Mahasiswa Unsri Gelar Festival Anti Rokok di Kambang Iwak, Ribuan Pelajar Akan Turut Ambil Bagian!

fhoto : ist

Festival Fesbok : Nafas Baru Generasi Muda Palembang Melawan Asap Rokok

Palembang, bidiksumsel.com – Langit cerah Kambang Iwak Palembang pada 18 Mei 2025 mendatang akan menjadi saksi sebuah pergerakan yang tak hanya simbolis, namun sarat makna. Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day) yang jatuh setiap 31 Mei, mahasiswa dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sriwijaya (Unsri), Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Promosi Kesehatan, tengah mempersiapkan sebuah festival bertajuk Festival Bebas Asap Rokok (Fesbok).

Bukan sekadar kegiatan rutin akademik, Fesbok adalah suara lantang dari generasi muda yang ingin menjadikan ruang publik kembali menjadi tempat yang aman dan sehat, bebas dari paparan asap rokok. Ketua Pelaksana Fesbok, M. Jadid, dalam audiensi bersama Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, menyampaikan harapan besarnya agar kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah kota.

“Kami memohon dukungan dan support dari Pemerintah Kota Palembang agar kegiatan ini berjalan lancar dan dapat memberikan dampak yang luas, tidak hanya bagi mahasiswa, tapi juga masyarakat umum dan pelajar SMP serta SMA di kota ini,” ungkap Jadid, penuh semangat.

Bukan Sekadar Seruan, Ini Aksi Nyata

Fesbok tak sekadar ajang seremonial. Festival ini akan menghadirkan berbagai kegiatan interaktif dan edukatif, mulai dari talkshow bertema kesehatan, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pameran media edukatif yang merupakan karya mahasiswa FKM Unsri. Semua elemen tersebut dirancang agar dapat menggugah kesadaran masyarakat dari berbagai latar belakang usia, terutama generasi muda yang kerap menjadi sasaran industri rokok.

“Kami ingin mengajak semua pihak, terutama anak muda, untuk sadar bahwa rokok bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga lingkungan sekitar. Apalagi di ruang terbuka seperti Kambang Iwak yang menjadi tempat rekreasi keluarga,” jelas Jadid.

Lebih dari sekadar acara sehari, Fesbok diharapkan bisa menjadi tonggak lahirnya duta-duta muda anti rokok dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Para pelajar ini bukan hanya diundang untuk datang, melainkan dilibatkan sebagai bagian dari solusi. Mereka akan menjadi agen perubahan yang bisa membawa semangat bebas asap rokok ke lingkungan sekolah, rumah, dan pertemanan mereka.

“Kami ingin para pelajar ini tidak hanya menjadi peserta pasif, tapi bisa menjadi penyambung suara dan agen perubahan di lingkungannya masing-masing,” imbuhnya. “Jangan sampai mereka tergoda untuk coba-coba merokok, justru harus jadi pelopor untuk tidak merokok.”

Pemerintah Kota Palembang Mendukung Penuh

Respon positif datang dari Pemerintah Kota Palembang. Sekda Palembang, Aprizal Hasyim, memberikan apresiasi dan dukungan terhadap kegiatan yang dinilai selaras dengan visi kota sehat dan ramah keluarga.

“Kami mendukung penuh Festival Bebas Asap Rokok ini. Harapannya, masyarakat Palembang makin sadar dan peduli terhadap kesehatan bersama. Apalagi Kambang Iwak adalah ruang publik yang seharusnya bebas dari asap rokok,” katanya.

Aprizal juga menegaskan bahwa inisiatif seperti ini harus terus mendapat tempat di ruang kebijakan publik. Menurutnya, peran mahasiswa dan generasi muda dalam kampanye kesehatan masyarakat sangat vital, karena mereka memiliki kreativitas dan semangat untuk mendorong perubahan sosial.

Melalui Festival Bebas Asap Rokok, mahasiswa FKM Unsri menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten dan terorganisir. Ketika kesadaran akan bahaya rokok dikemas secara menarik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, pesan yang dibawa akan lebih kuat terasa.

Kambang Iwak, yang biasanya dipenuhi tawa keluarga, olahraga pagi, dan riuh anak-anak bermain, akan menjadi tempat refleksi kolektif bahwa udara bersih adalah hak semua orang. Bahwa ruang publik harus menjadi tempat nyaman, bukan ladang asap rokok.

Fesbok bukan sekadar festival. Ia adalah suara perlawanan terhadap budaya merokok yang masih dianggap wajar di ruang publik. Sebuah gerakan dari bawah yang layak mendapat dukungan dari atas. Dan lebih dari itu, ia adalah panggilan bagi kita semua untuk hidup lebih sehat, lebih sadar, dan lebih peduli. (rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *