Tirta Musi dan PMI Palembang Bersatu Demi Hidup yang Terselamatkan
Palembang, bidiksumsel.com – Di balik aktivitas pelayanan air bersih yang menjadi denyut kehidupan warga Palembang, ada semangat kemanusiaan baru yang kini menyebar di tubuh Perumda Tirta Musi. Bukan soal pipa atau tekanan air, tapi tentang darah cairan kehidupan yang kini begitu langka namun sangat dibutuhkan.
Senin pagi itu, suasana di kantor pusat Tirta Musi tampak berbeda. Bukan antrean pelanggan atau rapat mingguan, melainkan deretan kursi donor darah yang diisi satu per satu oleh pegawai. Mereka datang bukan karena perintah, tetapi karena dorongan hati.
Inilah buah dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang dan Perumda Tirta Musi, sebuah langkah strategis yang berangkat dari keprihatinan bersama atas krisis stok darah yang sudah terlalu lama membayangi rumah-rumah sakit di Palembang.
Darah yang Tak Pernah Cukup
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang turut menyambut kerja sama ini, bicara lantang soal urgensinya.
“Stok darah kita per bulan hanya 3.000 sampai 4.000 kantong. Padahal idealnya, Palembang harus punya setidaknya 7.000 kantong darah tiap bulan,” ujarnya.
Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah harapan hidup bagi mereka yang membutuhkan transfusi: pasien kecelakaan, ibu melahirkan, penderita thalassemia, hingga pasien operasi. Kekurangan darah berarti ancaman nyawa.
Tirta Musi Jadi Pelopor
Di tengah situasi itulah, Tirta Musi melangkah lebih dahulu. BUMD ini tercatat sebagai institusi pertama yang meresmikan kerja sama donor darah berkelanjutan dengan PMI Kota Palembang.
“Kami sangat bangga. Sebanyak 150 pegawai sudah berdonor dalam gelombang pertama ini. Ini bukan hanya angka, tapi bentuk nyata kepedulian,” kata Direktur Tirta Musi, Andi Wijaya Adani.
Baginya, kegiatan ini bukan sekadar aksi CSR, melainkan wujud tanggung jawab sosial yang harus terus dipupuk. Tak hanya menyelamatkan nyawa, donor darah menurutnya juga mempererat solidaritas antarkaryawan.
“Kami berharap kegiatan ini berlanjut dan menular ke BUMD lain, bahkan sampai ke masyarakat luas,” tambah Andi.
PMI : Dari Pegawai Menuju Masyarakat
Ketua PMI Palembang, Dewi Sastrani, menyambut antusias kerja sama ini. Ia menegaskan bahwa PMI tak pernah mengenakan biaya atas darah yang diberikan kepada pasien.
“Ini murni kemanusiaan. Tak ada pungutan apa pun. Kami ingin masyarakat tahu bahwa donor darah adalah tanggung jawab bersama,” tegas Dewi.
Dengan rujukan dari hampir semua rumah sakit di Palembang, PMI memikul beban besar untuk menjaga pasokan darah termasuk jenis yang paling sulit didapat seperti golongan darah AB.
Oleh karena itu, ia berharap sinergi dengan Tirta Musi menjadi awal dari gerakan yang lebih luas. BUMD lain, OPD, hingga komunitas masyarakat diharapkan mengikuti langkah ini, sehingga target 7.000 kantong darah bukan lagi mimpi.
PMI juga aktif mengedukasi publik agar tak lagi takut berdonor. Banyak mitos berkembang: darah akan berkurang drastis, badan jadi lemas, hingga anggapan bahwa donor hanya untuk yang muda dan sehat sepenuhnya. Semua itu perlahan diluruskan.
“Kami terbuka untuk siapa saja. Tidak harus tunggu event. Datang saja ke unit transfusi darah PMI,” kata Dewi.
Di akhir kegiatan, seorang pegawai Tirta Musi tampak tersenyum kecil sembari menggenggam perban kecil di lengannya. Ia mungkin tak tahu siapa yang akan menerima darahnya, tapi ia tahu satu hal: ia telah memberi kesempatan hidup bagi seseorang di luar sana.
Dan dari sinilah semua dimulai—dari setetes darah, dari secercah niat baik, dari satu langkah kecil yang kini jadi gerakan besar. (dkd)












