Khas Palembang yang Melejit hingga Pasar Internasional
Palembang, bidiksumsel.com – Kerupuk-kemplang, salah satu makanan khas Palembang selain pempek, telah lama menjadi favorit warga lokal dan banyak diburu sebagai oleh-oleh untuk keluarga di luar kota. Popularitasnya kini meluas hingga ke mancanegara, berkat usaha gigih para pelaku UMKM di Palembang.
Salah satu pelaku usaha yang sukses mengembangkan bisnis kerupuk-kemplang adalah Kurniawan, pemilik dari “Awan Kerupuk”. Kurniawan yang akrab disapa Awan, telah berhasil menembus pasar Internasional sejak 2015.
“Kami memiliki pelanggan tetap dari Taiwan, setiap bulannya kami mengirim antara 1 hingga 5 ton. Selain itu, kami juga memiliki pembeli dari Kamboja, Malaysia, dan Australia. Pernah juga kami mengirim ke Arab Saudi, namun terkendala masalah transportasi,” jelas Awan saat ditemui di tokonya di Jalan MP. Mangkunegara No. 2, Palembang, Senin (24/06/2024) sore.
Sejarah Singkat “Awan Kerupuk”
Nama “Awan Kerupuk” diambil dari nama panggilan sehari-hari Kurniawan yang diberikan oleh orang tuanya. Usaha kerupuk ini berawal dari saran anggota keluarga pada tahun 2000, yang menyarankan orang tua Awan untuk memulai bisnis kerupuk. Saat itu, kerupuk dijual dengan harga sangat murah, antara Rp 100 hingga Rp 500 per bungkus. Bisnis ini dijalankan dari rumah orang tua Awan di Jalan Batanghari, Rimba Kemuning, Palembang.
“Awalnya kami menjual kerupuk dengan cara menitipkannya ke warung-warung dan berjualan keliling. Namun, usaha orang tua saya bangkrut karena satu dan lain hal,” kenang Awan.
Tidak menyerah, Awan mencoba bangkit dari keterpurukan dengan mengajak saudara-saudaranya untuk kembali membuat kerupuk-kemplang, yang adonannya mirip dengan pempek. “Namun, proses pembuatan kerupuk-kemplang lebih panjang karena membutuhkan pengeringan berhari-hari sebelum digoreng dan dijual ke konsumen,” jelasnya.
Tahun 2014 menjadi titik balik bagi bisnis Awan. Pada bulan September, ia mulai memanfaatkan platform online seperti Facebook, BlackBerry Messenger (BBM), dan blogspot untuk mempromosikan produknya. Ia juga menggunakan Google Ads untuk meningkatkan visibilitas toko online-nya.
“Orang pasti mencari sesuatu di Google, jadi jika mereka mengetik ‘kerupuk Palembang’, nama ‘Awan Kerupuk’ akan muncul di atas,” ujarnya.
Pada awalnya, banyak orang yang ragu dengan jual beli online, baik penjual maupun pembeli. Namun, seiring berjalannya waktu, usaha Awan Kerupuk semakin berkembang. Ia memiliki konsumen tetap dari berbagai kota di Indonesia, termasuk Surabaya. “Kami memberikan petunjuk cara menggoreng kerupuk yang baik kepada konsumen kami. Sejak saat itu, permintaan dari luar kota semakin meningkat,” tambah Awan.
Bahkan, ada konsumen yang datang langsung ke pabrik Awan Kerupuk dari Aceh. Mereka membeli produk dalam jumlah besar dan selalu membayar tunai. “Kami juga pernah mencoba berjualan melalui aplikasi TikTok, namun tidak terlalu sukses. Akhirnya, kami memberikan kesempatan kepada reseller untuk live di TikTok,” ujarnya.
Jangkauan Pasar dan Omset Penjualan
Saat ini, penjualan Awan Kerupuk melalui platform online telah mencapai seluruh Indonesia, kecuali Papua. Pasar terbesar ada di Jabodetabek dan Pulau Jawa. Di Pulau Sumatera, daerah seperti Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, dan Jambi menjadi langganan pengiriman setiap harinya.
Awan menjual kerupuk kemplang goreng dan kerupuk kriting dengan berbagai ukuran, mulai dari harga Rp 48 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Untuk konsumen yang ingin membeli dalam jumlah kecil, Awan menyarankan untuk berbelanja di marketplace seperti Tokopedia atau Shopee.
“Marketplace seperti Tokopedia, Shopee, dan TikTok sangat membantu usaha UMKM. Sebelum pandemi COVID-19, tidak banyak orang yang mau berjualan kerupuk secara online,” katanya.
Dengan adanya pandemi, para pelaku usaha terpaksa beradaptasi dan menemukan strategi baru untuk bertahan. “Pandemi membawa sisi positif karena memaksa pelaku usaha untuk berinovasi dan memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara baru,” tambah Awan.
Dalam hal omset, Awan mengakui bahwa penjualannya bisa mencapai Rp 10 juta per hari, dan menjelang Lebaran, omsetnya bisa meningkat hingga Rp 30 juta per hari. Bahan dasar kerupuk yang digunakan adalah ikan laut atau ikan kakap, kadang dicampur dengan ikan tenggiri.
Kesuksesan Awan Kerupuk tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Sumsel Babel dan Kadin Sumsel. Awan sering diundang untuk berpartisipasi dalam pameran-pameran di berbagai kota. “Dengan sering ikut pameran, omset penjualan kami meningkat dan konsumen dari luar kota bahkan luar negeri semakin banyak,” ujarnya.
Jasa Pengiriman : Peran JNE dalam Kesuksesan Awan Kerupuk
Ketika ditanya tentang jasa pengiriman, Awan menyebutkan bahwa JNE sangat membantu usahanya. “Kami pernah mengikuti pameran yang diadakan JNE di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3. Di sana, kerupuk-kemplang yang kami jual laris manis. JNE sangat kooperatif dan membantu UMKM dengan ongkos kirim yang bagus dan pelayanan yang baik,” paparnya.
Untuk pengiriman sehari-hari, Awan mengandalkan JNE karena layanan logistik lain dianggap kurang memadai. “Setiap hari kami mengirim minimal lima paket dengan JNE. Pihak JNE mau datang ke toko, sehingga sangat membantu usaha kami,” jelasnya.
Awan sangat merekomendasikan JNE kepada pelaku UMKM lainnya karena jasa pengiriman ini dianggap amanah dan cepat sampai ke konsumen.
Saat ini, Awan sedang membentuk komunitas bernama Perkumpulan Pengusaha Kerupuk Kemplang Palembang (PPKKP). Komunitas ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi kepada para anggotanya, serta memfasilitasi bantuan dari pemerintah dan pihak lain. “Saat ini sudah ada 15 anggota, dan saya sebagai ketua,” katanya.
Pengukuhan resmi komunitas ini direncanakan setelah pemilihan Wali Kota Palembang. Awan berharap PPKKP bisa diresmikan langsung oleh Wali Kota terpilih nantinya.
Perjalanan bisnis Kurniawan dengan Awan Kerupuk merupakan contoh inspiratif bagaimana UMKM bisa berkembang dan menembus pasar internasional. Dengan inovasi, adaptasi, dan dukungan dari berbagai pihak, Awan Kerupuk berhasil meraih kesuksesan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Komunitas yang dibentuknya juga diharapkan dapat membantu pengusaha lain untuk mencapai kesuksesan serupa. (dkd)












