“Bawa Oleh” Tawarkan Solusi Digital UMKM Palembang, Ini Dukungan Pemkot!

fhoto : ist

“Bawa Oleh”, Aplikasi Karya Anak Palembang yang Siap Lawan Dominasi Marketplace Nasional

Palembang, bidiksumsel.com – Di tengah dominasi platform e-commerce besar seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada, sekelompok anak muda kreatif dari Palembang hadir membawa alternatif segar yang mengakar dari kearifan lokal. Mereka menamakan aplikasinya “Bawa Oleh”, sebuah marketplace digital yang dirancang untuk menjadi rumah bagi produk-produk UMKM dan oleh-oleh khas Palembang.

Langkah ini tak berjalan sendiri. Pemerintah Kota Palembang menyatakan dukungan penuh terhadap aplikasi tersebut. Wakil Walikota Palembang, Prima Salam, dalam pertemuannya bersama tim pengembang aplikasi pada Jumat, 18 Juli 2025, menyebut bahwa Pemkot siap membantu dari sisi fasilitas, promosi, hingga integrasi program-program pemerintah.

“Ini karya anak bangsa, mereka ingin agar platform ini bisa digunakan secara luas di Palembang. Nama aplikasinya ‘Bawa Oleh’, semacam marketplace untuk oleh-oleh atau produk UMKM khas daerah dan akan kita dukung,” ujar Prima Salam.

Lebih dari Sekadar Aplikasi

“Bawa Oleh” bukan sekadar platform jual-beli online. Ia hadir dengan semangat untuk membuka jalan digitalisasi bagi UMKM tradisional yang selama ini terseok di antara gempuran teknologi dan persaingan pasar yang tidak seimbang.

Di balik aplikasi ini, tersimpan kisah perjuangan pengembang lokal yang prihatin melihat banyak produk khas Palembang tak mampu menembus pasar nasional hanya karena tidak memiliki media pemasaran yang kuat. Dalam sebuah wawancara singkat, salah satu pengembang aplikasi menyebut :

“Kami ingin produk pempek, songket, kerupuk, hingga kopi Palembang punya tempat di ponsel masyarakat Indonesia. Tapi bukan dengan sistem yang memberatkan pelaku UMKM, seperti yang terjadi di platform besar.”

Aplikasi ini dirancang dengan antarmuka yang sederhana, ramah pengguna, dan sangat disesuaikan dengan kebutuhan pelaku UMKM kecil: dari kemudahan mengunggah produk, pengaturan stok, hingga sistem pembayaran yang fleksibel.

Tantangan : Lawan Gajah Digital

Prima Salam tak menampik bahwa “Bawa Oleh” memiliki tantangan besar di depan mata. Ketika aplikasi seperti Shopee dan Tokopedia memiliki miliaran dana promosi dan sistem logistik yang solid, “Bawa Oleh” masih dalam tahap validasi produk dan pendataan UMKM.

Namun, justru di sinilah letak harapan. “Bawa Oleh” membawa nilai lebih yang tidak bisa dibeli : rasa memiliki dari masyarakat Palembang sendiri.

“Kita tahu aplikasi besar punya modal dan jaringan kuat, tapi tetap harus ada ruang bagi yang lokal. Kita akan bantu, mulai dari promosi hingga kolaborasi dengan program pemerintah kota,” ujar Prima.

Pemkot pun menyiapkan dukungan teknis, termasuk kolaborasi dalam kegiatan promosi seperti event Swarna Songket pada 1 Agustus dan peringatan HUT RI ke-80 pada 17 Agustus mendatang. Di acara-acara tersebut, “Bawa Oleh” akan diperkenalkan secara resmi sebagai platform UMKM lokal pertama yang didukung pemerintah kota.

UMKM Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Etalase Digital

Dukungan terhadap “Bawa Oleh” bukan hanya soal teknologi, tapi tentang membangun ekosistem yang berkelanjutan. UMKM bukan hanya butuh tempat jualan digital, tapi juga pendampingan, pelatihan foto produk, manajemen stok, hingga literasi keuangan.

Prima Salam menambahkan bahwa pihaknya tengah menjajaki kerja sama antara Dinas Koperasi dan UMKM, Diskominfo, dan Dinas Perdagangan agar dapat menyediakan bimbingan teknis terpadu kepada pelaku UMKM yang ingin bergabung di “Bawa Oleh”.

“Kalau kita serius, ini bisa jadi awal bangkitnya ekonomi lokal yang mandiri,” pungkasnya.

Masyarakat menyambut baik inisiatif ini. Banyak yang merasa, produk lokal sering kalah bukan karena kualitas, tapi karena tidak punya akses ke kanal digital. Kehadiran “Bawa Oleh” membuka peluang untuk membalik narasi tersebut.

Namun pekerjaan rumah masih banyak : dari peningkatan kualitas server aplikasi, uji coba keamanan data pengguna, pengembangan aplikasi iOS, hingga urusan logistik dan pembayaran digital yang terintegrasi.

Jika semua pihak bersinergi pemerintah, pengembang, pelaku UMKM, dan masyarakat bukan tidak mungkin Palembang punya marketplace lokal yang tak kalah dari pemain nasional.

Karena sejatinya, kemajuan daerah bukan soal seberapa banyak investor yang datang, tapi seberapa besar keberanian warganya menciptakan solusi dari tanah sendiri. (rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *