Lahat, bidiksumsel.com – Konferensi Kabupaten (Konferkab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Lahat yang digelar di Hotel Bukit Serelo Lahat, Kamis (12/2/2026), berlangsung dinamis dan sempat diwarnai ketegangan. Namun, jalannya forum tetap berakhir demokratis dan damai, hingga akhirnya menetapkan Ehdi Amin sebagai Ketua PWI Lahat periode 2026-2029.
Ehdi Amin, yang akrab disapa Edi, berhasil unggul tipis dari pesaingnya, Muchtarim, dalam pemungutan suara yang berlangsung ketat. Hasil akhir menunjukkan Edi memperoleh 24 suara, sementara Muchtarim meraih 23 suara. Dengan demikian, Edi resmi memimpin PWI Lahat untuk tiga tahun ke depan.
Diketahui, Konferkab PWI Lahat semula diikuti oleh tiga calon ketua, yakni Diansyah, Ehdi Amin, dan Muchtarim. Namun, menjelang pemungutan suara, Diansyah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pencalonan.
Keputusan itu membuat kontestasi mengerucut menjadi duel dua kandidat yang memperebutkan 47 suara sah dari anggota yang memiliki hak pilih. Situasi tersebut membuat tensi forum semakin meningkat, karena peluang kemenangan terbuka lebar bagi masing-masing kandidat.
Pemungutan suara pun berlangsung dengan atmosfer kompetitif. Kejar-kejaran suara sempat terjadi dari awal hingga penghitungan akhir, sebelum akhirnya Edi memastikan kemenangan dengan selisih satu suara.
Meski sempat muncul beberapa interupsi dan instruksi dari peserta konferensi kepada pimpinan sidang, pelaksanaan Konferkab tetap dapat dikendalikan.
Konferkab PWI Lahat dipimpin oleh Richard Jo, Ishak Nasroni, dan Sigit, yang merupakan perwakilan dari PWI Provinsi Sumatera Selatan. Pimpinan sidang dinilai mampu menguasai jalannya persidangan sehingga forum tetap berjalan tertib.
Ketua Pelaksana Konferkab PWI Lahat, Yoki Manrasa, melalui Sekretaris Panitia Parman, menyampaikan bahwa dinamika dalam sidang adalah hal wajar dalam forum demokrasi, terlebih saat tensi kompetisi tinggi.
“Ya tadi sempat beberapa kali instruksi. Namun pimpinan sidang mampu menguasai jalan persidangan dan kita saksikan sendiri konferkab berjalan tertib, aman, dan sangat demokratis,” ujar Parman.
Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan Konferkab bukan hanya diukur dari hasil pemilihan, tetapi juga dari proses yang berjalan sesuai mekanisme organisasi, serta berakhir dengan situasi yang kondusif.
Usai dinyatakan menang, Ehdi Amin mengaku bersyukur sekaligus terharu. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah menjaga jalannya konferensi tetap kondusif, meskipun sempat terjadi ketegangan di awal.
Edi juga menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin PWI Lahat periode 2026-2029.
“Ya sangat terharu melihat soliditas dan kekompakan kawan-kawan. Saya berterima kasih atas kepercayaan sehingga saya terpilih,” katanya.
Ia berharap seluruh anggota PWI Lahat, termasuk para senior dan pihak-pihak yang sebelumnya berbeda pilihan, dapat tetap berjalan bersama untuk membangun organisasi ke depan.
“Tentunya kepada para senior, dan seluruh anggota PWI Lahat dapat terus membersamai ke depan sehingga apa yang ingin dijalankan PWI Lahat bisa berjalan baik,” sambungnya.
Sementara itu, Syafudin, yang merupakan tim pemenangan Edi, menilai kemenangan tipis tersebut merupakan buah dari kerja keras, konsolidasi yang solid, serta rekam jejak Edi selama menjadi bagian dari kepengurusan PWI Lahat.
Ia menilai, kredibilitas Edi sebagai wartawan dan pengurus organisasi menjadi faktor penting yang membuat anggota memantapkan pilihan.
“Ya memang sejak awal kita melakukan konsolidasi dengan rekan-rekan pendukung, Edi sudah langsung diterima. Makanya hasil hari ini, meski masih di luar target, Edi tetap menang,” ungkap Syafudin.
Menurutnya, hasil ini bukan hanya kemenangan personal, tetapi menjadi momentum bagi PWI Lahat untuk memperkuat soliditas internal dan meningkatkan kualitas organisasi.
Dengan terpilihnya Ehdi Amin sebagai Ketua PWI Lahat periode 2026-2029, organisasi profesi wartawan ini diharapkan semakin solid, profesional, dan mampu menjadi wadah peningkatan kualitas jurnalistik di Kabupaten Lahat.
Konferkab yang berlangsung dinamis ini juga menjadi bukti bahwa demokrasi di tubuh organisasi pers tetap hidup. Meskipun berbeda pilihan, seluruh peserta akhirnya menerima hasil pemungutan suara dengan damai.
Kini, tantangan ke depan adalah bagaimana kepengurusan baru mampu merangkul seluruh anggota, menjaga marwah organisasi, serta meningkatkan kompetensi dan etika jurnalistik di tengah dinamika media yang terus berkembang. (agusman)













