Dari SMP dan SMA ke Panggung Nasional : Perjalanan 3 Atlet Wingchun Palembang yang Bikin Bangga!

fhoto : bidiksumsel.com/dkd

Tiga Pendekar Muda Palembang Menuju FORNAS VIII : Perpaduan Disiplin, Tradisi, dan Harapan

Palembang, bidiksumsel.com – Suara semangat dan harapan membuncah dari sudut Kota Palembang. Bukan dari stadion megah atau gelanggang olahraga modern, melainkan dari ruang latihan sederhana tempat tiga pendekar muda mengasah teknik, memupuk keberanian, dan mempersiapkan diri menyongsong tantangan besar : Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) VIII Tahun 2025 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Jumat, 25 Juli 2025.

Mereka adalah Ni Made Daevika Ishana Anindya (SMP Xaverius 1), Stevano Gathan (SMA Kusuma Bangsa), dan Ni Putu Ayu Pracalita (SMA Xaverius 1) tiga remaja yang bukan hanya mewakili Palembang, tapi juga membawa harapan banyak orang terhadap kelestarian seni bela diri tradisional : Wingchun.

Didikan Disiplin dari Perguruan Teratai Putih

Di bawah arahan Sifu William Hendri, ketiganya digembleng dengan disiplin tinggi dalam naungan Perguruan Teratai Putih, salah satu perguruan Wingchun yang telah melahirkan banyak generasi petarung berkarakter. Tak hanya menanamkan teknik bertarung jarak dekat yang menjadi ciri khas Wingchun, Sifu William juga menekankan pentingnya filosofi bela diri : pengendalian diri, kehormatan, dan kebajikan.

“Mereka bukan hanya belajar memukul atau menangkis. Tapi belajar menjadi pribadi yang utuh. FORNAS adalah ujian karakter, bukan sekadar skill,” ujar Sifu William dalam satu sesi latihan tertutup.

Wingchun : Tradisi yang Kembali Bergema

Wingchun memang bukan hal baru di Palembang. Sejak Shifu Suhaimi memperkenalkan seni ini lewat Perguruan Harimau Besi, bela diri asal Tiongkok ini menjalar ke berbagai lapisan masyarakat. Berakar dari filosofi perlawanan perempuan tangguh melawan penindasan, Wingchun berkembang menjadi salah satu bentuk olahraga rekreasi yang sarat nilai budaya dan spiritualitas.

Sejak tahun 2019, Palembang tak pernah absen mengirimkan atlet Wingchun ke ajang FORNAS. Dan tahun ini, giliran generasi baru yang mengambil tongkat estafet.

Dukungan Penuh dari Pemerintah Kota dan Swasta

Menyadari potensi besar olahraga tradisional ini, Wakil Walikota Palembang H. Prima Salam hadir langsung melepas kontingen Wingchun Palembang bersama 18 Induk Organisasi Olahraga (INORGA) lainnya. Dalam pidatonya, Prima mengungkapkan rasa bangga kepada para atlet muda yang akan berlaga di kancah nasional.

“Ini bukan sekadar kompetisi. Ini adalah perjalanan budaya dan semangat kebangsaan. Kami bangga dan akan terus mendukung kalian, tak hanya secara moral tapi juga logistik,” tegasnya.

Komitmen ini bukan sebatas retorika. Bantuan nyata datang dari perusahaan tambang milik negara, PT Bukit Asam, yang turut membantu biaya pendaftaran kontingen Wingchun Palembang ke FORNAS. Bantuan ini menjadi penyemangat tersendiri bagi para atlet, pelatih, hingga pengurus cabang olahraga.

Lebih dari Sekadar Medali

Helena S.Y., Ketua Aliansi Kungfu Tradisional Indonesia (AKTI) Palembang, mengungkapkan bahwa FORNAS adalah lebih dari kompetisi. “Ini adalah momentum untuk membangun jati diri dan rasa cinta terhadap budaya. Anak-anak ini adalah simbol harapan dan penjaga warisan leluhur,” katanya dengan penuh kebanggaan.

Ia juga menekankan bahwa capaian bukan semata dihitung dari medali yang diraih, melainkan dari nilai-nilai yang ditanamkan dan dampak yang ditularkan ke lingkungan sekitar.

Optimisme Menyala dari Generasi Penerus

Ketiga atlet muda ini membawa tekad besar. Bagi Daevika, bela diri bukan hanya hobi, tapi cara untuk menemukan kekuatan dari dalam. “Saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa kuat, bisa disiplin, dan bisa jadi inspirasi,” ucapnya.

Stevano pun tak kalah bersemangat. Ia mengaku menemukan banyak pelajaran hidup dari latihan Wingchun. “Kita dilatih untuk fokus, sabar, dan selalu siaga. Itu penting, tidak hanya di arena tanding, tapi dalam hidup,” ujarnya.

Sedangkan Ayu, yang telah menekuni bela diri sejak SD, menilai ajang ini sebagai titik awal untuk berkontribusi bagi kota kelahirannya. “Saya ingin Palembang dikenal bukan hanya karena makanan atau sejarah, tapi juga dari semangat olahraganya,” katanya mantap.

Menuju Panggung Nasional dengan Doa dan Disiplin

Perjalanan mereka bukan tanpa tantangan. Tapi dengan latihan keras, dukungan keluarga, komunitas, dan pemerintah, serta keyakinan pada nilai-nilai bela diri, ketiganya siap menorehkan sejarah.

Mereka berangkat bukan hanya membawa nama Palembang, tapi juga harapan agar olahraga tradisional tetap hidup, dihargai, dan dibanggakan oleh generasi muda.

Dan ketika panggung FORNAS VIII dibuka, tiga pendekar muda ini akan tampil bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai duta budaya, disiplin, dan harapan baru Indonesia. (dkd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *