Semarak Pawai Obor di Palembang : Ribuan Obor Terangi Langit Malam Tahun Baru Islam

fhoto : ist

“Cahaya Obor dan Suara Rabana : Ketika Ratu Dewa Kembali ke Masa Kecil di Sukamulya”

Palembang, bidiksumsel.com – Langit malam di Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Sematang Borang, berbeda dari biasanya. Udara hangat khas Palembang terasa lebih hidup. Di antara kilau lampu jalanan dan hiruk pikuk warga, ratusan obor menyala serempak menggeliat dalam arakan semangat menyambut 1 Muharram 1447 Hijriah.

Tepat di depan Masjid Miftahul Jannah, sorak takbir menggema, bersahut-sahutan dengan alunan rabana dan nasyid. Di antara warga yang bersorak riang, tampak Wali Kota Palembang Ratu Dewa berdiri dengan senyum lebar. Malam itu, bukan sekadar perayaan. Ia sedang mengenang masa kecilnya.

“Saya terakhir ikut pawai obor waktu masih SMP dan saat kuliah. Melihat malam ini, rasanya seperti pulang ke masa kecil tahun 70-an,” ucap Ratu Dewa di hadapan warga, matanya berbinar haru. Kamis malam, 26 Juni 2025.

Obor Bukan Sekadar Simbol

Obor yang diarak malam itu bukan sekadar api di atas bambu. Di mata warga Sukamulya, obor adalah simbol cahaya hijrah, harapan baru, dan kekuatan kebersamaan. Warga dari anak-anak hingga orang tua turut serta dalam pawai, berjalan kaki bersama, menyusuri jalan-jalan kecil kampung mereka dengan tawa, nyanyian, dan semangat Islami.

Pawai ini bukan event musiman. Bagi sebagian warga, terutama anak-anak, ini adalah pengalaman pertama mereka menyambut Tahun Baru Islam dengan cara yang bermakna dan menyenangkan.

“Kegiatan ini sangat mendidik anak-anak kita di tengah zaman kemajuan teknologi. Melalui nasyid, rabana, dan pawai, mereka belajar tentang tradisi, iman, dan kebersamaan,” ujar Ratu Dewa.

Kegiatan Islami Kembali Hidup

Rangkaian acara malam itu bukan hanya pawai obor. Ada penampilan grup nasyid, pembacaan doa awal tahun, dan tausiyah ringan yang dibawakan oleh tokoh agama setempat. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan keagamaan di Palembang masih sangat hidup bahkan di tengah tantangan era digital.

Di tengah pidatonya, Ratu Dewa pun menyampaikan undangan terbuka kepada seluruh warga kota Palembang untuk hadir dalam tausiyah akbar bersama Ustadz Abdul Somad (UAS). Kegiatan tersebut akan menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun Kota Palembang ke-1342 yang jatuh bersamaan dengan awal Tahun Baru Islam.

“Tahun Baru Islam ini adalah momentum penting. Mari kita jadikan ini sebagai titik awal memperkuat ukhuwah baik Islamiyah, Wathaniyah, maupun Basyariyah,” tegasnya.

Sukamulya malam itu adalah miniatur dari Palembang yang Madani. Ratu Dewa menekankan bahwa Pemkot Palembang akan terus mendukung kegiatan keagamaan dan pembinaan umat, karena itu bagian dari pembangunan karakter masyarakat.

“Kami ingin Palembang tumbuh bukan hanya secara fisik, tapi juga secara spiritual dan budaya. Kota ini harus menjadi tempat yang sejahtera lahir dan batin, serta berakhlak mulia,” tegasnya.

Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam kegiatan seperti ini, lanjut Ratu Dewa, adalah cermin sinergi yang harus terus dibangun demi Palembang yang lebih baik.

Saat obor terakhir padam dan warga mulai membubarkan diri, cahaya dari malam itu masih terasa hangat. Bukan karena api, tapi karena rasa memiliki dan semangat bersama. Pawai obor 1 Muharram 1447 H bukan hanya tradisi, tapi kompas moral di tengah kehidupan kota yang makin modern.

Dan dari bibir Ratu Dewa, harapan itu terus menyala: “Palembang yang religius, berbudaya, dan beradab dimulai dari hal sederhana. Dari obor yang kecil, akan tumbuh cahaya besar.”

Apakah tahun baru ini akan menjadi titik balik bagi kota Palembang dan generasi mudanya?

Waktu akan menjawab. Tapi malam itu, warga Sukamulya sudah lebih dulu menyalakan jawabannya di ujung obor yang mereka bawa bersama. (rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *