Inflasi Sumsel Naik Tipis Jadi 2,44% : Ekonomi Tetap Stabil, Ini Data, Komoditas Pemicu, dan Jurus Pengendaliannya
Palembang, bidiksumsel.com – Kondisi ekonomi Provinsi Sumatera Selatan pada bulan Juni 2025 tetap menunjukkan stabilitas yang positif, meskipun terdapat kenaikan tipis laju inflasi secara bulanan maupun tahunan. Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Selatan, inflasi Sumsel naik 0,08% (mtm) dibanding bulan sebelumnya yang sempat mencatatkan deflasi sebesar -0,35% (mtm).
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Sumsel naik menjadi 2,44% dari posisi 2,33% pada Mei 2025. Namun angka ini masih berada dalam rentang target nasional, yakni 2,5 ± 1%, yang berarti laju harga barang dan jasa masih dianggap terkendali oleh otoritas moneter.
Data Inflasi Nasional dan Regional Juni 2025 :
| Wilayah | Inflasi YoY Mei 2025 | Inflasi YoY Juni 2025 |
|---|---|---|
| Nasional | 1,60% | 1,87% |
| Sumatera Selatan | 2,33% | 2,44% |
| Kota Palembang | 2,49% | 2,59% |
| Lahat & Lubuklinggau | Data belum dirilis | Mengikuti tren serupa |
“Kenaikan inflasi Sumsel masih dalam batas aman. Ini menunjukkan kondisi pasokan dan permintaan masih seimbang meskipun terdapat tekanan dari beberapa komoditas,” kata Bambang Pramono, Kepala Perwakilan BI Sumsel, Rabu (2/7/2025).
Komoditas Penyumbang Inflasi Terbesar (Juni 2025, mtm)
| Komoditas | Kenaikan (%) |
|---|---|
| Beras | +0,08% |
| Daging ayam ras | +0,06% |
| Emas perhiasan | +0,05% |
| Cabai rawit | +0,03% |
| Telur ayam ras | +0,03% |
- Beras menjadi penyumbang inflasi tertinggi akibat transisi dari musim panen ke masa tanam, menyebabkan pasokan menurun.
- Daging ayam ras terdongkrak oleh tingginya permintaan serta naiknya biaya pakan dan HPP ayam hidup.
- Emas perhiasan terdampak fluktuasi global akibat geopolitik Timur Tengah dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS.
- Cabai rawit dan telur ayam ras terpengaruh oleh distribusi terganggu dan kenaikan permintaan musiman.
Strategi Pengendalian Inflasi : Jurus 4K Diterapkan TPID Sumsel
Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Bank Indonesia Sumsel menerapkan strategi 4K :
– Ketersediaan Pasokan
- Operasi pasar murah di berbagai titik.
- Menjajaki Kerjasama Antar Daerah (KAD) dengan Subang, Karawang, dan Sumatera Barat untuk suplai beras, bawang, cabai.
– Keterjangkauan Harga
- Menjaga margin pedagang agar tetap rasional.
- Mengendalikan harga di pasar tradisional dan ritel modern.
– Kelancaran Distribusi
- Subsidi biaya angkut dari Bank Indonesia, BUMN, BUMD, perbankan, dan swasta.
- Mitigasi gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem.
– Komunikasi Efektif
- Publikasi data inflasi melalui media.
- Capacity building untuk stakeholder dan edukasi masyarakat.
Program Ketahanan Pangan : GSMP dan GNPIP
Untuk memperkuat ketahanan pangan sebagai solusi jangka panjang, BI dan TPID Sumsel menjalankan dua program andalan :
GSMP (Gerakan Sumsel Mandiri Pangan)
- GSMP Menyala: menjangkau 68 dasawisma, 1.020 rumah tangga, dan 17 Kelompok Wanita Tani (KWT).
- GSMP Panti Sosial: memberdayakan 10 panti sosial untuk budidaya tanaman pangan seperti cabai, bayam, dan sayuran lokal lainnya.
GNPIP (Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan)
- Edukasi petani dan konsumen.
- Digitalisasi distribusi pangan.
- Dukungan inovasi pertanian berkelanjutan.
BI memperkirakan panen raya padi yang akan terjadi antara Agustus–Oktober 2025 menjadi momentum penting untuk meredam tekanan inflasi, khususnya pada komoditas beras.
“Kami terus perkuat koordinasi lintas sektor agar inflasi tetap berada di jalur sasaran dan tidak mengganggu daya beli masyarakat,” tutup Bambang Pramono. (dkd)













