Dari Reruntuhan Harapan, Ramlan Bangkit Lagi : Kisah Pekerja Alat Berat yang Kini Bisa Melangkah Kembali
Palembang, bidiksumsel.com – Di sebuah rumah sederhana di Jalan Kop. KKo Harun Said, RT.13 RW.07, Kelurahan Sungai Buah, Kecamatan Ilir Timur II, seorang pria duduk di kursi plastik, mengenakan baju kaos lusuh dan celana training longgar. Wajahnya penuh senyum meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Ramlan Isman, seorang operator alat berat, perlahan mencoba bangkit dari keterpurukan setelah musibah yang mengubah hidupnya.
Beberapa bulan lalu, kaki kanannya tertimpa alat berat saat bekerja di lokasi proyek. Kecelakaan itu membuatnya tak bisa berjalan seperti biasa. Ia hanya bisa duduk, bergantung pada istri dan anak-anak untuk aktivitas sehari-hari. Tak bisa lagi bekerja, tak bisa lagi menjadi tulang punggung keluarga.
Namun, Rabu (14/5/2025), pagi itu berbeda. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ada cahaya harapan yang datang ke rumah Ramlan. Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, datang langsung menjenguknya, membawa serta rombongan dari dinas terkait.
Dewi Sastrani: “Jangan Sungkan, Lapor Jika Butuh Bantuan”
Tidak datang dengan tangan kosong, istri Wali Kota Palembang itu menyerahkan langsung bantuan alat bantu pergelangan kaki-lutut kepada Ramlan. Sebuah alat sederhana, namun bermakna besar bagi seorang kepala keluarga yang selama ini kehilangan fungsi tubuh pentingnya.
“Bagi warga yang mengalami kecelakaan kerja hingga tidak bisa mencari nafkah, jangan ragu untuk melapor ke RT, Lurah, Dinas Sosial, ataupun Baznas. Pemkot Palembang siap membantu,” tegas Dewi Sastrani saat menyerahkan bantuan.
Dewi menyampaikan bahwa peran serta masyarakat, terutama para Ketua RT dan Lurah, sangat penting dalam pendataan warga yang benar-benar membutuhkan bantuan. Ramlan adalah contoh nyata dari bagaimana sinergi antara laporan warga dan respons cepat pemerintah dapat menyelamatkan masa depan satu keluarga.
Ramlan: “Alhamdulillah, Saya Bisa Jalan Lagi…”
Ramlan tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Dengan mata berbinar dan suara sedikit bergetar, ia mencoba berdiri dengan alat bantu yang baru saja ia terima. Perlahan, kakinya yang selama ini tak bisa menopang tubuh, kini mulai bergerak lagi.
“Alhamdulillah, saya sangat terbantu dengan alat ini. Sekarang saya bisa kembali belajar berjalan seperti biasa,” ujarnya sambil tersenyum haru.
Bagi Ramlan, alat bantu itu bukan sekadar besi dan sabuk penyangga. Ia adalah simbol harapan, alat untuk menghidupkan kembali martabatnya sebagai pencari nafkah, sebagai ayah, dan sebagai manusia.
Apa yang dialami Ramlan bukan kasus satu-satunya. Banyak pekerja informal di Palembang dan wilayah lainnya yang tidak tercover asuransi kecelakaan kerja, hidup dari upah harian, dan langsung jatuh miskin jika tertimpa musibah.
Inilah mengapa, menurut Dewi Sastrani, penting bagi pemerintah dan lembaga sosial untuk hadir dalam kehidupan masyarakat, terlebih mereka yang terluka dalam diam, yang membutuhkan tapi tak tahu harus ke mana meminta tolong.
Kini, setelah menerima bantuan itu, Ramlan punya satu tujuan: bangkit kembali dan memberi nafkah bagi istri dan ketiga anaknya. Meski belum bisa kembali ke pekerjaan lamanya, semangatnya untuk pulih dan mandiri telah menyala kembali.
Kisah Ramlan Isman adalah potret kecil dari ribuan cerita perjuangan rakyat biasa di kota besar. Namun dari rumah kecil di Sungai Buah ini, Palembang menunjukkan bahwa birokrasi bisa berjalan cepat, dan kemanusiaan masih menjadi kompas utama dalam pelayanan publik. (rd)












