Meriah! 44 Pasang Pengantin Nikah Massal di Palembang Diarak Naik Odong-Odong

ist

Palembang, bidiksumsel.com – Halaman kantor Wali Kota Palembang pagi itu penuh warna dan gelak tawa. Kamis (2/10/2025), Pemerintah Kota Palembang melepas arak-arakan 44 pasang pengantin yang mengikuti prosesi nikah massal. Tidak seperti biasanya, para pengantin tidak menaiki mobil mewah, melainkan sembilan unit mobil odong-odong yang dihias semarak, mengundang senyum dan tawa warga yang menyaksikan.

Agenda tahunan ini diselenggarakan Pemkot Palembang bekerja sama dengan Pengadilan Agama Kelas I Palembang. Kehadiran marching band yang mengiringi pelepasan pasangan pengantin membuat suasana semakin meriah, bak sebuah pesta rakyat.

Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, menegaskan bahwa nikah massal bukan hanya sebuah seremoni, melainkan wujud nyata kepedulian Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, kepada masyarakat.

“Dengan mendapatkan buku nikah, pasangan-pasangan ini memperoleh kepastian hukum. Pernikahan mereka kini sah dan diakui negara,” ujar Aprizal dalam sambutannya.

Menurut Aprizal, program nikah massal akan terus digelar setiap tahun sebagai bentuk pelayanan pemerintah terhadap masyarakat, terutama bagi pasangan yang selama ini terkendala biaya atau belum sempat mengurus pencatatan resmi pernikahan.

Hal senada disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, M. Ichsanul Akmal. Ia menjelaskan, dari 44 pasangan, 43 di antaranya merupakan pasangan lama yang sudah bertahun-tahun hidup bersama tanpa buku nikah, sementara satu pasangan merupakan pengantin baru yang langsung menikah di acara ini.

“Banyak pasangan suami-istri yang belum memiliki buku nikah. Padahal, dokumen ini sangat penting untuk keperluan administrasi keluarga, mulai dari pengurusan hak anak hingga warisan,” terang Ichsanul.

Prosesi pelepasan pengantin berlangsung penuh suka cita. Ratusan warga berkerumun di pelataran kantor Wali Kota untuk menyaksikan iring-iringan unik tersebut. Para pengantin tampak sumringah, meski sebagian ada yang terlihat malu-malu menaiki odong-odong berhiaskan lampu warna-warni dan ornamen kartun yang biasanya digunakan anak-anak.

Tujuan arak-arakan adalah Hotel Swarna Dwipa, tempat para pasangan melangsungkan resepsi pernikahan bersama. Sepanjang jalan, sorak sorai dan lambaian tangan warga menambah nuansa kebersamaan, seakan perayaan ini bukan hanya milik pengantin, tetapi juga seluruh warga Palembang.

Lebih dari sekadar perayaan, nikah massal ini mengandung makna mendalam. Ia menjadi jalan keluar bagi pasangan yang selama ini “tertahan” dalam status tidak resmi di mata hukum. Dengan buku nikah di tangan, mereka kini memiliki dasar kuat untuk mengurus administrasi keluarga, sekaligus melindungi hak-hak anak dan istri.

Program ini juga menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah, lembaga peradilan, dan masyarakat. Semua pihak bekerja sama menghadirkan solusi nyata bagi warga yang membutuhkan, dengan cara yang meriah sekaligus bermartabat.

Di tengah hiruk pikuk arak-arakan, seorang pengantin pria paruh baya terlihat tak kuasa menahan haru. “Alhamdulillah, setelah 20 tahun akhirnya kami resmi tercatat negara. Anak-anak kami sekarang bisa merasa lebih tenang,” ujarnya singkat dengan mata berkaca-kaca.

Dengan berakhirnya arak-arakan menuju lokasi resepsi, acara nikah massal tahun ini meninggalkan kesan mendalam : bahwa pernikahan bukan hanya perayaan cinta, tetapi juga soal kepastian hukum, perlindungan keluarga, dan kebahagiaan yang diakui negara. (rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *